Penjualan Eceran Sepanjang Triwulan IV 2017 Tumbuh Meningkat

 EKONOMI DOMESTIK

 

Bank Indonesia menyambut baik hasil asesmen Dana Moneter Internasional (IMF) terhadap perekonomian Indonesia di tahun 2017 yang menilai perekonomian Indonesia terus menunjukkan kinerja yang baik dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil, sekaligus kondisi makroekonomi yang terjaga sehingga risiko sistemik dapat terkendali. Hal tersebut disampaikan Gubernur Bank Indonesia, Agus D.W. Martowardojo, hari ini (07/02), di Jakarta, menanggapi hasil asesmen IMF yang dimuat dalam Laporan Konsultasi Artikel IV untuk Indonesia 2017, atau Indonesia: 2017 Article IV Consultation, yang telah dibahas dalam pertemuan Dewan Direktur (Executive Board) IMF di Washington D.C. pada 10 Januari 2018. IMF dalam asesmennya terhadap Indonesia menyatakan bahwa saat ini Indonesia berada pada posisi yang baik dalam mengatasi berbagai tantangan socio-economy. Lebih lanjut, IMF memperkirakan bahwa dengan skenario reformasi fiskal dan reformasi lainnya pertumbuhan potensial Indonesia dapat mencapai 6,5% di jangka menengah (2022). Para Direktur Eksekutif IMF dalam pertemuan tersebut memuji perekonomian Indonesia dan menyambut baik fokus bauran kebijakan jangka pendek otoritas yang ditujukan untuk mendukung pertumbuhan sekaligus menjaga stabilitas. Dewan Direktur juga memandang positif upaya otoritas yang memfokuskan pengeluaran publik ke sektor-sektor prioritas dan menyambut baik kemajuan investasi infrastruktur di Indonesia. Lebih lanjut, para Direktur Eksekutif IMF menekankan bahwa tahapan reformasi fiskal—struktural yang baik harus menjadi prioritas sehingga bisa dilakukan mobilisasi penghasilan negara untuk mendukung kebutuhan pembiayaan pembangunan lainnya. Ke depan, Dewan Direktur memandang outlook perekonomian Indonesia positif namun menekankan perlunya tetap waspada terhadap berbagai risiko. Pandangan IMF tersebut sejalan dengan hasil asesmen Bank Indonesia yang meyakini bahwa resiliensi perekonomian Indonesia semakin membaik. Inflasi selama 2017 berada pada level yang rendah sebesar 3,61% (yoy) sehingga dalam tiga tahun terakhir secara konsisten inflasi berhasil dikendalikan dalam kisaran sasaran. Inflasi yang terjaga pada level yang rendah dan stabil tersebut memberikan suasana yang kondusif bagi upaya penguatan momentum pemulihan ekonomi domestik. Pertumbuhan ekonomi 2017 mencapai 5,07% ditopang oleh perbaikan investasi infrastruktur oleh pemerintah dan peran investasi swasta. Selain itu, membaiknya resiliensi ditandai oleh neraca transaksi berjalan yang sehat dan aliran masuk modal asing yang tinggi, serta nilai tukar Rupiah yang stabil. Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir 2017 mencapai rekor tertinggi dalam sejarah, yaitu sebesar 130,2 miliar dolar AS. Sejalan dengan hal itu, stabilitas sistem keuangan selama 2017 juga tetap terjaga. Ke depan, pertumbuhan ekonomi di 2018 diperkirakan meningkat pada kisaran 5,1-5,5% dengan inflasi diproyeksikan berada pada kisaran 3,5±1%. Defisit transaksi berjalan diperkirakan tetap terkendali pada kisaran 2-2,5% dari PDB, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi domestik. Bank Indonesia memandang bahwa pencapaian positif tersebut tidak terlepas dari hasil sinergi kebijakan yang telah berjalan baik selama ini. Di sektor fiskal, Pemerintah telah menjalankan reformasi perpajakan dan meningkatkan kualitas pengeluaran anggaran terutama untuk proyek infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. Di sektor riil, Pemerintah telah melakukan upaya-upaya untuk memperbaiki iklim investasi dan merevisi ketentuan terkait investasi infrastruktur guna mendorong percepatan pembangunan proyek-proyek infrastruktur. Sementara itu, Bank Indonesia senantiasa mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Lebih lanjut, Gubernur Bank Indonesia, Agus D.W. Martowardojo menekankan bahwa “Kebijakan makroekonomi yang ditempuh secara konsisten dan terukur oleh Pemerintah dan Bank Indonesia menjadi faktor penopang utama membaiknya kinerja perekonomian nasional. Bank Indonesia memandang bahwa terdapat peluang untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi domestik yang lebih kuat dan berkelanjutan melalui penguatan implementasi reformasi struktural. Oleh karena itu, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi kebijakan bersama Pemerintah untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta mendukung upaya pemerintah untuk melaksanakan reformasi struktural yang menyeluruh.”

