Neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2018 mencatat surplus 1,09 miliar dolar AS

EKONOMI DOMESTIK

  • Neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2018 mencatat surplus 1,09 miliar dolar AS, setelah pada Februari 2018 mengalami defisit 0,05 miliar dolar AS. Surplus tersebut didorong oleh peningkatan surplus neraca perdagangan nonmigas yang melampaui peningkatan defisit neraca perdagangan migas. Dengan perkembangan tersebut, secara kumulatif Januari-Maret 2018, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus 0,28 miliar dolar AS. Surplus neraca perdagangan nonmigas pada Maret 2018 mencapai 2,02 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan dengan surplus bulan sebelumnya yang tercatat 0,79 miliar dolar AS. Peningkatan surplus neraca perdagangan nonmigas tersebut bersumber dari ekspor nonmigas yang meningkat 11,77% (mtm), lebih besar dari peningkatan impor nonmigas yang tumbuh 2,30% (mtm). Peningkatan ekspor nonmigas tersebut disumbang oleh kenaikan ekspor bahan bakar mineral, bijih, kerak, dan abu logam, alas kaki, besi dan baja, serta ikan dan udang. Sementara itu, kenaikan impor nonmigas terutama bersumber dari peningkatan impor barang modal dan bahan baku termasuk mesin dan pesawat mekanik, besi dan baja, perangkat optik, biji-bijian berminyak, dan buah-buahan. Peningkatan impor tersebut tidak terlepas dari kegiatan produksi dan investasi yang terus meningkat sejalan dengan berlanjutnya perbaikan ekonomi domestik. Secara kumulatif Januari-Maret 2018, surplus neraca perdagangan nonmigas tercatat 2,99 miliar dolar AS, lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 6,67 miliar dolar AS. Di sisi lain, defisit neraca perdagangan migas pada Maret 2018 sedikit meningkat seiring dengan kenaikan impor yang terjadi di tengah penurunan ekspor. Defisit neraca perdagangan migas meningkat dari 0,84 miliar dolar AS pada Februari 2018 menjadi 0,92 miliar dolar AS. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh impor migas yang naik 0,03 miliar dolar AS dibandingkan dengan bulan sebelumnya, terutama berupa hasil minyak dan gas. Sementara itu, ekspor migas turun 0,05 miliar dolar AS dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Secara kumulatif Januari-Maret 2018, neraca perdagangan migas mengalami defisit 2,70 miliar dolar AS, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan defisit pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,60 miliar dolar AS. Bank Indonesia memandang bahwa kinerja neraca perdagangan Maret 2018 tetap positif dalam mendukung kinerja transaksi berjalan. Ke depan, Bank Indonesia meyakini kinerja neraca perdagangan akan terus membaik seiring berlanjutnya pemulihan ekonomi dunia dan harga komoditas global yang tetap tinggi. Perkembangan tersebut akan mendukung perbaikan prospek pertumbuhan ekonomi domestik dan kinerja transaksi berjalan.
  • Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir Februari 2018 tumbuh melambat. ULN Indonesia pada akhir Februari 2018 tercatat sebesar 356,2 miliar dolar AS yang terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar 181,4 miliar dolar AS, serta utang swasta sebesar 174,8 miliar dolar AS. ULN Indonesia per akhir Februari 2018 tersebut tumbuh sebesar 9,5% (yoy), melambat dibanding bulan sebelumnya sebesar 10,4% (yoy), disebabkan oleh melambatnya ULN baik sektor pemerintah maupun sektor swasta. Pengelolaan ULN pemerintah sejalan dengan kebijakan fiskal untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kegiatan produktif dan investasi. Hingga akhir Februari 2018, ULN pemerintah tercatat sebesar 177,9 miliar dolar AS yang terdiri dari SBN (SUN dan SBSN/Sukuk Negara) yang dimiliki oleh non-residen sebesar 121,5 miliar dolar AS dan pinjaman kreditur asing sebesar 56,3 miliar dolar AS. ULN Pemerintah pada akhir Februari 2018 tersebut lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, terutama disebabkan oleh penurunan kepemilikan asing pada SBN domestik sebesar 3,0 miliar dolar AS. Sementara itu, biaya ULN Pemerintah semakin rendah seiring dengan meningkatnya kepercayaan investor terhadap Indonesia, yang didukung oleh membaiknya fundamental perekonomian dan peringkat utang Indonesia. Pemanfaatan ULN pemerintah diprioritaskan untuk kegiatan yang sifatnya produktif dan merupakan investasi dalam rangka menunjang pertumbuhan ekonomi, termasuk memperkuat kemampuan membayar ULN tersebut. ULN swasta tumbuh melambat terutama dipengaruhi oleh ULN sektor keuangan. Secara tahunan, pertumbuhan ULN sektor keuangan tercatat 5,1% pada Februari 2018, melambat dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 6,7%. Sementara itu, pertumbuhan ULN sektor industri pengolahan, sektor LGA, dan sektor pertambangan meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Pangsa ULN sektor keuangan, industri pengolahan, listrik, gas, dan air bersih (LGA), serta pertambangan terhadap