Ekonomi Update (Div Treasury & Internasional)

Rabu, 03 Januari 2018

EKONOMI DOMESTIK 

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Desember 2017 tercatat sebesar 0,71% (mtm) dan secara keseluruhan tahun 2017 mencapai 3,61% (yoy), yang berada dalam kisaran sasaran inflasi yang ditetapkan yaitu sebesar 4±1% (yoy). Dengan perkembangan tersebut, sasaran inflasi dapat terpenuhi dalam tiga tahun berturut-turut. Terkendalinya inflasi 2017 didorong oleh rendahnya inflasi inti yang tercatat 2,95% (yoy), sejalan dengan konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengarahkan ekspektasi inflasi; rendahnya inflasi volatile food yang tercatat 0,71% (yoy), terendah dalam 14 tahun terakhir, seiring terjaganya pasokan dan distribusi bahan pangan; serta terkendalinya dampak kenaikan berbagai tarif dalam inflasi administered prices yang tercatat 8,70% (yoy). Selain itu, inflasi 2017 juga didukung oleh faktor positif permintaan dan penawaran, rendahnya tekanan dari eksternal, serta koordinasi kebijakan yang kuat antara BI dan Pemerintah di Pusat maupun Daerah. Inflasi IHK pada Desember 2017 meningkat dibandingkan bulan lalu (0,20%, mtm) sesuai dengan pola musimannya. Inflasi Desember 2017 lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata inflasi Desember tiga tahun terakhir sebesar 1,28% (mtm). Berdasarkan komponen, meningkatnya inflasi bulan ini terutama dipengaruhi oleh inflasi kelompok volatile food dan kelompok administered prices di tengah rendahnya inflasi inti. Inflasi inti tercatat sebesar 0,13% (mtm), sama dengan bulan lalu. Perkembangan tersebut sejalan dengan terjangkarnya ekspektasi inflasi, masih rendahnya permintaan domestik, nilai tukar yang stabil dan rendahnya harga global. Kelompok volatile food tercatat inflasi sebesar 2,46% (mtm), meningkat dibandingkan bulan lalu sebesar 0,38% (mtm). Inflasi terutama bersumber dari komoditas beras, ikan segar, telur dan daging ayam ras, cabai merah, tomat dan cabai rawit. Kelompok administered prices mengalami inflasi sebesar 0,91% (mtm) meningkat dibandingkan dengan bulan lalu sebesar 0,21% (mtm). Perkembangan tersebut terutama didorong oleh kenaikan tarif angkutan udara, tarif kereta api, dan angkutan antar kota sejalan dengan musim liburan dan penyesuaian bensin non subsidi. Selain itu, tekanan inflasi administered prices juga didorong oleh kenaikan tarif aneka rokok. Ke depan, inflasi diperkirakan kembali berada pada sasaran inflasi 2018, yaitu 3,5±1%. Koordinasi kebijakan antara Pemerintah, baik Pusat maupun Daerah, dan Bank Indonesia akan terus diperkuat dalam pengendalian inflasi.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) merilis data mengenai pertumbuhan jumlah rekening dan nominal simpanan yang dijamin pada bank umum per November 2017. Total rekening simpanan per November mencapai 239,01 juta rekening, naik 7,91 juta rekening dalam waktu sebulan atau 3,42% dibanding posisi jumlah rekening Oktober 2017 yang sebesar 231,1 juta rekening. Per akhir November 2017, jumlah rekening untuk simpanan dengan nilai saldo sampai dengan Rp 2 miliar tumbuh 3,43% (month on month/MoM) dari 230,52 juta rekening per Oktober 2017 menjadi 238,76 juta rekening di bulan November 2017. Jumlah nominal simpanannya juga meningkat 1,63% (MoM), dari posisi akhir Oktober 2017 sebesar Rp 2.229,45 triliun, menjadi Rp 2.265,68 triliun di akhir bulan November 2017. Sedangkan untuk simpanan dengan nilai saldo di atas Rp 2 miliar, jumlah rekeningnya naik 0,11% (MoM), dari 248.996 rekening di bulan Oktober 2017 menjadi 249.274 rekening pada November 2017. Sementara itu, untuk jumlah nominal simpanannya turun 0,47% (MoM), dari Rp 3.028,23 triliun Oktober 2017 menjadi Rp 3.014,05 triliun per November 2017. Dilihat dari jenis simpanan (tabungan, deposito, dan giro), jenis simpanan yang jumlah rekeningnya mengalami kenaikan paling tinggi adalah tabungan. Kenaikannya mencapai 3.52% dari 224,07 juta rekening di bulan Oktober 2017, menjadi 231,95 juta rekening di bulan November 2017. Sementara itu, kenaikan nominal simpanan tertinggi juga dialami oleh simpanan jenis tabungan, yaitu tumbuh 2,95%, dari Rp 1.564,90 triliun di bulan Oktober 2017 menjadi Rp 1.611,13 triliun di bulan November 2017. Lebih lanjut, LPS dalam keterangan resmi yang diterima Kontan.co.id, Selasa (2/1) menyebut pada bulan November 2017, baik rekening maupun nominal simpanan dalam Rupiah meningkat. Sedangkan, untuk simpanan dalam Valas sama-sama mengalami penurunan baik jumlah rekening maupun nilai nominalnya. Jumlah rekening simpanan yang dijamin dalam Rupiah meningkat 3,43% (MoM), dimana per akhir Oktober 2017 berjumlah 230,08 juta rekening, menjadi 237,99 juta rekening per akhir November 2017. Untuk jumlah rekening simpanan yang dijamin dalam Valas turun 0,22%, menjadi 1,01 juta rekening di akhir November 2017. Dilihat dari nominalnya, simpanan dalam Rupiah mengalami kenaikan 0,42% (MoM), dari sebesar Rp 4,52 triliun per Oktober 2017 menjadi Rp 4,55 triliun di bulan November 2017. Sedangkan untuk nominal simpanan dalam Valas, jumlahnya turun 1,25% (MoM) dari sebesar Rp 1,01 triliun di Oktober 2017 menjadi Rp 1,01 triliun di bulan November 2017. Total simpanan di bank umum per November 2017 mengalami peningkatan sebesar 0,42%, dari Rp 5,25 triliun di bulan Oktober 2017 menjadi Rp 5,27 triliun di bulan November 2017. Batas penjaminan LPS yang berlaku saat ini adalah Rp 2 miliar per nasabah per bank. Bank umum peserta penjaminan per November 2017 berjumlah 115 bank. Terdiri dari 102 bank umum konvensional dan 13 bank umum syariah. Bank umum konvensional, terdiri dari 4 Bank Pemerintah, 25 Bank Pemerintah Daerah, 64 Bank Umum Swasta Nasional dan 9 Kantor Cabang Bank Asing.