Penjualan eceran sepanjang triwulan IV 2017 tumbuh meningkat. Hal ini terindikasi dari rata-rata Indeks Penjualan Riil (IPR) hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) sepanjang triwulan IV 2017 yang tumbuh 1,8% (yoy), meningkat dibandingkan 0,2% (yoy) pada triwulan III 2017. Peningkatan penjualan eceran ini terutama bersumber dari kenaikan penjualan pada kelompok bahan bakar kendaraan bermotor, makanan dan minuman serta sandang. Meski demikian, IPR pada bulan Desember 2017 tumbuh 0,7% (yoy), melambat dari 2,5% (yoy) pada November 2017 terutama karena kontraksi penjualan komoditas perlengkapan rumah tangga, peralatan informasi dan komunikasi, serta suku cadang dan aksesori. Penurunan IPR pada bulan Desember 2017 diperkirakan temporer dan diperkirakan kembali tumbuh membaik sebesar 1,4% (yoy) pada Januari 2018. Hasil Survei juga mengindikasikan peningkatan tekanan kenaikan harga di tingkat pedagang eceran dalam tiga bulan mendatang (Maret 2018). Indikasi tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) 3 bulan dari 152,8 pada bulan sebelumnya menjadi 158,2 pada survei Desember 2017.

Indonesia Composite Bond Index (ICBI) di perdagangan Selasa kemarin ditutup turun sebesar –0,6493poin ke level 245,1532. Kinerja INDOBeXG-Total Return turut ditutup terkoreksi sebesar –0,6911poin ke level 242,3148. Penurunan juga dicatatkan oleh INDOBeXC-Total Return yakni sebesar –0,3329poin ke level 255,5189. Kurva IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) bergerak dengan kenaikan yield. Rata-rata yield kelompok tenor menengah (5-7tahun) naik paling besar yakni +5,41bps. Sedangkan rata-rata yield tenor pendek (<5tahun) dan panjang (>7tahun) naik masing-masing sebesar +4,14bps dan +3,20bps. Sehingga INDOBeXG-Effective Yield mengalami kenaikan sebesar +0,0510poin ke level 6,3820. Harga-harga SUN benchmark didominasi pelemahan dengan rata-rata sebesar –23,57bps. Hanya seri FR0075 yang rebound sebesar +3,75bps. Sedangkan ketiga seri lainnya melemah dalam kisaran penurunan –3,07bps hingga –84,46bps. Seluruh seri SBN seri FR dan ORI turut didominasi pelemahan dengan rata-rata sebesar –29,36bps. Dominasi penurunan harga SBN mendorong turunnya INDOBeXG-Clean Price sebesar –0,3731poin ke level 119,7426. Aktivitas transaksi cukup semarak di hari perdagangan kemarin. Frekuensi transaksi meningkat +17,48% dari 698 transaksi menjadi 820 transaksi. Volume transaksi turut meningkat yakni sebesar +76,28% dari Rp12,13tn menjadi Rp21,38tn. Sedangkan transaksi SUN benchmark hanya meningkat dari sisi frekuensinya yakni sebesar +7,24% dari 304 kali menjadi 326 kali. Namun volume transaksi SUN acuan menurun sebesar –11,45% dari Rp3,92tn menjadi Rp3,47tn. Seri FR0065 ditransaksikan paling aktif dengan frekuensi 157 kali dan volume Rp260miliar. Adapun untuk seri obligasi korporasi teraktif dicatatkan oleh ADHI02CN1 yang ditransaksikan 9 kali dan volume Rp180miliar. Tren negatif masih berlanjut pada perdagangan Sesi Selasa kemarin. Berbagai indikator masih menunjukkan pelemahan seperti turunnya mayoritas harga-harga seri FR & ORI, naiknya imbal hasil seluruh tenor obligasi negara, dan terkoreksinya ketiga indeks return. Penurunan kinerja pasar masih disebabkan oleh sentimen global terkait meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kenaikan ekspektasi inflasi AS yang dapat memicu kenaikan FFR diluar perkiraan. Kenaikan imbal hasil obligasi US treasury pada tenor-tenor 1, 3, 5, 10, dan 30-tahun juga mendorong kenaikan yield pasar SBN. Tidak hanya itu, terus terdepresiasinya Rupiah terhadap USD ke level Rp13.540/US$ (Bloomberg) juga menambah tekanan untuk pasar domestik. Senada dengan pasar obligasi, di pasar saham juga mencatatkan koreksi yang cukup signfikan, tercermin dari penurunan IHSG hingga sebesar –111,13poin ke level 6.478,54. Tekanan pada pasar obligasi domestik di hari Rabu ini berpotensi mereda seiring akan dirilisnya data cadangan devisa Indonesia periode Januari yang diproyeksi meningkat ke level U$130,6B. Jika sesuai konsensus ataupun lebih, rilis data tersebut diharapkan menjadi trigger investor untuk kembali mengakumulasi seri-seri SBN.

