Ini alasan kenapa Bank Jateng Syariah harus diperkuat

Jawa Tengah – Pembentukan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) pada November 2016 oleh Presiden Joko Widodo dinilai sebagai tonggak kebangkitan lembaga keuangan syariah. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maruf Amin menjelaskan bahwa lembaga keuangan syariah harus memberi kontribusi bagi pembangunan nasional. Selain itu, lembaga keuangan syariah turut menjaga umat Islam agar tetap syariah, mulai dari akidah, ibadah, dan muamalah. “Islam tidak akan lengkap tanpa ekonomi yang syariah,” jelasnya, Senin (27/2) dalam seminar Lembaga Keuangan Syariah Dalam Pemberdayaan Ekonomi Umat Islam di kantor Bank Jateng. Dia juga menegaskan, rencana pembentukan lembaga keuangan syariah dimulai pada 1990 namun terealisasi pada 1992 dengan pendirian Bank Muamalat. Ma’ruf menyampaikan, setelah ada KNKS Presiden Joko Widodo mencanangkan Jakarta harus menjadi pusat keuangan Islam. “Umat Islam harus mampu menangkap potensi dan modal yang datang dari investor, sehingga karena beban berat yang diterima kelembagaan keuangan syariah harus kuat,” tegasnya.

Saat ini, gerakan global lembaga keuangan syariah semakin menguat dan dipusatkan di London, Inggris yang bukan negara muslim. “Untuk Indonesia, potensi umat Islam sangat besar namun realisasinya sangat kecil karena kalah dengan yang konvensional,” ucap Maruf. Untuk mendongkrak, menurutnya pondok pesantren harus mulai bergerak. Dia mencontohkan di Malaysia lembaga keuangan syariah memberi kontribusi untuk ekonomi nasional sebesar 20 persen. Sementara itu, Hanawijaya, Direktur operasional dan Unit Usaha Syariah Bank Jateng, menyampaikan saat ini ada 14 bank umum syariah dan 27 unit usaha syariah. “Tapi kebanyakan masih menempel di induknya yang merupakan bank konvensional meski managemennya mandiri,” ucapnya. Dia mengaku untuk menyokong bank syariah diperlukan peran pelaku usaha riil. “Ini karena kami kesulitan mengalami kesulitan sosialisasi, bahkan termasuk di pesantren,” kata Hana. Hal ini karena pengetahuan dan pemahaman mengenai bank syariah masih sangat sedikit. Wakil Ketua MUI Jateng, Ahmad Rofiq mengatakan selama lembaga keuangan syariah beroperasi di Indonesia selama 25 tahun, market share-nya hanya 5,3. “Perlu strategi memahamkan masyarakat tentang lembaga syariah, perlu merubah paradigma dari kapitalis ke syariah,” tegasnya. Dia pun berharap Bank Jateng Syariah memiliki keunggulan kompetensi agar umat Islam di Jateng menjadi nasabahnya. “Harapannya tidak hanya menjadi pilihan, tapi warga memiliki ketergantungan,” kata Rofiq. Peran utama lembaga keuangan syariah adalah menghindari lembaga keuangan bodong yang berkedok agama Islam.