Ekonomi Update (Div Treasury & Internasional)

Selasa, 02 Januari 2018

EKONOMI DOMESTIK

Bank Indonesia (BI) mengalihkan fungsi pengaturan, pengembangan dan pengelolaan Sistem Informasi Perkreditan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sesuai amanat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan. Pengalihan fungsi dimaksud ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) pengalihan fungsi, tugas, wewenang, dan tanggung jawab pengaturan, pengembangan dan pengelolaan Sistem Informasi Perkreditan oleh Deputi Gubernur BI, Erwin Rijanto dan Dewan Komisioner OJK, Riswinandi. Pengalihan fungsi pengaturan, pengembangan dan pengelolaan sistem informasi perkreditan telah melalui masa transisi sejak 31 Desember 2013, dengan berjalannya pelaporan Sistem Informasi Debitur (SID) yang dikelola BI dan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang dikelola OJK secara paralel selama periode April-Desember 2017. Selama masa transisi tersebut, BI dan OJK telah melakukan koordinasi yang sangat baik, khususnya dalam penyempurnaan ketentuan dan pengelolaan SID serta penyusunan pengaturan dan pengembangan SLIK OJK. Dengan pengalihan fungsi tersebut, BI menghentikan operasional dan layanan SID kepada seluruh Pelapor SID dan masyarakat sejak 31 Desember 2017. Selanjutnya, pengelolaan sistem informasi perkreditan hanya dilaksanakan oleh OJK melalui SLIK yang akan diimplementasikan secara penuh mulai 1 Januari 2018. SLIK merupakan salah satu infrastruktur yang sangat penting di sektor jasa keuangan yang dapat digunakan oleh pelaku industri untuk mitigasi risiko, khususnya risiko kredit sehingga dapat membantu menurunkan tingkat risiko kredit bermasalah. Selain itu, keberadaan SLIK juga mampu mendukung perluasan akses kredit/pembiayaan. Masyarakat yang bermaksud memperoleh Informasi Debitur Individual (IDI) di SLIK dapat mengunjungi kantor – kantor OJK baik di pusat maupun daerah. Informasi mengenai alamat kantor – kantor OJK tersebut dapat dilihat di www.ojk.go.id. Pengelolaan informasi perkreditan oleh BI (Public Credit Registry) yang dilakukan sejak tahun 1969 telah membantu masyarakat memperoleh informasi yang akurat dan mendorong akses pendanaan yang lebih inklusif, murah, dan mudah. Selain itu, penyedia dana pun dapat menyalurkan dana dengan menerapkan prinsip kehati-hatian. Langkah-langkah yang telah dilakukan baik dari sisi pengelolaan, pengembangan, dan peningkatan cakupan data serta peningkatan produk telah berkontribusi dalam peningkatan peringkat Ease of Doing Business Indonesia yang diterbitkan Bank Dunia, khususnya pada aspek Getting Credit. Pengalihan fungsi pengelolaan Sistem Informasi Kredit kepada OJK ini tidak akan mengurangi pelayanan yang selama ini telah dilakukan sebelumnya oleh BI. Nasabah dan masyarakat serta pemilik dana tetap akan mendapatkan akses informasi pendanaan yang inklusif, murah dan mudah serta memperhatikan prinsip kehati-hatian, termasuk untuk mendukung kebijakan dan pengambilan keputusan lembaga negara dan pemerintahan lainnya.