total ULN swasta mencapai 72,2%, relatif sama dengan pangsa pada periode sebelumnya. Perkembangan ULN total pada Februari 2018 tetap terkendali dengan struktur yang sehat. Hal ini tercermin antara lain dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir Februari 2018 yang tercatat stabil di kisaran 34%. Rasio tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan rata-rata negara peers. Berdasarkan jangka waktu, struktur ULN Indonesia pada akhir Februari 2018 tetap didominasi ULN berjangka panjang yang memiliki pangsa 85,5% dari total ULN. Bank Indonesia berkoordinasi dengan Pemerintah terus memantau perkembangan ULN dari waktu ke waktu untuk mengoptimalkan peran ULN dalam mendukung pembiayaan pembangunan, tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.
  • Hasil Survei Perbankan mengindikasikan pertumbuhan kredit baru pada triwulan I 2018 secara triwulanan (qtq) melambat sesuai dengan pola penyaluran kredit pada awal tahun, namun lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pertumbuhan kredit baru sebesar 75,9% pada triwulan I 2018, lebih rendah dari 94,3% pada triwulan sebelumnya, sejalan dengan masih rendahnya kebutuhan pembiayaan nasabah di awal tahun. Meski demikian, pertumbuhan kredit baru pada triwulan I 2018 tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan SBT pertumbuhan kredit baru triwulan I 2017 yang hanya sebesar 52,9%. Pertumbuhan triwulanan (qtq) kredit baru diperkirakan menguat pada triwulan II 2018 sebagaimana terindikasi dari SBT sebesar 93,1%. Menguatnya pertumbuhan kredit didukung oleh kebijakan penyaluran kredit yang lebih longgar, terutama pada aspek suku bunga kredit yang lebih rendah dan biaya persetujuan kredit yang lebih murah. Penurunan suku bunga kredit diperkirakan terjadi pada kredit modal kerja sebesar 3 bps menjadi 11,78% dan suku bunga kredit konsumsi turun 8 bps menjadi 14,50. Hasil Survei Perbankan juga mengindikasikan tetap kuatnya optimisme terhadap peningkatan pertumbuhan kredit tahun 2018. Optimisme tersebut didukung oleh perkiraan kondisi ekonomi tahun 2018 yang lebih baik dari tahun sebelumnya, penurunan suku bunga kredit, dan penurunan risiko penyaluran kredit. Untuk keseluruhan tahun 2018, pertumbuhan kredit diperkirakan mencapai 11,7% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan kredit tahun 2017 sebesar 8,2% (yoy).
  • Lembaga pemeringkat Moody’s Investor Service (Moody’s) meningkatkan Sovereign Credit Rating (SCR) Republik Indonesia dari Baa3/Outlook Positif menjadi Baa2/Outlook Stabil pada 13 April 2018. Dalam siaran persnya, Moody’s menyatakan faktor kunci yang mendukung keputusan tersebut adalah kerangka kebijakan yang kredibel dan efektif yang dinilai kondusif bagi stabilitas makroekonomi. Peningkatan cadangan devisa dan penerapan kebijakan fiskal dan moneter yang berhati-hati tersebut memperkuat ketahanan dan kapasitas Indonesia dalam menghadapi gejolak eksternal. Di sisi fiskal, Pemerintah dinilai mampu menjaga fiskal defisit di bawah batas 3% sejak diberlakukan pada 2003. Defisit yang dapat dipertahankan di level rendah dan didukung oleh pembiayaan yang bersifat jangka panjang dapat menjaga beban utang tetap rendah sehingga mengurangi kebutuhan dan risiko pembiayaan. Di sisi moneter, Bank Indonesia telah menunjukkan rekam jejak dalam memprioritaskan stabilitas makroekonomi. Penerapan kebijakan nilai tukar fleksibel dan koordinasi kebijakan yang lebih efektif antara Bank Indonesia dengan Pemerintah Pusat dan Daerah dinilai mampu menjaga inflasi di level yang cukup rendah dan stabil. Bank Indonesia juga semakin aktif menggunakan instrumen makroprudensial dalam menghadapi gejolak. Perbaikan posisi eksternal dan bertambahnya cadangan devisa memperkuat ketahanan terhadap potensi gejolak eksternal. Gubernur Bank Indonesia, Agus D.W. Martowardojo, menyatakan,“Dengan perbaikan rating ke level Baa2 oleh Moody’s, kini Indonesia telah diakui oleh empat lembaga rating internasional berada pada satutingkat lebih tinggi dari level Investment Grade Rating tersebut adalah level tertinggi yang pernah dicapai oleh Indonesia dari Moody’s. Pencapaian ini merupakan suatu prestasi besar ditengah masih berlanjutnya ketidakpastian ekonomi global yang mempengaruhi perkembangan ekonomi di kawasan. Hal ini dapat terwujud melalui konsistensi upaya Bank Indonesia bersama dengan Pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Dalam kaitan ini, Bank Indonesia akan terus mewaspadai peningkatan risiko global dan mengoptimalkan bauran kebijakan termasuk kebijakan makroprudensial dan pendalaman pasar keuangan dalam menjaga stabilitas perekonomian yang menjadi landasan utama bagi terciptanya pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan inklusif.” Moody’s sebelumnya memperbaiki outlook SCR Republik Indonesia dari Stable menjadi Positive, sekaligus mengafirmasi rating pada Baa3 (Investment Grade) pada 8 Februari 2017.

