Neraca Pembayaran Indonesia (Triwulanan)

EKONOMI DOMESTIK

 

Surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) berlanjut pada triwulan IV 2017 dengan defisit transaksi berjalan yang tetap terkendali. Surplus NPI tercatat USD1,0 miliar, ditopang oleh transaksi modal dan finansial yang mencatat surplus cukup besar, terutama bersumber dari investasi langsung dan investasi portofolio. Sementara itu, defisit transaksi berjalan tetap terkendali dalam batas yang aman. Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir Desember 2017 meningkat menjadi USD130,2 miliar, tertinggi dalam sejarah. Cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri pemerintah selama 8,3 bulan dan berada di atas standar kecukupan internasional. Surplus transaksi modal dan finansial ditopang oleh optimisme terhadap prospek ekonomi domestik dan menariknya imbal hasil keuangan domestik. Surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan IV 2017 tercatat sebesar USD6,5 miliar terutama bersumber dari surplus investasi langsung dan investasi portofolio. Namun, surplus transaksi modal dan finansial tersebut lebih rendah dibandingkan surplus pada triwulan sebelumnya. Lebih rendahnya surplus pada triwulan IV 2017 disebabkan oleh menurunnya surplus investasi langsung, seiring dengan outflow investasi langsung di sektor migas, dan menurunnya surplus investasi portofolio sebagai dampak keluarnya dana asing dari instrumen surat berharga berdenominasi rupiah sehubungan dengan adanya ketidakpastian dari sektor eksternal pada awal triwulan IV 2017. Defisit transaksi berjalan masih terkendali dalam batas yang aman meski mengalami peningkatan dibanding triwulan sebelumnya. Defisit transaksi berjalan triwulan IV 2017 tercatat sebesar USD5,8 miliar (2,2% dari PDB), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar USD4,6 miliar (1,7% dari PDB). Peningkatan defisit tersebut disebabkan oleh penurunan surplus neraca perdagangan barang yang disertai peningkatan defisit neraca jasa. Lebih rendahnya surplus neraca perdagangan barang bersumber dari kenaikan impor, seiring menguatnya kebutuhan domestik untuk investasi dan kegiatan produksi, yang melampaui kenaikan ekspor. Sementara itu, kenaikan defisit neraca jasa terutama disebabkan oleh meningkatnya defisit jasa transportasi sejalan dengan kenaikan impor barang. Untuk keseluruhan tahun, NPI 2017 mencatat surplus yang relatif besar dengan defisit transaksi berjalan yang terus membaik dan terkendali di bawah 2,0% dari PDB. Surplus NPI 2017 tercatat sebesar USD11,6 miliar ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, terutama dalam bentuk investasi langsung dan investasi portofolio, sejalan dengan membaiknya persepsi investor terhadap prospek perekonomian domestik. Sementara itu, defisit transaksi berjalan tahun 2017 tercatat sebesar USD17,3 miliar atau 1,7% dari PDB, lebih rendah dibandingkan defisit tahun sebelumnya yang sebesar 1,8% dari PDB. Perbaikan defisit transaksi berjalan tersebut bersumber dari peningkatan surplus neraca perdagangan nonmigas di tengah meningkatnya impor migas, defisit neraca jasa terkait defisit jasa transportasi, dan neraca pendapatan primer terutama untuk pembayaran repatriasi hasil investasi asing. Perkembangan NPI pada 2017 secara keseluruhan menunjukkan terpeliharanya keseimbangan eksternal perekonomian sehingga turut menopang berlanjutnya stabilitas makroekonomi. Bank Indonesia akan terus mewaspadai perkembangan global, khususnya yang dapat memberikan risiko bagi kinerja neraca pembayaran secara keseluruhan antara lain terkait normalisasi kebijakan moneter di beberapa negara maju, tekanan geopolitik di beberapa kawasan, dan kenaikan harga minyak dunia. Bank Indonesia meyakini kinerja NPI akan semakin baik didukung bauran kebijakan moneter dan makroprudensial, serta penguatan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, khususnya dalam mendorong kelanjutan reformasi struktural.

Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka bergerak mixed. Pelemahan dolar AS nampaknya belum bisa dimaksimalkan oleh Rupiah untuk kembali ke level Rp13.500 per USD. Melansir Bloomberg Dollar Index, Rupiah pada perdagangan spot exchange rate di pasar Asia melemah 6 poin atau 0,04% menjadi Rp13.645 per USD. Adapun pergerakan harian Rupiah, berada di kisaran Rp13.631-Rp13.646 per USD. Sementara Yahoofinance mencatat, Rupiah menguat 17 poin atau 0,12% menjadi Rp13.638 per USD. Dalam catatan Yahoofinance, Rupiah bergerak dalam rentang Rp13.630 per USD hingga Rp13.643 per USD. Sekadar informasi, indeks dolar AS melemah setelah melonjak 1,4% minggu lalu, mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak Desember 2016, karena aksi jual yang masif di pasar ekuitas AS memaksa investor beralih ke mata uang AS untuk melepaskan posisi-posisi mereka. Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,26% menjadi 90,207 pada akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi USD1,2285 dari USD1,2234 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik ke USD1,3830 dari USD1,3806 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia naik menjadi USD0,7845 dari USD0,7790. Dengan tidak adanya data ekonomi utama yang keluar di awal pekan, para investor mengamati secara ketat saham-saham AS, yang terus pulih dari kinerja terburuk mingguan mereka dalam dua tahun. Rebound lanjutan di saham membantu menenangkan kecemasan para investor dan membuat mata uang kurang atraktif.

Mengawali pekan kedua di bulan Februari 2018, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) masih tertahan melemah sebesar –0,01% ke level 245,1969. Pelemahan dipicu oleh kinerja obligasi pemerintah (INDOBeXG-Total Return) yang turun –0,02% ke level 242,3117. Sementara itu, obligasi korporasi (INDOBeXC-Total Return) sanggup naik +0,05% ke level 255,8880. Kenaikan yield mewarnai mayoritas tenor kurva IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) dengan rata-rata naik +0,53bps. Rata-rata yield tenor menengah (5-7tahun) dan panjang (>7tahun) naik masing-masing sebesar +1,00bps dan +0,59bps. Sementara itu rata-rata yield tenor pendek (<5tahun) turun sebesar –0,15bps. INDOBeXG-Effective Yield Senin kemarin masih tertekan yakni naik ke level 6,3923 (+0,0094poin dari penutupan Jumat). Kinerja harga kelompok SUN benchmark juga masih tertahan dengan rata-rata turun –4,85bps pada keempat serinya. Hanya harga seri FR0063 yang menguat +5,20bps sedangkan ketiga seri lainnya terkoreksi di kisaran –2,50bps hingga –13,85bps. Pelemahan harga juga mewarnai mayoritas SBN tipe FR dan ORI kemarin dengan rata-rata sebesar –7,42bps pada ke 43 serinya. INDOBeXG-Clean Price pada sesi end of day kemarin ditutup turun –0,0969poin (-0,08%) di level 119,5938. Pasar sekunder obligasi awal pekan ini relatif sepi. Total frekuensi transaksi turun –20,61% dari 718 kali menjadi 570 kali, dan total volume turun –45,29% dari Rp17,83tn menjadi Rp9,75tn. Untuk aktivitas trading seri-seri SUN benchmark Senin kemarin juga menurun dimana total frekuensinya turun 46 kali (-20,72%) dan total volume turun sebesar Rp281miliar (-8,58%). Seri FR0074 menjadi seri teraktif di pasar dengan mencatatkan total frekuensi terbanyak yakni 63 kali. Sementara seri dengan volume terbesar diraih FR0064 sebesar Rp2,03tn. Untuk obligasi korporasi, seri teraktif dicatatkan oleh obligasi milik Waskita Karya (WSKT03BCN1) dengan total frekuensi 9 kali. Pada sesi perdagangan kedua awal pekan kemarin, pasar obligasi domestik belum mampu menunjukkan penguatan. Kinerja pasar masih tertahan oleh sentimen global dimana para investor masih menahan diri mereka untuk bertransaksi di pasar seiring akan rilisnya inflasi AS pada pertengahan pekan nanti. Sebagaimana diketahui, saat ini penguatan inflasi AS merupakan hal yang paling diperhatikan investor global maupun domestik karena kenaikan inflasi yang lebih cepat akan berpotensi memunculkan ketidakpastian baru yakni terkait kenaikan suku bunga acuan The Fed yang lebih agresif. Selain itu, kenaikan imbal hasil mayoritas tenor obligasi negara diperkirakan juga disebabkan oleh kenaikan yield US Treasury yang terdorong oleh naiknya defisit anggaran pemerintah AS sebagai antisipasi kebijakan pemotongan pajak oleh Presiden Trump. Rupiah pada perdagangan kemarin terus melemah ke level Rp13.639/US$ (Bloomberg). Pada perdagangan hari Selasa ini, pasar SBN diperkirakan masih tertahan dalam tekanan seiring belum adanya sentimen positif penggerak di pasar. Pelaku pasar diperkirakan masih akan wait and see khususnya terhadap rilis inflasi AS dalam 2 hari kedepan. Namun demikian, transaksi pada hari ini diperkirakan akan kembali meningkat seiring pelaksanaan lelang SBN oleh pemerintah dengan melelang 2 seri SPN new issuance dan 3 seri reopening (FR0064, FR0065, FR0075).

