Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia mengindikasikan peningkatan pertumbuhan penjualan eceran pada Maret 2018

  • Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia mengindikasikan peningkatan pertumbuhan penjualan eceran pada Maret 2018, didukung oleh kelompok Suku Cadang dan Aksesori serta kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang tumbuh 2,5% (yoy), meningkat dari 1,5% (yoy) pada bulan sebelumnya. Peningkatan penjualan eceran pada periode laporan didorong oleh penjualan kelompok Suku Cadang dan Aksesori yang tumbuh 11,0% (yoy), meningkat dari 9,5% (yoy) pada bulan sebelumnya, serta ditopang oleh peningkatan penjualan eceran kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau yang tumbuh 6,8% (yoy), meningkat dari 4,9% (yoy) pada bulan Februari 2018. Penjualan eceran diperkirakan terus meningkat pada April 2018 yang tercermin pada IPR yang tumbuh 3,4% (yoy) dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Perkiraan peningkatan kinerja penjualan terutama bersumber dari penjualan komoditas Suku Cadang dan Aksesori yang tumbuh 12,3% (yoy) dan sub kelompok Sandang sebesar 12,1% (yoy). Hasil Survei juga mengindikasikan adanya peningkatan tekanan kenaikan harga di tingkat pedagang eceran dalam tiga bulan mendatang (Juni 2018), sejalan dengan faktor musiman Ramadhan dan Idul Fitri. Indikasi tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) 3 bulan menjadi 169,0 dari 164,0 pada bulan sebelumnya.
  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2018 tetap kuat didukung permintaan domestik. Pertumbuhan PDB triwulan I 2018 tercatat 5,06% (yoy), ditopang permintaan domestik termasuk inventori yang tumbuh 6,07% (yoy), meningkat dari pertumbuhan inventori pada triwulan IV 2017 sebesar 5,94% (yoy). Sementara itu, permintaan domestik tanpa memperhitungkan inventori, tumbuh 5,86% (yoy), meningkat dari pertumbuhan pada triwulan IV 2017 sebesar 5,62% (yoy). Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2018 merupakan capaian tertinggi di pola musiman triwulan I sejak tahun 2015. Permintaan domestik yang meningkat pada triwulan I 2018 didukung oleh investasi yang naik dan konsumsi swasta yang tetap kuat. Investasi tumbuh tinggi sebesar 7,95% (yoy), meningkat dari pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 7,27% (yoy), sehingga merupakan capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir. Pertumbuhan investasi terutama didorong investasi nonbangunan yang tumbuh sebesar 13,56% (yoy) sejalan dengan berlanjutnya akselerasi investasi untuk mendukung proses produksi. Investasi bangunan masih tumbuh tinggi sebesar 6,16% (yoy) didorong oleh proyek infrastruktur Pemerintah. Konsumsi swasta terutama didorong oleh meningkatnya belanja terkait penyelenggaraan Pilkada. Kuatnya permintaan domestik kemudian mendorong pertumbuhan impor yang cukup tinggi yakni 12,75% (yoy), khususnya bersumber dari impor barang modal dan bahan baku. Sementara itu, ekspor tetap tumbuh kuat yakni sebesar 6,17% (yoy), meskipun melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya. Dari sisi lapangan usaha (LU), pertumbuhan ekonomi triwulan I 2018 ditopang struktur pertumbuhan yang lebih merata dengan kontribusi utama dari LU Industri Pengolahan, LU Perdagangan, LU Informasi dan Komunikasi, LU Pertanian serta LU Transportasi dan Pergudangan. Pertumbuhan industri pengolahan membaik dari 4,46% (yoy) pada triwulan IV 2017 menjadi 4,50% (yoy) dengan dorongan permintaan ekspor dan domestik termasuk dalam mengantisipasi permintaan musiman menjelang seasonal Secara spasial, perbaikan kinerja ekonomi terjadi di wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara serta Maluku dan Papua. Bank Indonesia memprakirakan pemulihan ekonomi Indonesia terus berlanjut terutama ditopang investasi yang tumbuh tinggi. Prakiraan ini ditopang oleh daya saing dan iklim investasi yang membaik, stabilitas makroekonomi yang terjaga, serta belanja pemerintah dan belanja lembaga nonprofit rumah tangga yang tetap kuat. Pemulihan ekonomi juga didukung oleh struktur lapangan usaha yang membaik sehingga menjadi landasan berlanjutnya proses pemulihan ekonomi ke depan.
