Tawarkan Kupon Menarik, Obligasi Bank Jateng Bisa Jadi Pilihan Fund Manager

Obligasi merupakan salah satu instrumen investasi yang menawarkan keuntungan sehingga menjadi pilihan bagi para investornya, khususnya para institusi keuangan. Pada umumnya para pelaku pasar institusi seperti dana pensiun (dapen), asuransi, maupun manajer investasi yang mempunyai profil moderat cenderung mengalokasikan lebih dari 50 persen dari dana kelolaan untuk diinvestasikan di obligasi.

Selain obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah, di pasar banyak terdapat pilihan obligasi korporasi yang menawarkan karakter berbeda. Dalam hal ini, para pelaku pasar pada umumnya akan mempertimbangkan beberapa hal dalam mengambil keputusan untuk membeli suatu obligasi, baik itu dari segi kupon, yield, rating, durasi, hingga jatuh tempo.

Para fund manager pun perlu mengetahui seberapa jauh obligasi korporasi tertentu dapat menjadi salah satu sumber keuntungan dari portofolio mereka.

Satu obligasi korporasi yang patut dipertimbangkan adalah Obligasi Subordinasi I Bank Jateng dengan kode perdagangan obligasi BJTG01SB. Surat utang dengan nilai nominal sebesar Rp500 miliar tersebut diterbitkan oleh PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (BPD) Jateng pada 21 Desember 2015.

Sebagai catatan, obligasi subordinasi ini ditawarkan dengan tingkat bunga tetap (fixed) sebesar 12,25 persen per tahun dengan jatuh tempo tujuh tahun atau akan jatuh tempo pada tanggal 18 Desember 2022. Adapun pembayaran bunga dilakukan setiap tiga bulan atau kuartalan.

Terkait rating, obligasi milik Bank Jateng ini mempunyai peringkat A- (single A minus) dari PT Pemeringkatan Efek Indonesia (Pefindo). Sekedar informasi, obligasi subordinasi memiliki risiko yang lebih tinggi, sehingga memiliki peringkat kredit yang lebih rendah daripada obligasi senior.

Obligasi subordinasi merupakan obligasi yang memiliki peringkat prioritas lebih rendah dibanding obligasi lainnya. Pemegang obligasi yang pembayarannya diutamakan adalah mereka yang memiliki tanggal penerbitan paling awal dibanding yang lainnya, sehingga disebut obligasi senior. Setelah obligasi tersebut dilunasi, obligasi subordinasi lainnya pun dilakukan.

Obligasi subordinasi keluaran Bank Jateng ini memiliki kupon yang paling tinggi bila dibandingkan dengan obligasi subordinasi bertenor sama dari bank pembangunan daerah (BPD) lainnya, yakni Bank Nagari, Bank Sumut dan Bank DKI.

Menariknya, kupon yang dibagikan secara kuartalan ini pun sifatnya tetap (fixed) sehingga para fund manager tidak perlu khawatir apabila Bank Indonesia memutuskan untuk menurunkan suku bunga pada tahun 2016, mengingat kupon yang dibagikan kepada investor tidak menurun.

Selain sifatnya yang fixed, keistimewaan lainnya ialah obligasi ini dimiliki oleh BPD sehingga apabila kemungkinan terburuk seperti bank tersebut default sewaktu-waktu, para pelaku pasar meyakini Jawa Tengah melalui anggaran daerah (APBD) mampu menutupi jumlah nilai nominal nya sebesar Rp 500 miliar pada saat jatuh tempo 2022 mendatang.

Berkaitan dengan kinerja penerbit obligasi ini, mari kita lihat dari laporan keuangan Bank Jateng. Mengacu pada laporan keuangan emiten, hingga Februari 2017, Bank Jateng tercatat membukukan laba bersih Rp210 miliar atau menurun 7,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp228 miliar. Penurunan laba ini dikarenakan adanya peningkatan pemulihan atas cadangan kerugian penurunan nilai yang naik 268,4 persen persen menjadi Rp60,8 miliar.

Meski secara laba bersih Bank Jateng menunjukkan penurunan, obligasi ini masih jadi favorit para pelaku pasar. Seperti ditunjukkan dengan grafik di atas, pasca emiten membayar kewajibannya di kuartal I pada 23 Maret 2017, BJTG01SB terlihat masih diperdagangkan di level 107,42 atau 7,42 persen di atas harga par-nya pada 24 Maret 2017. (hm)