EKONOMI GLOBAL

Berbalik menguatnya Wall Street semalam setelah mengalami volatilitas yang hebat berpotensi memicu permintaan terhadap aset beresiko dalam jangka pendek. Namun sebaiknya investor tetap waspada terhadap penguatan dolar karena potensi kenaikan suku bunga AS di bulan Maret walaupun semalam Fed Bullard berikan pernyataan yang dovish dengan mengatakan bahwa dia mendukung suku bunga rendah untuk waktu yang panjang dan memperingatkan bahwa nilai upah belum tentu cocok untuk memprediksi inflasi. Fokus data ekonomi hari ini akan tertuju pada data produksi industri Jerman pukul 14:00 WIB, indeks harga rumah Inggris dari Halifax pukul 15:30 WIB, serta pidato Fed Dudley pukul 20:30 WIB dan cadangan minyak mentah AS pukul 22:30 WIB.

Potensi pergerakan

Emas 

Pulihnya minat terhadap aset beresiko serta sedang tertekannya dolar karena pernyataan Fed Bullard yang pesimis berpotensi topang kenaikan harga emas dalam jangka pendek untuk mengincar resisten di $1330 sebelum membidik resisten kuat di $1335.

Minyak 

Turunnya cadangan minyak mentah dalam laporan API berpotensi untuk menopang kenaikan harga minyak dalam jangka pendek untuk menguji level resisten di $64.30 sebelum mengincar resisten yang lebih tinggi lagi di area $65.40. Fokus investor hari ini akan tertuju pada data cadangan minyak mentah AS pukul 22:30 WIB.

EURUSD 

Pergerakan EURUSD berpotensi untuk menguat dalam jangka pendek karena sentimen sedang melemahnya dolar pasca perilisan data ekonomi dan pidato Fed Bulard yang pesimis semalam dengan target resisten terdekat terlihat di 1.2430. Fokus investor hari ini akak tertuju pad adat produksi industri Jerman yang dirilis pukul 14:00 WIB.

GBPUSD 

Data ekonomi Inggris yang pesimis akhir-akhir ini serta masih ada kekhawatiran terhadap risiko Brexit berpotensi menjadi beban pergerakan GBPUSD pada hari ini dengan fokus investor tertuju pada data indeks harga rumah Inggris pukul 15:30 WIB. Target support terlihat di 1.3900 sementara itu untuk target resisten terdekat berada di 1.4000.

USDJPY 

Meningkatnya permintaan aset beresiko setelah pulihnya indeks saham AS semalam dapat menopang kenaikan USDJPY dalam jangka pendek dengan menguji level resisten berada di 110.00. Untuk target support terlihat di 109.00.

AUDUSD

Data indeks konstruksi yang optimis dirilis pagi ini serta meningkatnya permintaan terhadap aset beresiko berpotensi mendorong kenaikan AUDUSD dalam jangka pendek dengan target resisten terlihat di 0.7920 – 0.7950. Namun jika harga berbalik turun, level support terlihat di 0.7860 – 0.7830.

Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Rabu 07/02/2018 pukul 12.21 WIB:

Source: bloomberg/ afp/ xinhua/ bi/ ojk/ kemenkeu/ bps/ reuters/ antara/ ibpa/ kontan/ bisnis/ wartaekonomi/ investordaily/ bbc/ kompas/ liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.

Leave a Comment