Survei Konsumen Bank Indonesia pada Januari 2018 Mengindikasikan Keyakinan Konsumen Masih Tetap Berada Pada Level Optimis

EKONOMI DOMESTIK

Perekonomian Indonesia terus menunjukkan kinerja yang membaik. Realisasi pertumbuhan PDB triwulan IV 2017 tercatat 5,19% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan capaian triwulan sebelumnya sebesar 5,06% (yoy). Kinerja PDB pada triwulan IV 2017 tersebut melanjutkan perkembangan positif pertumbuhan ekonomi Indonesia. Untuk keseluruhan tahun 2017, pertumbuhan ekonomi tercatat 5,07% dan merupakan yang tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kinerja ekonomi pada triwulan IV 2017 didukung struktur yang lebih kuat. Kinerja investasi tumbuh tinggi sebesar 7,27% (yoy) pada triwulan IV 2017, didorong kenaikan investasi bangunan sejalan berlanjutnya pembangunan infrastruktur dan tetap tingginya investasi nonbangunan sebagai antisipasi peningkatan permintaan ke depan. Sementara, ekspor tumbuh cukup tinggi sebesar 8,5% (yoy) pada triwulan IV 2017, dipengaruhi dampak positif kenaikan pemulihan ekonomi dunia dan peningkatan harga komoditas. Akselerasi belanja pemerintah juga turut mendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2017. Sementara itu, konsumsi rumah tangga tetap kuat didukung inflasi yang terkendali. Secara keseluruhan, pemulihan ekonomi turut mendorong kenaikan impor khususnya barang modal dan bahan baku untuk mendukung investasi dan proses produksi. Dari sisi lapangan usaha (LU), berlanjutnya pemulihan ekonomi pada triwulan IV 2017 terutama didorong peningkatan kinerja LU Konstruksi, LU Transportasi dan Pergudangan, serta LU Informasi dan Komunikasi. Kinerja sejumlah industri seperti industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian jadi, serta industri logam dasar, terlihat juga mulai meningkat, meskipun secara keseluruhan LU Industri Pengolahan masih belum kuat. Bank Indonesia memperkirakan pemulihan ekonomi Indonesia terus berlanjut. Beberapa perkembangan positif pada triwulan IV 2017, baik dari sisi investasi, ekspor, maupun struktur lapangan usaha, diperkirakan dapat menjadi basis berlanjutnya proses pemulihan ekonomi ke depan. Komitmen Pemerintah untuk terus memperkuat daya saing dan iklim usaha juga mendukung prospek pemulihan ekonomi tersebut. Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi 2018 berada pada kisaran 5,1-5,5%.

Survei Konsumen Bank Indonesia pada Januari 2018 mengindikasikan keyakinan konsumen masih tetap berada pada level optimis. Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari 2018 sebesar 126,1, tidak berbeda signifikan dari 126,4 pada bulan sebelumnya. Tetap terjaganya optimisme konsumen tersebut ditopang terutama oleh kenaikan penghasilan saat ini dan kenaikan ekspektasi penghasilan pada 6 bulan mendatang. Di sisi lain, persepsi konsumen terhadap ketepatan waktu pembelian barang tahan lama dan perkiraan ketersediaan lapangan kerja pada 6 bulan mendatang mengalami penurunan. Hasil Survei juga mengindikasikan perkiraan konsumen akan melemahnya tekanan kenaikan harga pada 3 bulan mendatang (April 2018), tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) 3 bulan mendatang yang turun 2,1 poin menjadi 171,1. Hal tersebut dipengaruhi oleh meredanya kekhawatiran konsumen terhadap kenaikan harga BBM dan tarif listrik, serta perkiraan membaiknya ketersediaan bahan pangan. Meski demikian, pada 6 bulan mendatang (Juli 2018), konsumen memperkirakan adanya peningkatan tekanan kenaikan harga seiring dengan belum lancarnya distribusi barang pasca hari raya Idul Fitri.