  • Bank Indonesia menerbitkan penyempurnaan ketentuan Uang Elektronik untuk mendukung perkembangan ekonomi Indonesia di era digital. Penyempurnaan ketentuan tersebut dituangkan dalam PBI No.20/6/PBI/2018 tentang Uang Elektronik yang sekaligus mencabut PBI No.11/12/PBI/2009 tentang Uang Elektronik beserta perubahannya. Penyempurnaan ketentuan Uang Elektronik (UE) dimaksudkan untuk menata kembali industri Uang Elektronik agar penyelenggaraan Uang Elektronik sejalan dengan prinsip penataan industri sistem pembayaran oleh Bank Indonesia yakni untuk meningkatkan kontribusi kepada pertumbuhan, inklusivitas dan stabilitas perekonomian. Di samping itu, penguatan PBI UE tidak terlepas dari upaya Bank Indonesia untuk menyelaraskan kebijakan UE dengan perkembangan teknologi, inovasi dan model bisnis UE. Terdapat 3 (tiga) aspek penyelenggaraan UE yang diperkuat. Pertama, penguatan aspek kelembagaan yang meliputi pengaturan meliputi : 1) modal disetor minimum untuk memastikan kondisi keuangan penyelenggara yang baik sehingga mampu memberikan manfaat yang optimal bagi perekonomian Indonesia; 2) komposisi kepemilikan saham penerbit yang mengatur paling kurang 51% harus dimiliki oleh domestik untuk meningkatkan ketahanan dan daya saing industri UE nasional; 3) pengelompokan ijin penyelenggaraan UE yaitu kelompok penyelenggara front end dan penyelenggara back end yang bertujuan agar penyelenggara benar-benar fokus pada jenis kegiatan yang akan diselenggarakan; dan 4) kepemilikan tunggal calon pemegang saham UE untuk peningkatan tata kelola dan menjaga persaingan usaha yang sehat dalam industri UE. Penguatan dilakukan pula pada aspek manajemen yaitu proses seleksi calon Penerbit UE dan kapabilitas manajemen. Proses seleksi calon Penerbit UE dilakukan dengan sejumlah penambahan persyaratan, antara lain kelayakan bisnis dan operasional yang lebih komprehensif. Hal ini untuk memastikan bahwa penyelenggaraan UE dapat dilakukan secara berkelanjutan dan membawa manfaat optimal bagi perekonomian Indonesia. Penguatan pada aspek peningkatan kapabilitas dan peran aktif manajemen melalui penambahan persyaratan rekam jejak kualifikasi Direksi, dan kewajiban bagi sebagian besar Direksi untuk berdomisili di Indonesia. Pengaturan ini ditujukan untuk memastikan kecukupan kapasitas dan kredibilitas penerbit serta sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam menggunakan UE. Kedua, penguatan dilakukan terhadap aspek perlindungan konsumen melalui penataan struktur biaya dan mekanisme pengelolaan floating fund yang lebih transparan dan akuntabel, dengan tetap mengedepankan mitigasi risiko likuiditas dan insolvensi. Penyelenggaraan UE juga akan menjadi obyek pengawasan terintegrasi oleh Bank Indonesia, yaitu Bank Indonesia dapat melakukan pengawasan terhadap kelompok usaha penyelenggara baik secara langsung maupun langsung untuk memastikan penyelenggaraan UE secara berhati-hati. Ketiga, penguatan dilakukan melalui peningkatan keamanan dan akseptansi UE melalui kewajiban peningkatan standar keamanan transaksi dan kewajiban pemrosesan transaksi secara domestik guna mendorong terciptanya ekosistem yang saling terhubung sejalan dengan implementasi Gerbang Pembayaran Nasional (GPN). Selain itu, limit UE unregistered ditingkatkan agar dapat mengakomodir perkembangan kebutuhan pengguna, khususnya pada sektor transportasi dan jalan tol. Melalui langkah-langkah penguatan dimaksud, integritas dan keamanan nasional serta resiliensi sistem keuangan nasional diharapkan akan tetap terjaga, tanpa menghambat laju inovasi dan perkembangan industri UE yang dinamis. Sebagai otoritas yang berwenang di bidang Sistem Pembayaran, Bank Indonesia senantiasa memantau perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia termasuk UE guna memastikan industri UE dapat memberikan manfaat seluas-luasnya bagi perekonomian Indonesia.
  • Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih mengalami pelemahan. Rupiah pagi ini makin terjebak di level Rp14.000 per USD. Melansir Bloomberg Dollar Index, Selasa (8/5/2018) pukul 08.49, Rupiah pada perdagangan spot exchange melemah 18 poin atau 0,13% ke level Rp14.019 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp14.004 per USD-Rp14.021 per USD. Sementara Yahoofinance mencatat, Rupiah melemah 20 poin atau 0,14% menjadi Rp14.015 per USD. Dalam pantauan Yahoofinance, Rupiah berada dalam rentang Rp13.993 per USD hingga Rp14.020 per USD. Hari ini dolar AS menguat terhadap mata uang utama lainnya karena para investor masih mempertimbangkan data pekerjaan terbaru dari negara tersebut. Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, meningkat 0,21% menjadi 92,759 pada akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi USD1,1924 dari USD1,1960 di sesi sebelumnya, dan pound Inggris meningkat menjadi USD1,3560 dari USD1,3542 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi USD0,7518 dari USD0,7537. Dolar AS dibeli 109,08 yen Jepang, lebih rendah dari 109,12 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS meningkat menjadi 1,0028 franc Swiss dari 1,0007 franc Swiss, dan meningkat menjadi 1,2869 dolar Kanada dari 1,2853 dolar Kanada. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan, tingkat pengangguran AS turun menjadi 3,9% pada April setelah datar di 4,1% selama enam bulan berturut-turut. Ini menandai tingkat pengangguran terendah sejak Desember 2000, dengan lapangan pekerjaan non-pertanian meningkat sebesar 164.000 bulan lalu, menurut departemen tersebut.
  • Pada perdagangan Senin, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup di level 241,3421 atau turun –0,28%. Indeks return obligasi negara (INDOBeXG-Total Return) juga turun sebesar –0,31% ke level 238,0022. Senada dengan ICBI dan return government bond, INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) turun sebesar –0,07% ke level 255,2439. Kurva yield IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) berpola bearish dengan rata-rata yield tenor 1-30tahun naik +4,41bps. Rata-rata yield kelompok tenor pendek (<5tahun) naik paling besar yakni +6,33bps. Sementara itu yield tenor menengah (5-7tahun) dan panjang (>7tahun) masing-masing naik sebesar +3,45bps dan +4,20bps. Dengan demikian INDOBeXG-Effective Yield kemarin ditutup naik sebesar +0,0600poin ke level 7,0596. Harga seri SUN acuan terkoreksi dengan rata-rata turun sebesar –75,81bps. Harga seri FR0075 terkoreksi paling besar yakni –100,53bps sedangkan harga FR0063 turun paling rendah yakni –37,77bps. Seluruh harga seluruh seri FR dan ORI juga terkoreksi dengan rata-rata turun sebesar –31,07bps. Dengan demikian, INDOBeXG-Clean Price kemarin juga melemah sebesar –0,4392poin ke level 115,3930. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder terlihat meningkat dari sisi total frekuensi yakni +24,17% dari 513 kali menjadi 637 kali. Sementara total volume turun sebesar –3,89% dari Rp18,28tn menjadi Rp17,57tn. Penurunan nilai volume perdagangan lebih dipicu oleh obligasi negara tenor panjang dimana volumenya turun Rp2,42tn dalam sehari perdagangan. Untuk transaksi SBN, total volume terbesar tercatat sebesar Rp2,72tn oleh seri FR0069. Namun seri teraktif dicatatkan seri FR0075 sebanyak 143 kali. Untuk obligasi korporasi, total volume terbesar diraih seri BBRI01BCN3 senilai Rp230miliar. Sedangkan yang teraktif diraih oleh seri TRAC01ACN1 dengan 19 transaksi. Performa pasar obligasi Indonesia ditutup melemah pada hari pertama perdagangan Senin kemarin. Kondisi tersebut terlihat dari seluruh harga FR & ORI (43 seri) yang kompak terkoreksi dari rentang –0,30bps hingga –100,54bps sehingga turut berdampak pada kenaikan imbal hasil obligasi negara pada seluruh tenornya dan penurunan indeks return. Melemahnya kinerja pasar Senin kemarin diperkirakan karena respon negatif investor terhadap rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dibawah estimasi konsensus yakni sebesar 5,06%yoy dan dari nilai Rupiah terhadap USD yang pada perdagangan kemarin telah menyentuh level Rp14.000/US$. Berbagai sentimen tersebut meningkatkan ekspektasi risiko global terhadap pasar domestik yang tercermin dari kenaikan CDS-Indonesia tenor 5-tahun sebesar +5,06bps ke level 122,38bps. Kinerja pasar obligasi domestik berpeluang masih tertahan di zona merah. Pelaku pasar diperkirakan masih melakukan risk-averse akibat terus terdepresiasinya nilai Rupiah yang bahkan sudah menyentuh level Rp14.001/US$ penutupan kemarin. Bahkan pada pagi ini Rupiah kembali dibuka melemah ke level Rp14.019/US$ (Bloomberg). Investor juga akan wait & see terhadap pidato Gubernur The Fed pada Selasa malam nanti.