Indonesia Composite Bond Index (ICBI) di perdagangan hari pertama 2018 ditutup menguat sebesar +0,4565poin ke level 243,4407. Kinerja INDOBeXG-Total Return turut ditutup menguat yakni sebesar +0,4507poin ke level 240,6485. Penguatan juga dicatatkan oleh INDOBeXC-Total Return yakni sebesar +0,4793poin ke level 253,5351. Kurva IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) didominasi dengan penurunan yield. Pola bullish didorong oleh kelompok tenor pendek (<5tahun) dan menengah (5-7tahun) yang mengalami penurunan yield masing-masing sebesar —5,25bps dan —2,82bps. Sementara kelompok tenor panjang (>7tahun) mengalami kenaikan yield sebesar +0,17bps. Sehingga INDOBeXG-Effective Yield mengalami penurunan sebesar —0,0252poin ke level 6,4052. Harga-harga SUN benchmark didominasi penguatan dengan rata-rata sebesar +48,70bps. Hanya seri FR0064 yang melemah namun tipis yakni sebesar —0,24bps. Sedangkan penguatan terbesar dicatatkan oleh seri FR0065 yakni sebesar +83,43bps. Seluruh seri SBN seri FR dan ORI turut didominasi penguatan dengan rata-rata sebesar +11,77bps. Dominasi kenaikan harga SBN mendorong kenaikan INDOBeXG-Clean Price yakni sebesar +0,1302poin ke level 119,7536. Aktivitas transaksi cukup semarak di hari perdagangan pertama 2018. Frekuensi transaksi meningkat +32,15% dari 479 transaksi menjadi 633 transaksi. Volume transaksi turut meningkat yakni sebesar +62,73% dari Rp9,64tn menjadi Rp15,68tn. Sedangkan transaksi SUN benchmark hanya meningkat dari sisi frekuensinya yakni sebesar +167,07% dari 82 kali menjadi 219 kali. Namun volume transaksi SUN acuan menurun sebesar —78,51% dari Rp4,44tn menjadi Rp954miliar. Seri FR0075 ditransaksikan paling aktif dengan frekuensi 189 kali dan volume Rp717miliar. Adapun untuk seri obligasi korporasi teraktif dicatatkan oleh TAFS01BCN3 yang ditransaksikan 6 kali dan volume Rp60miliar. Pasar obligasi berlanjut dalam tren positif di awal tahun 2018. Positifnya ekspektasi fundamental ekonomi di tahun 2018 menjadi katalis berlanjutnya penguatan pasar. Indikator inflasi tahun penuh 2017 yang dirilis BPS kemarin berada di level 3,61%yoy atau berada dalam sasaran Bank Indonesia yakni 3%—5%yoy. Nilai tukar Rupiah terhadap USD juga tampak terapresiasi di awal tahun yakni menguat +0,30% ke level Rp13.514/US$ (kurs spot Bloomberg). Persepsi risiko yang ditunjukkan dengan CDS obligasi Indonesia tenor 5-tahun di level 85,32bps atau naik sangat tipis sebesar +0,07bps. Berkebalikan dengan kinerja return pasar obligasi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di hari pertama 2018 ditutup terkoreksi sebesar —16,42poin ke level 6.339,24. Namun asing tercatat melakukan net buy di pasar saham sebesar Rp440,05miliar. Pasar obligasi di hari perdagangan ke dua tahun 2018 masih berpeluang melanjutkan tren positifnya. Kondisi tersebut masih didorong oleh positifnya ekspektasi outlook perekonomian tahun 2018 baik domestik maupun global. Pergerakan positif pasar juga sejalan dengan terjaganya persepsi risiko global dan nilai tukar Rupiah terhadap USD.

