Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2018 tetap terkendali

  • Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2018 tetap terkendali atau berada dalam kisaran sasaran ditopang oleh koreksi harga pangan dan ekspektasi yang terjaga. Inflasi IHK pada April 2018 mencapai 0,10% (mtm), melambat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat 0,20% (mtm). Berdasarkan komponennya, perlambatan inflasi IHK tersebut didorong oleh deflasi volatile food dan perlambatan inflasi inti di tengah, kenaikan inflasi administered prices. Dengan perkembangan tersebut, sampai dengan bulan April, inflasi IHK tercatat 1,09% (ytd) atau secara tahunan sebesar 3,41% (yoy), relatif sama dengan bulan lalu yang tercatat 3,40% (yoy), dan tetap berada dalam kisaran sasaran inflasi 3,5±1%. Terkendalinya inflasi IHK didukung oleh melambatnya inflasi inti. Inflasi inti tercatat 0,15% (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan bulan lalu yang mencapai 0,19% (mtm). Komoditas utama penyumbang inflasi kelompok inti adalah emas perhiasan dan kontrak rumah. Secara tahunan, inflasi inti tercatat 2,69% (yoy), sedikit meningkat dari bulan lalu sebesar 2,67% (yoy). Terkendalinya inflasi inti hingga April 2018 tidak terlepas dari konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam mengarahkan ekspektasi inflasi, termasuk dalam menjaga pergerakan nilai tukar sesuai fundamentalnya. Kelompok volatile food pada April 2018 mengalami deflasi seiring koreksi harga beberapa komoditas pangan. Kelompok volatile food mencatat deflasi 0,29% (mtm), lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencatat inflasi sebesar 0,15% (mtm). Deflasi terutama bersumber dari komoditas beras, ikan segar, dan aneka cabai. Secara tahunan, inflasi volatile food tercatat 5,08% (yoy). Peningkatan inflasi kelompok administered prices bersumber dari bensin. Inflasi administered price pada bulan April 2018 mencapai 0,24% (mtm) sedikit lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 0,20% (mtm). Inflasi administered prices terutama bersumber dari dampak lanjutan penyesuaian harga bensin nonsubsidi pada akhir Maret 2018. Secara tahunan, kelompok administered prices mencatat inflasi sebesar 4,04% (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai 5,11% (yoy). Ke depan, inflasi diperkirakan tetap berada pada sasaran inflasi 2018, yaitu 3,5%±1% (yoy). Koordinasi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi akan terus diperkuat terutama sebagai antisipasi meningkatnya inflasi volatile food.
  • Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah dan semakin dekati level Rp14.000-an per USD pasca-The Fed mempertahankan suku bunga acuannya. Melansir Bloomberg Dollar Index, Kamis (3/5/2018) pukul 08.48, Rupiah pada perdagangan spot exchange melemah 20 poin atau 0,14% ke level Rp13.968 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp13.955 per USD-Rp13.968 per USD. Sementara Yahoofinance mencatat, Rupiah melemah 25 poin atau 0,18% menjadi Rp13.965 per USD. Dalam pantuan Yahoofinance, Rupiah berada dalam rentang Rp13.938 per USD hingga Rp13.967 per USD. Padahal, kurs dolar AS melemah terhadap mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), karena para investor mencerna pernyataan terbaru Federal Reserve AS. Indeks dolar, yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,15% menjadi 92,314 pada akhir perdagangan. Bank Sentral AS atau Federal Reserve AS mempertahankan suku bunga acuannya tidak berubah pada Rabu 2 Mei 2018, setelah mengakhiri pertemuan kebijakan moneter dua hari, sesuai dengan ekspektasi pasar. Namun demikian, pernyataan yang dirilis setelah pertemuan, menunjukkan kepercayaan The Fed atas inflasi, mengakui bahwa tingkat inflasi inti telah bergerak mendekati target bank sentral 2%.
  • Pada perdagangan Rabu, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup di level 241,7139 atau turun –0,21%. Indeks return obligasi negara (INDOBeXG-Total Return) turun lebih besar yakni –0,24% ke level 238,4037. Sementara INDOBeXC-Total Return (return obligasi korporasi) tercatat turun sebesar –0,02% ke level 255,4109. Kurva yield IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) didominasi bearish dengan rata-rata yield tenor 1-30tahun naik +1,79bps. Rata-rata yield kelompok tenor pendek (<5tahun) dan panjang (>7tahun) masing-masing naik sebesar +6,63bps dan +1,19bps. Sementara pada tenor menengah (5-7tahun) turun sebesar –0,09bps. INDOBeXG-Effective Yield kemarin turut ditutup tertekan yakni naik +0,0781poin ke level 7,0123. Harga seluruh seri SUN acuan berbalik terkoreksi yang terjadi sejak sesi midday-nya. Rata-rata harga keempat seri SUN acuan turun sebesar –100,98bps dengan penurunan terbesar dicatatkan oleh seri FR0065 yakni –117,08bps. Koreksi harga turut melanda sebagian besar seri-seri SBN (baik FR maupun ORI). Rata-rata harga SBN tipe FR tercatat turun sebesar –22,68bps, sementara tipe ORI turun –14,89bps. INDOBeXG-Clean Price kemarin turut ditutup melemah yakni turun –0,29% ke level 115,7132. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder mengalami penurunan dari sisi total frekuensi dari 724 kali menjadi 639 kali atau turun –11,74%. Sementara total volume naik +77,80% dari Rp12,52tn menjadi Rp22,27tn. Peningkatan volume terpicu oleh transaksi SUN tenor pendek dan panjang dengan total akumulasi peningkatan mencapai Rp9,84tn dalam sehari. Untuk transaksi SBN, total volume terbesar tercatat sebesar Rp1,76tn oleh seri FR0069. Namun seri teraktif dicatatkan seri FR0075 sebanyak 104 kali. Untuk obligasi korporasi, total volume terbesar dan teraktif ditransaksikan dicatatkan oleh satu seri yang sama yakni seri FIFA03BCN3 sebesar Rp126miliar dengan 9 kali ditransaksikan. Sempat menguat pada perdagangan Senin, kinerja ICBI kembali bergerak melemah pada perdagangan kemarin. Harga seri-seri SUN benchmark kompak menurun dengan rata-rata mencapai –100,98bps, dan tingkat imbal hasil SBN juga tampak tertekan naik setelah sempat mereda pada perdagangan Senin. Yield SBN 2-tahun kemarin berada di level 6,4129% atau naik +9,01bps sementara yield tenor 10-tahun naik +0,97bps ke level 7,2394%. Wait and see keputusan the Fed dalam FOMC Meetings dan depresiasi rupiah yang tembus ke level Rp13.948/US$ diprediksi menjadi dua faktor dominan yang menyebabkan tertekannya pasar obligasi domestik. Kemarin, BPS telah merilis data inflasi Indonesia bulan April yang berada di level 0,10%mom atau 3,41%yoy. Level tersebut lebih rendah dari konsensus yang sebesar 0,17%mom atau 3,50%yoy (trading economics). Berbeda halnya dengan pasar obligasi, IHSG kemarin ditutup menguat +0,29% di level 6.012,24. Pasar obligasi domestik berpotensi berlanjut melemah. Sentimen negatif diprediksi datang dari global. Meskipun the Fed masih mempertahankan suku bunga acuannya di level 1,50% – 1,75% namun the Fed juga mengungkapkan bahwa inflasi telah bergerak menuju target yakni sebesar 2,0%. Sementara katalis positif datang dari dalam negeri yakni terjaganya inflasi Indonesia bulan April di level 3,41%yoy.