EKONOMI GLOBAL

 

  • Australia akan merilis data Retail Sales pada pukul 08.30 WIB dengan estimasi sebesar 0.2% lebih rendah dari data sebelumnya sebesar 0.6% dan disusul oleh China yang juga akan merilis data Trade Balance dengan estimasi sebesar 187B lebih besar dari data sebelumnya sebesar -30B, jika data regional menunjukkan adanya perbaikan dan data China yang mengalami kemajuan maka hal ini akan menjadi katalis positif bagi AUDUSD, mengingat China merupakan mitra dagang terbesar dari Australia. Ketua The Fed Jerome Powell pada pukul 14.15 WIB akan berpidato yang kemungkinan akan membahas kelanjutan dari kebijakan moneter The Fed. Sementara itu dari Inggris, pada pukul 14.30 WIB akan dirilisnya data indeks harga perumahan dengan estimasi sebesar -0.3% lebih rendah dari data sebelumnya 1.5%.

Potensi pergerakan

Emas

Harga emas berpotensi menguat dalam jangka pendek setelah sebelumnya menyentuh level rendah empat bulan, aksi bergain hunting investor berpeluang menopang kenaikan harga emas menguji level resisten di $1320-$1322. Namun jika ekspektasi kenaikan suku bunga kembali mendominasi pasar maka harga berpotensi menguji support di $1309 -$1307.

Minyak

Harga minyak berpeluang menguat di tengah pernyataan Presiden Donald Trump akan mengumumkan kesepakatan nuklir Iran, jika kesepakatan tidak bisa diterima oleh keduanya maka hal ini akan mendorng kenaikan harga minyak menguji level resisten di $71.00- $71.30.

EURUSD

Menurunnya ekspektasi untuk adanya kenaikan suku bunga ECB dalam waktu dekat berpotensi masih membebani EURUSD dalam jangka pendek, berpotensi menguji level support di 1.1910 – 1.1880.

GBPUSD

Adanya sedikit kayakinan investor terhadap kenaikan suku bunga oleh BOE di tengah lemahnya data regional berpotensi membuat GBPUSD menguat dalam jangka pendek menguji level resisten di 1.3600 – 1.3620.

USDJPY

Meningkatnya optimisme pembelian ETF (Exchange Trade Fund) oleh BOJ berpotensi membuat USDJPY bergerak turun dalam jangka pendek berpeluang menguji level support di 108.60 – 108.40.

AUDUSD AUDUSD berpotensi menguat jika data Retail Sales dirilis lebih baik dari perkiraan, selain itu China yang akan merilis data Trade Balance juga akan menjadi katalis positif bagi AUDUSD jika data dirilis lebih baik dari ekspektasi, dalam jangka pendek AUDUSD berpotensi menguji level resisten di 0.7535 – 0.7555.

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.