EKONOMI GLOBAL

 

Dua anggota pembuat kebijakan moneter Bank of England yang berbicara pada Senin kemarin mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih cepat, meski demikian GBPUSD bergerak dalam rentang yang lebih sempit dari biasanya. Data CPI atau inflasi Inggris hari ini berpeluang meningkatkan volatilitas GBPUSD.

Potensi Pergerakan

Emas

Aksi short covering membuat harga emas menguat Senin kemarin, namun selama tidak menembus resisten terdekat di kisaran 1328, harga emas berpeluang kembali turun dengan target ke 1312.

Minyak Mentah

Meski sempat menguat tajam, namun harga minyak mentah kembali berakhir di bawah level 60.00 pada hari Senin, menjadi indikasi kuatnya sentimen negatif dari meningkatnya produksi minyak mentah di AS. Selama tertahan di bawah 60.00, harga minyak mentah berpeluang turun ke area 58.00.

EURUSD

EURUSD menunjukkan penguatan yang menyakinkan pada hari Senin, jika mampu menembus konsisten di atas level 1.2300 pada hari ini, EURUSD berpeluang besar naik ke 1.2360.

GBPUSD

Isu alotnya negosiasi Brexit masih menjadi penahan kenaikan GBPUSD, jika data CPI pukul 16:30 WIB dirilis lebih rendah dari 2,9%, GBPUSD berpotensi turun ke area 1.3730. resisren terdekat di kisaran 1.3900.

USDJPY

Mulai pulihnya risk appetite pelaku pasar membuka peluang kenaikan USDJPY, selama tidak menembus ke bawah support 108.50, USDJPY berpotensi naik ke area 109.20.

AUDUSD

Data tingkat keyakinan bisnis Australia yang menunjukkan peningkatan membuka peluang kenaikan AUDUSD dengan target ke 0.7910. Support terdekat di kisaran 0.7835.

Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Selasa 13/02/2018 pukul 10.32 WIB:

Source: bloomberg/ afp/ xinhua/ bi/ ojk/ kemenkeu/ bps/ reuters/ antara/ ibpa/ kontan/ bisnis/ wartaekonomi/ investordaily/ bbc/ kompas/ liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.

Leave a Comment