EKONOMI GLOBAL

Perekonomian global tahun 2018, diprediksi tumbuh lebih tinggi dari tahun lalu. Optimisme menyebar, meski tak sedikit kekhawatiran yang bisa mengubur prospek cerah di 2018. Dalam laporan yang dirilis jelang akhir tahun 2017, Goldman Sachs memprediksikan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2018 tumbuh 4%, lebih tinggi dari proyeksi pertumbuhan tahun 2017 yang sebesar 3,7%. Sementara konsensus analis yang disurvei Bloomberg menyebut, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan mencapai 3,6%, terpaut tipis dari target pertumbuhan ekonomi di tahun 2017 yang sebesar 3,5%. Menurut Goldman, raksasa ekonomi dunia seperti Amerika Serikat (AS) tahun ini bisa mencetak pertumbuhan hingga 2,5%, dari proyeksi tahun 2017 yang sebesar 2,2%. Demikian juga dengan konsensus Bloomberg yang menebak ekonomi AS tumbuh 2,4%. “Saya pikir pertumbuhan ekonomi akan beralih ke level yang lebih tinggi,” tutur Mark Vitner, ekonom senior Wells Fargo, seperti dikutip USA Today, Senin (1/1). Pemangkasan pajak perusahaan AS diperkirakan dapat meningkatkan kesejahteraan pekerja karena bakal memperoleh kenaikan gaji. Survei Wolters Kluwer Blue Chip Economic Indicators awal Desember 2017 lalu menunjukkan, rata-rata 52 responden yang terdiri dari para ekonom memprediksi ekonomi AS bisa naik hingga 2,6%. Angka itu mendekati prediksi Presiden Donald Trump yang menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 3%. Wolters menyatakan, faktor pendorong ekonomi AS salah satunya adalah belanja konsumen yang terus meningkat. Sekadar catatan, survei ini dilakukan sebelum Kongres AS mengesahkan beleid pemotongan pajak. Jika asumsi pemangkasan pajak dimasukkan, Wolters menyebut target pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi lagi, mengingat daya beli pekerja berpotensi semakin meningkat. Di belahan dunia lainnya, negara dengan ekonomi terbesar kedua dunia, China, justru menghadapi tahun yang penuh tantangan. Seperti diberitakan Bloomberg, Senin (1/1), pemimpin China menyebut tahun ini sebagai “critical battles” (pertempuran kritis). Banyak persoalan yang dihadapi China tahun ini. Salah satunya adalah pengendalian utang dalam negeri. Inilah yang disebut oleh Rajiv Biswas, Kepala Ekonom IHS Markit untuk Asia Pasifik sebagai ketidakseimbangan ekonomi yang signifikan dan menciptakan risiko penurunan terhadap prospek tahun 2018. “Risiko ekonomi China, akan tetap menjadi risiko utama terhadap prospek pertumbuhan global. Asia Pasifik akan sangat rentan terdampak efek kejut dari perlambatan ekonomi China,” tutur Biswas seperti dikutip Bloomberg. Goldman pun sejak awal memprediksi pertumbuhan ekonomi China tahun 2018 turun menjadi 6,5% dari proyeksi pertumbuhan tahun  2017 yang sebesar 6,8%. Penurunan itu akan berlanjut di tahun 2019, dengan target pertumbuhan dari Goldman sebesar 6,1%. Rasio utang China, pada tahun 2022 mendatang diprediksi mencapai 320% terhadap produk domestik bruto. George Magnus, ekonom  Universitas Oxford dan eks penasihat UBS Group AG mengingatkan, jika suku bunga AS naik lebih tinggi dari perkiraan awal, pemangkasan pajak terjadi lebih besar dan ekonomi AS meningkat hingga 3,2%, maka arus keluar modal dari China bakal kian memuncak. China yang menghadapi persoalan utang, jelas akan menghadapi persoalan serius dari hal tersebut.