Indonesia Composite Bond Index (ICBI) di hari perdagangan Senin terkoreksi sebesar –0,17% ke level 245,8025. Demikian pula dengan obligasi pemerintah (INDOBeXG-Total Return) yang turun sebesar –0,20% ke level 243,0060. Sementara itu kinerja obligasi korporasi (INDOBeXC-Total Return) sanggup menguat +0,05% ke level 255,8518. Kurva IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) dominan bearish dengan rata-rata yield tenor 1-30 tahun naik sebesar +1,86bps. Rata-rata yield SBN tenor menengah (5-7tahun) dan panjang (>7tahun) naik masing-masing sebesar +2,95bps dan +2,50bps. Sedangkan yield tenor pendek (<5tahun) turun sebesar –2,65bps. Dengan demikian INDOBeXG-Effective Yield kemarin ditutup naik sebesar +0,0299poin di level 6,3310. Harga SUN benchmark ditutup melemah pada keempat serinya dengan rata-rata turun –58,57bps. Harga seri FR0075 turun paling besar yakni –86,91bps. Sedangkan penurunan harga terendah dialami FR0063 sebesar –18,88bps. Penurunan harga 4 seri benchmark yang sejalan dengan penurunan mayoritas seri seri SBN tipe FR dan ORI lainnya dengan rata-rata –24,87bps turut mendorong penurunan pada INDOBeXG-Clean Price sebesar –0,27% ke level 120,1157. Aktivitas transaksi obligasi di pasar sekunder Senin lalu menurun dari sisi total volume perdagangan sebesar –15,68% dari Rp14,38tn menjadi Rp12,13tn. Sementara itu total frekuensi naik sebesar +2,05% dari 684 kali menjadi 698 kali. Penurunan volume transaksi pada SUN tenor pendek dan panjang menjadi pemicu turunnya total volume dengan penurunan masing-masing sebesar: tenor pendek Rp1,72tn dan tenor panjang Rp821miliar. Seri FR0064 mencatat total volume terbesar senilai Rp1,66tn (frekuensi 56 kali), sedangkan transaksi teraktif dicatatkan FR0065 sebanyak 119 kali (volume Rp339miliar). Untuk obligasi korporasi, seri teraktif ditransaksikan oleh MFIN02CCN1 sebanyak 7 kali dan total volume terbesar dicatatkan seri ADMF04BCN1 senilai Rp120miliar. Tekanan yang terjadi pada pasar SBN berlanjut hingga sesi kedua perdagangan kemarin. Melemahnya kinerja pasar diperkirakan sebagai akibat dari rilis GDP Indonesia full year 2017 yang tidak sesuai harapan atau bertumbuh ke level 5,07% yoy (konsensus 5,10%yoy). Selain itu penguatan indikator ekonomi AS seperti kenaikan indeks ISM Non-Manufacturing yang dapat memicu kenaikan ekspektasi inflasi AS yang lebih cepat dan penguatan nilai USD terhadap mata uang global turut menjadi faktor negatif di pasar. Pada perdagangan kemarin, Rupiah terdepresiasi sebesar 68poin ke level Rp13.520/US (Bloomberg). Berbagai sentimen tersebut mendorong kenaikan antisipasi risiko investor global terhadap pasar Indonesia yang tercermin dari kenaikan nilai CDS tenor 5-tahun sebesar +2,66bps sepanjang hari kemarin. Pada perdagangan hari ini, kinerja pasar SBN diperkirakan masih tertahan. Seiring masih tingginya antisipasi risiko di pasar khususnya terhadap pergerakan nilai Rupiah yang berada dalam bayang-bayang pelemahan dan belum adanya sentimen positif baru dominan di pasar diperkirakan menjadi faktor penahan kinerja pasar pada perdagangan Selasa ini.

EKONOMI GLOBAL

Keputusan moneter dari Reserve Bank of Australia pada hari ini akan menjadi fokus utama investor setelah perilisan data penjualan retail dan neraca perdagangan Australia yang pesimis, dengan pernyataan terakhir mereka adalah mencemaskan penguatan mata uang Australia yang dapat menganggu prospek pertumbuhan. Untuk tingkat suku bunga, jika mereka masih mempertahankan level saat ini di level 1,50%, AUDUSD berpotensi kembali tertekan. Untuk fokus investor lainnya juga bisa datang dari pidato presiden Bundesbank Jens Weidmann pada pukul 16:00 WIB untuk mengetahui pandangan terbaru bank sentral Jerman serta kejatuhan indeks saham karena kekhawatiran terhadap potensi pengetatan moneter lebih lanjut dari Federal Reserve.

Potensi Pergerakan

Emas 

Harga emas berpeluang untuk menguat terbatas di tengah sentimen meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven dibalik anjloknya pasar ekuitas dengan target resisten terlihat di $1342 dan support di $1332.

Minyak 

Sentimen tingginya produksi AS serta menguatnya dolar AS masih berpotensi menjadi katalis negatif pergerakan harga minyak pada hari ini dengan target support terdekat terlihat di $63.00 sebelum mengincar support kuat di $61.65.

EURUSD 

Pernyataan ECB Draghi semalam yang hawkish berpeluang mendorong kenaikan EURUSD dalam jangka pendek dengan menguji level resisten terdekat 1.2430. Pasangan mata uang ini dapat menguat lebih lanjut jika pidato Presiden Bundesbank berikan pernyataan yang positif, namun jika sebaliknya maka EURUSD dapat bergerak turun untuk menguji level support di 1.2330.

GBPUSD 

Kekhawatiran terhadap dinamika politik di Inggris, ketidakpastian Brexit serta data ekonomi Inggris yang pesimis akhir-akhir ini dapat memicu penurunan GBPUSD dalam jangka pendek untuk membidik level support 1.3900.

USDJPY 

Meningkatnya permintaan aset haven seperti yen karena anjloknya pasar ekuitas dapat memicu penurunan USDJPY dalam jangka pendek dengan target support terdekat terlihat di 108.70 sebelum membidik support kuat di 108.00.

AUDUSD 

Keputusan moneter RBA yang pesimis dapat memicu penurunan lanjutan setelah perilisan data perdagangan dan penjualan retail Australia yang pesimis dengan target support terlihat di 0.7825 – 0.7800. Namun jika mereka berikan keputusan yang hawkish, AUDUSD dapat berbalik menguat untuk menargetkan resisten di 0.7925 – 0.7950.

Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Selasa 06/02/2018 pukul 12.43 WIB:

Source: bloomberg/ afp/ xinhua/ bi/ ojk/ kemenkeu/ bps/ reuters/ antara/ ibpa/ kontan/ bisnis/ wartaekonomi/ investordaily/ bbc/ kompas/ liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.

Leave a Comment