Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan optimisme konsumen yang menguat pada April 2018 dibandingkan dengan periode sebelumnya

  • Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan optimisme konsumen yang menguat pada April 2018 dibandingkan dengan periode sebelumnya. Hal itu tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2018 yang meningkat 0,6 poin dari bulan sebelumnya menjadi 122,2. Peningkatan optimisme konsumen tersebut didorong oleh membaiknya ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan dan terjaganya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini. Kenaikan Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK) terutama ditopang oleh meningkatnya ekspektasi kegiatan dunia usaha 6 bulan yang akan datang. Sementara itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat stabil didukung membaiknya penghasilan konsumen saat ini dan tetap kuatnya pembelian barang tahan lama. Hasil survei juga mengindikasikan menurunnya tekanan harga 3 bulan mendatang (Juli 2018). Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) 3 bulan mendatang sebesar 183,6, lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 184,4. Ekspektasi menurunnya tekanan harga tersebut terutama dipengaruhi oleh kembali normalnya permintaan barang dan jasa pasca Idul Fitri.
  • Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belum mampu meninggalkan level Rp13.900-an. Rupiah pagi ini masih bertahan di level Rp13.950 per USD. Melansir Bloomberg Dollar Index, Kamis (3/5/2018) pukul 08.45, Rupiah pada perdagangan spot exchange melemah 5 poin atau 0,4% ke level Rp13.950 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp13.949 per USD-Rp13.950 per USD. Sementara Yahoofinance mencatat, Rupiah melemah 11 poin atau 0,08% menjadi Rp13.946 per USD. Dalam pantuan Yahoofinance, Rupiah berada dalam rentang Rp13.933 per USD hingga Rp13.950 per USD. Pada perdagangan saham dan valas hari ini, Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan, masih adanya kekhawatiran berlebihan membuat IHSG masih dalam tren penurunannya. Pergerakan sejumlah bursa saham Asia pun juga belum cukup mendukung. Reza mengatakan, kekhawatiran dan kepanikan berlebihan pelaku pasar terhadap potensi pelemahan Rupiah yang mendekati level psikologis Rp14.000 per USD membuat IHSG kembali longsor ke zona merah. Ditambah dengan pergerakan bursa saham Asia yang variatif melemah terimbas pergerakan bursa saham AS yang kembali melemah di mana pelaku pasar lebih memperhatikan proses negosiasi perdagangan antara AS dan Tiongkok dan khawatir tidak adanya titik temu di antara keduanya. “Adanya penguatan USD dan harga minyak mentah dunia dikhawatirkan pelaku pasar mengganggu APBN Indonesia sehingga pelaku pasar lebih memilih keluar pasar,” ujarnya.
  • Pada perdagangan Jumat, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup di level 242,0104 atau naik +0,12%. Indeks return obligasi negara (INDOBeXG-Total Return) juga meningkat sebesar +0,12% ke level 238,7410. Senada dengan ICBI dan return government bond, INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) meningkat sebesar +0,12% ke level 255,4340. Kurva yield IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) berpola bullish dengan rata-rata yield tenor 1-30tahun turun –2,83bps. Rata-rata yield kelompok tenor pendek (<5tahun) turun paling besar yakni –4,40bps. Sementara itu yield tenor menengah (5-7tahun) dan panjang (>7tahun) masing-masing turun sebesar –1,21bps dan –2,76bps. Dengan demikian INDOBeXG-Effective Yield kemarin ditutup turun sebesar –0,0203poin ke level 6,9996. Harga seri SUN acuan bergerak mixed dengan rata-rata turun sebesar –3,82bps. Harga seri FR0064 dan FR0075 naik masing-masing sebesar +14,15bps dan +10,16bps. Sedangkan harga FR0063 dan FR0065 turun masing -masing sebesar –5,05bps dan –34,52bps. Mayoritas harga seluruh seri FR dan ORI cenderung menguat dengan rata -rata naik sebesar +8,35bps. Dengan demikian, INDOBeXG-Clean Price kemarin sanggup ditutup menguat yakni +0,1137poin ke level 115,8322. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder terlihat turun dari sisi total frekuensi yakni –1,16% dari 519 kali men jadi 513 kali. Sementara total volume meningkat +32,63% dari Rp13,79tn menjadi Rp18,28tn. Peningkatan nilai volume perdagangan lebih dipicu oleh obligasi negara tenor panjang dimana volumenya naik Rp5,69tn dalam sehari perdagangan. Untuk transaksi SBN, total volume terbesar tercatat sebesar Rp3,19tn oleh seri FR0069. Namun seri teraktif dicatatkan seri FR0075 sebanyak 70 kali. Untu k obligasi korporasi, total volume terbesar sekaligus teraktif diraih oleh seri BBRI01BCN3 yakni 15 transaksi senilai Rp250mili ar. Pasar obligasi Indonesia ditutup menguat pada perdagangan sesi Jumat kemarin. Seluruh tenor obligasi negara mencatatkan penurunan imbal hasil pada kisaran –0,74bps hingga –5,62bps dan mayoritas harga seri FR serta ORI juga dominan menguat. Kondisi tersebut berimbas pada peningkatan return obligasi konvensional dan syariah. Seiring masih minimnya sentimen, penguatan pasar pada sesi kedua Jumat lalu diperkirakan lebih disebabkan oleh faktor trading investor yang melakukan akumulasi aksi beli karena masih rendahnya harga akibat tren koreksi sejak awal pekan. Pasar tengah menantikan beberapa indikator tenag a kerja AS seperti unemployment rate bulanan dan pertumbuhan tenaga kerja non pertanian yang dirilis Jumat malam. Sebagai informasi, tingkat pengangguran AS periode April turun ke level 3,9% dari sebelumnya di level 4,0%. Untuk pekan kedua bulan Mei ini, pasar akan diwarnai dengan berbagai data domestik yakni GDP Indonesia Q1 -2018 dan cadangan devisa April. Pada perdagangan awal pekan kedua Mei ini, fokus pelaku pasar akan tertuju pada data pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk Q1-2018. Berdasarkan konsensus, GDP Indonesia Q1-2018 diperkirakan tumbuh sebesar 5,18%yoy atau lebih baik dibanding periode yang sama di tahun lalu sebesar 4,94%yoy. Jika rilis tersebut sesuai konsensus atau bahkan lebih baik, maka akan menjadi katalis positif untuk penguatan pasar SBN hari ini. Namun demikian, pasar juga perlu mengantisipasi pergerakan Rupiah yang pada pagi ini dibuka melemah ke level Rp13.949/US$ (Bloomberg).