Outlook untuk kenaikan suku bunga AS yang lebih lambat pada tahun ini dapat melemahkan dolar pada hari ini di tengah fokus investor pada akan tertuju pada data indeks manufaktur AS yang diperkirakan akan lebih rendah dari periode sebelumnya. Selain itu data penting lainnya datang dari indeks konstruksi Inggris yang diprediksi lebih rendah dari estimasi pasar.

Potensi pergerakan

Emas

Harga emas dapat menguat lebih lanjut untuk mengincar ke area resisten di $1.325 sebelum membidik ke area $1.330 karena outlook kenaikan suku bunga AS yang lebih lambat pada tahun ini. Data penting yang akan menjadi fokus pada hari ini adalah indeks manufaktur AS yang akan dirilis pukul 22:00 WIB.

Minyak

Mulai kembali beroperasinya jalur pipa di Libya dan Inggris (North Sea) berpotensi akan menjadi beban dalam jangka pendek untuk harga minyak untuk menguji ke level support terdekat di $59.80. Sementara itu jika bergerak naik dapat menguji level resisten di $61.00.

EURUSD

Adanya pernyataan yang optimis dari pejabat ECB Benoit Couere pada akhir pekan bahwa ada “peluang” untuk tidak memperpanjang pembelian obligasi setelah bulan September serta outlook data ekonomi zona Euro yang cerah di tahun ini dapat menopang kenaikan EURUSD untuk menguji level resisten di 1.2100 sebelum mengincar ke area 1.2150.

GBPUSD

Adanya laporan bahwa Inggris dapat bergabung dengan kelompok dagang Trans-pacific Partnership berpotensi dapat menopang kenaikan dalam jangka pendek GBPUSD untuk menguji level resisten di 1.3650. GBPUSD dapat melemah jika data indeks konstruksi Inggris dirilis lebih pesimis dengan level support terdekat di 1.3550.

USDJPY

Pelemahan greenback akhir-akhir ini dapat memicu penurunan lanjutan pada USDJPY untuk mengincar level support di 111.60.

AUDUSD

Kenaikan harga komoditas masih menjadi sentimen positif untuk lanjutkan kenaikannya menjadi sembilan hari beruntun pada hari ini di tengah masih tertekannya greenback untuk mengincar level resisten di 0.7860 sebelum membidik level resisten kunci di 0.7900.

Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Rabu 03/01/2018 pukul 13.39 WIB:

Source: bloomberg/ afp/ xinhua/ bi/ ojk/ kemenkeu/ bps/ reuters/ antara/ ibpa/ kontan/ bisnis/ wartaekonomi/ investordaily/ bbc/ kompas/ liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.

Leave a Comment