Kisah dua perempuan muda bikin Ganjar gencar sosialisasikan KMJ 25

Jawa Tengah – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyerahkan bantuan pemugaran rumah tidak layak huni (RTLH) dari program Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Jateng kepada dua warga Kabupaten Boyolali. Stimulan masing sebesar Rp 21 juta itu diwujudkan dalam bentuk bahan baku bangunan pemugaran rumah.

Selain itu, Ganjar secara simbolis juga menyerahkan program Kredit Mitra Jateng (KMJ) 25 disela-sela kegiatan pencanangan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat Jateng yang dipusatkan di Lapangan Desa Gombang, Kecamatan Sawit, Boyolali, Rabu (10/5).

Seperti biasanya, Ganjar memanggil para penerima KMJ 25 ke atas panggung untuk diminta menjawab pertanyaan terkait akses permodalan. Richa Riski salah satunya. Perempuan muda asal Desa Pusporenggo, Kecamatan Musuk ini mengaku membutuhkan modal untuk mengembangkan usaha minumannya yang berada di sebelah barat RSUD Boyolali.

“Sekitar setahun ini saya berjualan jus buah, es teler, dan sup buah, serta hendak mengembangkan tanaman hias. Omzet per hari rata-rata Rp 200 ribu. Dapat modal pinjaman dari Bank Jateng sebesar Rp 25 juta selama dua tahun dengan angsuran per bulan Rp 1,1 juta. Aksesnya gampang dan enggak pakai jaminan. Saya yakin bisa lunas agar dapat modal yang lebih besar lagi,” kata Richa yang bergelar Sarjana Perikanan dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Selain Richa, Ganjar juga melontarkan pertanyaan serupa terhadap penerima KMJ 25 lainnya bernama Nastiti. Mahasiswi asal Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) AMA Salatiga itu mengaku mendapat modal dari Bank Jateng sebesar Rp 25 juta untuk membesarkan usaha kateringnya.

“Ambil tiga tahun Pak. Per bulan angsurannya sekitar Rp 740 ribu. Sedangkan omzet kotor katering saya per bulan rata-rata Rp 7 juta, tapi itu belum dikurangi honor pegawai. Kebetulan usaha ini warisan dari ibu. Kalau saya belajar memasak karena kepepet,” ujar perempuan asal Desa Candi, Kecamatan Ampel, Boyolali ini.

Berangkat dari kisah dua perempuan itu, Ganjar mengatakan, pemerintah provinsi bersama Bank Jateng akan mempermudah akses permodalan bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) melalui program KMJ 25. Pasalnya, KMJ 25 dengan plafon kredit maksimal Rp 25 juta juga memiliki bunga rendah sebesar 7 persen per tahun, dan tanpa agunan.

“Luar biasa para pengusaha muda ini. Sebenarnya dari cerita ini saya mau tunjukan bahwa ada akses program permodalan dengan bunga rendah sebesar 7 persen. Ini saya kampanyekan terus,” katanya.

Ia mengatakan, selama ini orang yang berdagang dan kesulitan modal biasanya larinya ke bank titil karena dianggap lebih cepat dan mudah. “Maka perbankan kita minta masuk, baik dari Bank Jateng maupun BPR/BKK di daerah-daerah dengan bunga rendah. Maka kalau akses modal gampang, ini salah satu cara mengatasi kemiskinan,” kata Ganjar, yang juga meminta Bank Jateng agar menggodok kredit mini dengan plafon sekitar Rp 1 juta.