EKONOMI GLOBAL

  • Data Non Farm Payroll AS yang dirilis di bawah ekspektasi dan berkurangnya data pengangguran, serta pendapatan rata – rata pekerja Amerika Serikat mengalami pelemahan, dipandang sedikit memiliki pengaruh terhadap kenaikan suku bunga AS, namun demikian dollar AS masih bertahan pada level tertinggi empat bulan. Fokus pasar di awal pekan kini tertuju pada data Business Confidence Australia yang dirilis pada pukul 08.30 WIB selain itu Jerman juga akan merilis data Factory Orders pada pukul 13.00 WIB dengan estimasi sebesar 0.5%, lebih besar dari data sebelumnya 0.3%. Zona euro juga akan merilis data Retail PMI pada pukul 15.10 WIB. Potensi Pergerakan

Emas

Harga emas berpotensi menguat dalam jangka pendek di tengah laporan data Amerika Serikat yang menunjukkan adanya pelemahan pada sektor tenaga kerja dan pendapatan untuk menguji level resisten $1323-$1325.

Minyak

Potensi adanya sanksi baru terhadap Iran selaku produsen minyak dan pasokan global yang tetap ketat berpotensi mendorong harga minyak mentah menguat dalam jangka pendek menguji level $71.00 – $71.50. Namun, harga minyak juga berpotensi turun menguji level support di $68.50 jika investor merespon kenaikan jumlah rig dalam laporan Baker Hughes.

EURUSD

Melambatnya pertumbuhan ekononi zona euro membuka peluang terhadap ECB tetap perpandangan dovish terhadap kebijakan moneter mereka, dalam jangka pendek EURUSD berpotensi bergerak menguji level support di area 1.1900.

GBPUSD

Keraguan investor terhadap BOE yang kemungkinan akan mengeluarkan nada jauh dari hawkish seiring data ekonomi Inggris yang masih melemah akhir-akhir ini berpotensi menekan GBPUSD bergerak menguji ke level support di 1.3485.

USDJPY

Dollar yang di pandang masih memiliki potensi menguat dan selera pelaku pasar yang meningkat terhadap aset beresiko berpotensi mendorong kenaikan USDJPY dalam jangka pendek untuk menguji level resisten di level 109.55.

AUDUSD

AUDUSD berpotensi menguat jika data NAB Business Confidence dirilis lebih baik dari ekspektasi, dalam jangka pendek AUDUSD berpotensi menguji level resisten di level 0.7565.

 

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Senin 07/05/2018 pukul 10.13 WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.