EKONOMI GLOBAL

  • Perilisan data inflasi Inggris dan kebijakan moneter Bank of Canada akan menjadi fokus pasar selain pidato dua anggota FOMC menjelang akhir jam perdagangan hari ini. Data inflasi Inggris yang dirilis pukul 15:30 WIB akan menjadi perhatian investor poundsterling di tengah keyakinan pasar bahwa Bank of England akan naikan suku bunganya di bulan Mei. Jika data dirilis lebih baik dari estimasi tentu itu akan semakin mendukung untuk adanya kenaikan suku bunga Inggris di bulan Mei menjadi 0,75%. Sementara itu dari Bank of Canada yang akan merilis kebijakan moneternya pukul 21:00 WIB tentu juga akan menyita perhatian investor loonie di tengah keyakinan mereka saat ini bank sentral Kanada akan bersikap hawkish seiring memudarnya ketidakpastian NAFTA, meningkatnya harga minyak dan inflasi serta kuatnya pasar kerja. Data penting hari ini adalah CPI Inggris pukul 15:30 WIB, BOC Rate Statement pukul 21:00 WIB, Crude Oil Inventories AS pukul 21:30 WIB, pidato anggota FOMC William Dudley dan pidato Gubernur Fed Randal Quarles.

Potensi pergerakan

Emas

Harga emas masih berpotensi berfluktuasi dengan potensi rentang antara $1336 – $1350 seiring pulihnya permintaan terhadap aset beresiko serta investor yang sedang menantikan pemberian sanksi terbaru dari AS ke Iran. Pidato anggota FOMC William Dudley pukul 02:15 WIB dan Gubernur Federal Reserve Randal Quarles akan menjadi fokus investor hari ini.

Minyak

Ketegangan terbaru antara AS dan Iran serta turunnya cadangan minyak mentah AS dalam laporan API berpeluang menopang kenaikan harga minyak dalam jangka pendek untuk menguji resisten di $67.30 – $67.80. Namun harga minyak berpotensi untuk berbalik melemah jika data cadangan minyak mentah AS yang dirilis EIA menunjukkan kenaikan cadangan untuk menguji level support di $66.40 – $65.80.

EURUSD

Perilisan data inflasi zona Euro (salah satu indikator penting European Central Bank) yang dirilis pukul 16:00 WIB akan menjadi perhatian pasar. Jika data masih dipandang pesimis tentu berpeluang mendorong turun EURUSD untuk menguji support terdekat di 1.2330. Namun jika tingkat inflasi dilaporkan meningkat berpeluang dorong kenaikan EURUSD untuk membidik resisten di 1.2410.

GBPUSD

Data inflasi Inggris yang dirilis optimis berpotensi menopang kenaikan GBPUSD pada hari ini di tengah besarnya ekspektasi untuk adanya kenaikan suku bunga Inggris di bulan Mei menjadi 0.75% untuk menguji level resisten di 1.4350. Sebaliknya, jika data dirilis lebih pesimis berpeluang memicu penurunan GBPUSD untuk mengincar support di 1.4220.

USDJPY

USDJPY berpotensi akan bergerak volatile di tengah investor menantikan hasil akhir pertemuan PM Shinzo Abe dan Presiden Trump dengan potensi rentang perdagangan terlihat di antara 106.60 – 107.80.

AUDUSD

Data indeks leading MI Australia yang dirilis lebih rendah dari sebelumnya berpotensi menjadi katalis negatif pergerakan AUDUSD dalam jangka pendek dengan menguji level support di 0.7730. AUDUSD berpeluang untuk berbalik menguat jika sentimen risk apetitite mendominasi pasar untuk menguji resisten di 0.7800.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Rabu 18/04/2018 pukul 12.49 WIB :

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.