Pertumbuhan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) kembali melambat pada November 2017. Posisi M2 tercatat Rp5.320,0 triliun atau tumbuh 9,3% (yoy), lebih rendah dibanding dengan bulan sebelumnya yang tumbuh 10,6% (yoy). Perlambatan pertumbuhan M2 terjadi pada seluruh komponennya. Komponen uang beredar dalam arti sempit (M1) tumbuh melambat dari 16,0% (yoy) pada Oktober 2017 menjadi 13,1% (yoy) dan komponen uang kuasi tumbuh melambat dari 8,7% (yoy) menjadi 7,9% (yoy). Berdasarkan faktor yang memengaruhi, perlambatan pertumbuhan M2 dipengaruhi oleh kontraksi operasi keuangan Pemerintah Pusat (Pempus), perlambatan pertumbuhan kredit, dan perlambatan pertumbuhan aktiva luar negeri bersih. Kontraksi operasi keuangan Pempus tercermin dari kewajiban Bank Indonesia dan perbankan kepada Pempus yang tumbuh meningkat dari 9,8% (yoy) pada Oktober 2017 menjadi 25,5% (yoy) pada November 2017. Kredit yang disalurkan perbankan pada akhir November 2017 tercatat Rp4.635,0 triliun atau tumbuh 7,4% (yoy), lebih rendah dibandingkan bulan Oktober 2017 yang tumbuh 8,1% (yoy). Sementara itu, aktiva luar negeri bersih tumbuh melambat dari 18,1% (yoy) pada Oktober 2017 menjadi 17,2% (yoy) pada November. Suku bunga kredit dan suku bunga simpanan berjangka kembali menurun yang mencerminkan masih berlangsungnya transmisi penurunan suku bunga kebijakan Bank Indonesia (BI 7-Day Reverse Repo). Pada November 2017, rata-rata suku bunga kredit tercatat 11,45% atau turun 10 basis poin dari bulan sebelumnya. Demikian halnya suku bunga simpanan berjangka dengan tenor 1, 3, 6, 12, dan 24 bulan yang masing-masing tercatat sebesar 5,80%, 6,17%, 6,63%, 6,82% dan 6,72%, turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 5,89%, 6,32%, 6,74%, 6,93% dan 6,93%.

Indonesia Composite Bond Index (ICBI) di hari perdagangan terakhir bulan Desember ditutup menguat +0,15% ke level 242,9842. Demikian pula dengan obligasi pemerintah (INDOBeXG-Total Return) yang naik sebesar +0,16% ke level 240,1978, dan obligasi korporasi (INDOBeXC-Total Return) yang naik +0,06% ke level 253,0558. Kurva IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) dominan bullish dengan rata-rata yield tenor 1-30 tahun turun sebesar –1,43bps. Rata-rata yield SBN tenor menengah (5-7tahun) dan panjang (>7tahun) turun masing-masing sebesar –3,46bps dan –1,69bps. Sedangkan yield tenor pendek (<5tahun) tertekan naik sebesar +1,55bps. Dengan demikian INDOBeXG-Effective Yield Jumat kemarin ditutup turun sebesar –0,0170poin di level 6,4305. Harga SUN benchmark ditutup menguat pada keempat serinya dengan rata-rata naik +25,12bps. Harga seri FR0074 naik paling besar yakni +39,55bps. Sedangkan penguatan harga terendah dialami FR0061 sebesar +11,51bps. Penguatan harga 4 seri benchmark yang sejalan dengan penguatan mayoritas seri seri SBN tipe FR dan ORI lainnya dengan rata-rata +12,42bps turut mendorong kenaikan pada INDOBeXG-Clean Price sebesar +0,14% ke level 119,6233. Aktivitas transaksi obligasi di pasar sekunder Jumat lalu menurun dari sisi total frekuensi perdagangan sebesar –30,38% dari 688 kali menjadi 479 kali. Begitu pula pada total volume yang turun sebesar –33,71% dari Rp14,54tn menjadi Rp9,64tn. Penurunan volume transaksi pada SUN tenor pendek dan menengah menjadi pemicu turunnya total volume dengan penurunan masing-masing sebesar: tenor pendek Rp3,36tn dan tenor menengah Rp194miliar. Seri FR0074 mencatat total volume terbesar senilai Rp3,61tn (frekuensi 14 kali), sedangkan transaksi teraktif dicatatkan FR0075 sebanyak 73 kali (volume Rp337miliar). Untuk obligasi korporasi, seri teraktif ditransaksikan oleh BBKP01SBCN1 sebanyak 11 kali (Rp58miliar) dan total volume terbesar dicatatkan seri BMTR01ACN1 senilai Rp316miliar. Pasar obligasi domestik meneruskan kinerja positifnya hingga penutupan perdagangan akhir tahun 2017 Jumat kemarin. Bertahannya penguatan pasar SBN ditengah sepinya transaksi jelang libur panjang akhir tahun diperkirakan lebih terdorong oleh respon positif pasar terhadap penguatan fundamental ekonomi domestik. Selain itu menurunnya persepsi risiko investor global terhadap pasar dalam negeri yang tercermin dari penurunan CDS Indonesia tenor 5-tahun juga memicu rally-nya kinerja pasar. Dengan demikian, sepanjang tahun 2017, indikator return pasar obligasi yang tercermin dari ICBI menguat +16,57%ytd. