Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh melambat pada Maret 2018

  • Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh melambat pada Maret 2018. Posisi M2 tercatat Rp5.394,9 triliun pada Maret 2018 atau tumbuh 7,5% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tumbuh 8,3% (yoy). Perlambatan pertumbuhan M2 terjadi pada seluruh komponen uang beredar. Komponen uang kuasi tercatat tumbuh 6,2% (yoy), melambat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tumbuh 6,7% (yoy). Komponen M1 (uang beredar dalam arti sempit) tercatat tumbuh 11,9% (yoy), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 13,0% (yoy). Komponen lainnya berupa surat berharga selain saham juga tercatat mengalami perlambatan pertumbuhan. Berdasarkan faktor yang memengaruhi, perlambatan pertumbuhan M2 dipengaruhi oleh operasi keuangan pemerintah dan aktiva luar negeri bersih. Pertumbuhan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) tercatat 5,9% (yoy) pada Maret 2018, turun dari 10,1% (yoy) pada bulan sebelumnya. Hal ini didorong oleh peningkatan simpanan pempus terkait akhir periode laporan pajak dan penerimaan dari penerbitan sukuk global. Di sisi lain, aktiva luar negeri bersih pada Maret 2018 tumbuh sebesar 9,3% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 13,6% (yoy). Namun, perlambatan pertumbuhan M2 tertahan oleh penyaluran kredit perbankan pada Maret 2018 yang tumbuh sebesar 8,5% (yoy) atau tercatat Rp4.768,8 triliun, lebih tinggi dibandingkan dengan bulan Februari 2018 yang tumbuh 8,2% (yoy). Suku bunga kredit dan simpanan berjangka kembali turun sejalan dengan berlanjutnya transmisi penurunan suku bunga kebijakan Bank Indonesia. Pada Maret 2018, rata-rata tertimbang suku bunga kredit perbankan tercatat 11,18% atau turun 9 basis poin dari bulan sebelumnya. Sementara itu, suku bunga simpanan berjangka dengan tenor 3, 6, dan 12 bulan pada Maret 2018 masing-masing tercatat 5,88%, 6,29%, dan 6,46%, turun dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 5,97%, 6,40%, dan 6,56%.
  • Sistem keuangan dalam kondisi stabil dan terkendali pada Triwulan I 2018, walaupun tekanan pada pasar keuangan mengalami peningkatan menjelang akhir bulan April 2018. Sistem keuangan yang stabil dan terkendali tersebut ditopang oleh fundamental ekonomi yang kuat, kinerja lembaga keuangan yang membaik, serta kinerja emiten di pasar modal yang stabil. Demikian kesimpulan rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) berdasarkan penilaian terhadap perkembangan moneter, fiskal, makroprudensial, sistem pembayaran, pasar modal, pasar Surat Berharga Negara (SBN), perbankan, lembaga keuangan nonbank dan penjaminan simpanan. Rapat berkala KSSK tersebut dilaksanakan pada hari Senin, 30 April 2018 bertempat di Otoritas Jasa Keuangan. Terkait dengan tekanan pada nilai tukar rupiah yang terjadi di bulan April 2018, perlu ditegaskan bahwa hal ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal berupa penguatan mata uang dolar Amerika Serikat terhadap hampir semua mata uang dunia. Penguatan dolar AS tersebut didorong oleh berlanjutnya kenaikan yield US Treasury (suku bunga obligasi negara AS) hingga mencapai 3,03% (tertinggi sejak tahun 2013) dan potensi kenaikan Fed Funds Rate lebih dari 3 (tiga) kali. Dari sisi domestik, pada bulan April 2018 terjadi kenaikan permintaan valas sesuai pola tahunan. Namun demikian, depresiasi rupiah secara umum masih terjaga dan lebih rendah dibandingkan dengan depresiasi sejumlah mata uang negara emerging maupun negara maju. Terkelolanya kurs rupiah didukung oleh upaya stabilisasi untuk mengurangi volatilitas baik di pasar valas maupun pasar SBN. Sementara itu, fundamental ekonomi pada triwulan I 2018 tetap kuat tercermin dari antara lain: (i) tingkat inflasi yang terjaga sesuai target inflasi 2018 sebesar 3,5±1%, (ii) kondisi APBN yang terus terjaga dengan defisit anggaran dan defisit keseimbangan primer APBN yang jauh lebih kecil dibandingkan triwulan I tahun 2017, dimana realisasi penerimaan PPN tumbuh sebesar 15,03% dan penerimaan PPh Non Migas tumbuh sebesar 20,12% tanpa Tax Amnesty, (iii) momentum pertumbuhan ekonomi terus berlanjut dengan konsumsi, investasi dan ekspor yang masih terus terjaga. Pertumbuhan ekonomi diharapkan tetap terjaga sesuai target pertumbuhan ekonomi tahun 2018 sebesar 5,4%. Dan (iv) defisit transaksi berjalan di bawah batas aman 3% dari PDB dengan ditopang oleh neraca perdagangan yang surplus. Di samping itu, ketahanan sektor eksternal juga terjaga tercermin dari posisi cadangan devisa sebesar 126 miliar dolar AS pada akhir triwulan I 2018. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,9 bulan impor atau 7,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor. Kinerja lembaga keuangan membaik tercermin antara lain dari pertumbuhan penyaluran kredit perbankan yang berangsur pulih serta likuiditas yang masih memadai. Kemampuan bank untuk menyerap risiko terjaga dengan baik, tercermin pada rasio CAR yang menunjukkan permodalan yang kuat sebesar 22,67%. Di sisi lain, cadangan penjaminan LPS baik terhadap total simpanan maupun simpanan yang dijamin secara konsisten menunjukkan tren pertumbuhan. Risiko kredit terpantau terkendali di bawah ambang batas aman (threshold) seiring dengan langkah konsolidasi kredit oleh perbankan. Sedangkan pada industri keuangan non-bank, permodalan perusahaan asuransi dan pembiayaan terjaga pada level yang cukup baik. KSSK akan terus mencermati sejumlah risiko yang dapat memengaruhi stabilitas sistem keuangan Indonesia dan prospek perekonomian ke depan. Di sisi global, risiko tersebut antara lain terkait dengan dampak normalisasi kebijakan moneter negara maju, ekspektasi pasar atas kenaikan Fed Funds Rate yang lebih agresif, perang dagang antara AS dengan Tiongkok, perkembangan harga minyak global, dan instabilitas geopolitik. Di sisi domestik, risiko yang terus dicermati antara lain terkait perkembangan nilai tukar serta dampaknya terhadap stabilitas perekonomian dan momentum pemulihan ekonomi yang sedang berjalan. Dalam upaya menjaga stabilitas sistem keuangan dan tetap mendorong momentum pertumbuhan ekonomi di tengah meningkatnya risiko perekonomian, KSSK akan memperkuat pemantauan dalam mengantisipasi sejumlah risiko baik dari sisi eksternal maupun domestik. Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan akan terus memperkuat sinergi untuk mengoptimalkan bauran kebijakan agar ketahanan makroekonomi dan sistem keuangan tetap terjaga dan mendukung momentum pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan dan berkualitas. Pemerintah akan menjaga APBN 2018 agar menjadi instrumen yang mendukung pertumbuhan ekonomi namun tetap menjaga kredibilitas dan sustainabilitas. Defisit APBN tetap dijaga pada kisaran 2,19% dari PDB atau lebih kecil sesuai UU APBN dengan mendorong pencapaian pendapatan negara, dan memperbaiki kualitas belanja, serta pengelolaan utang secara hati-hati, transparan dan akuntabel. Pemerintah terus menjaga agar dampak kenaikan harga minyak internasional dan dinamika nilai tukar rupiah tidak mengganggu pelaksanaan APBN, dan momentum pergerakan ekonomi melalui kebijakan perlindungan kepada kelompok miskin dan menjaga kesehatan keuangan BUMN energi dan listrik. Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Bank Indonesia akan terus memperkuat upaya stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya dengan tetap mendorong mekanisme pasar. Untuk itu, Bank Indonesia menempuh empat langkah kebijakan sebagai berikut. Pertama, Bank Indonesia akan senantiasa berada di pasar untuk memastikan tersedianya likuiditas dalam jumlah yang memadai baik valas maupun rupiah serta berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk mendorong lindung nilai; Kedua, memantau perkembangan perekonomian global dan dampaknya terhadap perekonomian domestik; Ketiga, memperkuat 2nd line of defense bersama dengan institusi eksternal terkait. Keempat, apabila tekanan terhadap nilai tukar terus berlanjut serta berpotensi menganggu stabilitas perekonomian, Bank Indonesia tidak menutup ruang bagi penyesuaian suku bunga kebijakan BI 7-day Reverse Repo Rate. Kebijakan ini tentunya akan dilakukan secara berhati-hati, terukur, dan bersifat data dependence, mengacu pada perkembangan data terkini maupun perkiraan ke depan. Otoritas Jasa Keuangan akan terus memantau dan mencermati stabilitas sektor jasa keuangan, terutama volatilitas di pasar saham dan kondisi likuiditas sektor jasa keuangan yang terdampak oleh gejolak eksternal. Kapasitas sektor keuangan domestik dinilai masih cukup tinggi untuk mengakselerasi pertumbuhan pendanaan seiring perbaikan prospek ekonomi domestik. Otoritas Jasa Keuangan mempersiapkan langkah-langkah antisipasi yang diperlukan serta memperkuat koordinasi dengan lembaga-lembaga terkait untuk memastikan bahwa lembaga jasa keuangan telah melakukan langkah-langkah mitigasi yang memadai sehubungan dengan peningkatan risiko di pasar keuangan, termasuk koordinasi pengawasan terhadap transaksi valas oleh perbankan. Sebagai upaya memperkuat daya tahan sektor perbankan, Otoritas Jasa Keuangan juga telah memutakhirkan daftar bank sistemik yang ditetapkan sesudah berkoordinasi dengan Bank Indonesia. Lembaga Penjamin Simpanan akan turut bersinergi dengan anggota KSSK lain dan terus memantau dan mencermati pergerakan simpanan masyarakat dan tingkat bunga simpanan, sebagai dampak potensi peningkatan kebutuhan dana untuk penyaluran kredit serta dampak faktor eksternal khususnya respon terhadap suku bunga global. Rapat berkala KSSK kali ini adalah rapat terakhir bersama Gubernur Bank Indonesia, Agus D.W. Martowardojo. KSSK sangat menghargai dan berterima kasih atas kepemimpinan dan kontribusi serta dedikasi yang luar biasa dari Gubernur Agus dalam bersama-sama anggota KSSK lainnya senantiasa menjaga stabilitas sistem keuangan, sehingga dapat menjadi salah satu penopang terciptanya kesejahteraan yang berkeadilan di dalam perekonomian Indonesia. Rapat berkala KSSK berikutnya akan diselenggarakan pada bulan Juli 2018.
  • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup menguat +0,34% ke level 242,2213 pada perdagangan Senin. Penguatan didorong oleh INDOBeXG-Total Return (return obligasi pemerintah) yang menguat ke level 238,9787 (+0,36%). INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) turut menguat yakni sebesar +0,22% ke level 255,4642. Kurva yield IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) berpola bullish. Rata-rata yield tenor 1-30tahun turun –2,76bps. Kelompok tenor menengah (5-7tahun) mengalami penurunan rata-rata yield terbesar yakni hingga –6,82bps. Penurunan yield kemudian dicatatkan tenor pendek (<5tahun) sebesar –3,75bps dan tenor panjang (>7tahun) sebesar –2,06bps. Dengan demikian, INDOBeXG-Effective Yield mengalami penurunan sebesar –0,0534poin di level 6,9342. Harga seri SUN acuan bergerak rally sejak sesi midday dengan rata-rata harga menguat +63,91bps. Seri FR0064 menguat paling besar yakni hingga +90,17bps. Sedangkan ketiga seri lainnya menguat pada rentang +27,08bps hingga +72,67bps. Penguatan harga turut mendominasi seri-seri SBN (baik FR maupun ORI) dengan rata-rata sebesar +22,20bps. Menguatnya mayoritas seri SBN otomatis mendorong kenaikan INDOBeXG-Clean Price sebesar +0,3526poin ke level 116,0469. Aktivitas transaksi di pasar sekunder obligasi mengalami penurunan. Total volume perdagangan turun –18,69% menjadi Rp12,52tn. Namun demikian total frekuensi perdagangan meningkat tipis sebesar +1,40% menjadi 724 transaksi dari 714 transaksi. Penurunan volume perdagangan dipicu oleh seluruh tenor SUN dengan volume SUN tenor panjang turun paling besar hingga Rp1,86tn dalam sehari. Untuk seri yang paling aktif ditransaksikan yakni FR0075 yang ditransaksikan sebanyak 128 kali dan dengan volume Rp984miliar. Adapun seri obligasi korporasi teraktif dicatatkan oleh seri PNBN02CN3 dengan frekuensi 12 transaksi dan volume Rp120miliar. Menutup perdagangan Senin kemarin, pasar obligasi Indonesia meneruskan performa positifnya. Ditengah belum adanya sentimen lanjutan dari domestik, penguatan pasar cenderung sama dengan sesi siangnya yakni masih didorong oleh meredanya sentimen global seperti turunnya yield obligasi Amerika, kebijakan suku bunga dan stimulus ekonomi yang masih dipertahankan Bank Sentral Eropa, serta sedang berjalannya proses perdamaian negara Korsel dengan Korut. Berbagai kondisi tersebut sanggup menurunkan persepsi risiko investor global ditengah penantian hasil FOMC Meeting kamis pagi waktu Indonesia. Indikator risiko asing yang tercermin dari Credit Default Swap (CDS) tenor 5-tahun turun sebesar –1,39bps ke level 103,53. Senada dengan pasar surat utang, kinerja pasar saham juga menguat yang terlihat dari kenaikan IHSG sebesar +1,27% ke level 5.994,60 di akhir bulan April kemarin. Pada perdagangan awal bulan Mei ini, pasar obligasi domestik berpotensi melanjutkan penguatan. Rally-nya kinerja pasar diperkirakan lebih terdorong oleh sentimen domestik terkait rilis inflasi domestik yang masih terkendali di kisaran target Bank Indonesia dan penguatan indeks manufaktur Indonesia periode April. Namun demikian, pasar masih dibayangi oleh hasil pertemuan FOMC dan bayang-bayang pelemahan Rupiah.

EKONOMI GLOBAL

  • Penguatan dollar terus berlanjut atas sentimen positif bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, penguatan dollar telah membuat mata uang utama berada dalam tekanan. Pada pukul 01:00 WIB/Kamis, pasar akan menantikan apakah The Fed akan bersikap hawkish atau dovish pada kebijakannya, jika mereka sinyalkan kenaikan suku bunga kembali dalam waktu dekat maka hal itu akan berdampak positif bagi pergerakan dollar yang menguat akhir-akhir ini. Sebelum pertemuan FOMC, fokus investor akan tertuju pada data penting ADP Non Farm Employment Change yang dirilis pukul 19:15 WIB, dengan estimasi pertumbuhan 200K, dari sebelumnya 241K, estimasi yang lebih rendah ini akan berpotensi menjadi penghalang kenaikan dollar. EIA juga akan merilis data cadangan minyak AS padapukul 21:30 WIB yang diprediksi akan bertambah suplai ke AS sebanyak 1.0M, lebih rendah dari sebelumnya 2.2M, harga minyak berpotensi bergerak naik jika saat rilis data lebih rendah dari estimasi. Dari Inggris akan merilis data indeks konstruksi pukul 15:30 WIB yang diperkirakan naik ke level 50.5, lebih tinggi dari data sebelumnya 47.0, data penting ini akan berpotensi menguatkan GBPUSD selama data aktual tidak lebih rendah dari estimasi.

Potensi pergerakan

Emas

Harga emas berpeluang melemah di tengah outlook investor yang optimis bahwa The Fed akan tetap hawkish pada keputusan menaikkan suku bunga tahun ini, Namun harga akan berpotensi berbalik melemah jika ternyata The Fed mengambil kebijakan yang dovish. Potensi pergerakan emas berada di level $1295- $1312.

Minyak

Laporan data API yang menunjukkan adanya peningkatan cadangan minyak AS berpotensi menekan harga minyak di awal perdagangan hari Rabu, Data resmi dari pemerintah untuk cadangan minyak AS baru akan dirilis pada hari Rabu malam, dengan estimasi kenaikan suplai sebanyak 1.0M, lebih rendah dari data sebelumnya yang bertambah 2.2M. Laporan tersebut berpotensi memicu volatilitas pada harga minyak dengan potensial rentang perdagangan terlihat di antara resisten $66.30- $69.50.

EURUSD

Memburuknya data zona Euro dan keraguan pada kebijakan ECB menormalkan kebijakan moneternya masih akan berpotensi memicu pelemahan EURUSD, dalam jangka pendek untuk berpotensi menguji level support di 1.1935 – 1.1900.

GBPUSD

Data domestik Inggris yang dirilis memburuk dan outlook penguatan dollar atas sentimen kenaikan suku bunga AS berpotensi melemahkan pergerakan GBPUSD, dalam jangka pendek menguji support di 1.3530 – 1.3490. Namun jika data indeks konstruksi Inggris dirilis lebih baik dari estimasi, GBPUSD berpotensi menguat menguji resisten 1.3680 – 1.3720.

USDJPY

Outlook penguatan dollar karena optimisme investor terhadap prospek kenaikan suku bunga AS serta meredahnya tensi di semenanjung Korea telah mengurangi minat investor terhadap safe haven, dalam jangka pendek USDJPY berpotensi menguji level resisten di 110.00- 110.30.

AUDUSD

Outlook RBA terhadap inflasi Autralia yang masih rendah dan sentimen kenaikan suku bunga dari The Fed masih berpotensi menekan AUDUSD menguji level support dalam jangka pendek 0.7450 – 0.7430. 

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Rabu 02/05/2018 pukul 11.29 WIB :

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.