EKONOMI GLOBAL

  • Setelah pertemuan The Fed pada Kamis dini hari yang menyatakan bahwa The Fed secara luas mengantisipasi keputusan untuk tidak mengubah suku bunga, serta inflasi pada basis 12 bulan diperkirakan akan berjalan mendekati tujuan sesbesar 2 persen dalam jangka menengah’. kini investor tertuju pada data Trade balance Australia yang akan dirilis pada pukul 08.30 WIB dengan estimasi 0.68B yang lebih besar data sebelumnya 0.83B. Kanada juga akan merilis data perdagangan pada pukul 19.30 WIB dengan estimasi sebesar -2.3B dengan data sebelumnya sebesar -2.7B, Amerika Serikat akan merilis data ISM Non Manufacturing pada pukul 21.00 WIB dengan estimasi 58.1 lebih rendah dari data sebelumnya 58.8, ditutup oleh pidato SNB Chairman Jordan pada pukul 23.00 WIB. Potensi pergerakan

Emas

Harga emas berpotensi berbalik menguat dipicu oleh The Federal Reserve yang tidak mengubah tingkat suku bunga serta mengindikasikan adanya perlambatan pada sektor inflasi AS. dalam jangka pendek emas berpotensi menguji level resisten $1312,$1314.

Minyak

Supplai yang dilaporkan berlebih oleh lembaga resmi pemerintah AS sebesar 6.2M serta outlook penguatan yang terhambat oleh pernyataan The Fed berpotensi akan menekan pergerakan minyak mentah. dalam jangka pendek minyak berpotensi menguji level support di $66.80.

EURUSD

Data domistik EURUSD yang belum menunjukkan adanya tanda – tanda yang lebih baik memicu keraguan investor bahwa ECB belum akan mengubah kebijakan moneter mereka hal ini berpotensi menjadi katalis negatif bagi EURUSD, dalam jangka pendek EURUSD berpotensi menguji level 1.1890, 1.1870.

GBPUSD

Outlook tidak adanya perubahan dari BOE untuk kenaikan suku bunga Inggris masih berpotensi menekan mata uang Inggris, rilis data Services PMI dengan estimasi 53.5 yang lebih besar dari data sebelumnya 51.7, jika data dirilis lebih baik akan mendorong kenaikan GBPUSD menguji level 1.3680, namun jika data lebih buruk GBPUSD berpotensi melanjutkan penurunan menguji support di 1.3490.

USDJPY

USDJPY berpotensi bergerak turun seiring The Fed yang memandang tingkat inflasi yang masih rendah dan tidak adanya perubahan tingkat suku bunga lebih lanjut. dalam jangka pendek USDJPY berpotensi menguji level support 109.50.

AUDUSD

Australia hari ini akan merilis data perdagangan mereka pada 08.30 dengan estimasi 0.68B yang lebih rendah dari data sebelumnya 0.83B, jika data dirilis lebih baik maka akan menjadi katalis positif bagi AUDUSD, dalam jangka pendek AUDUSD berpotensi menguji level resisten di 0.7525.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Kamis 03/05/2018 pukul 10.20WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.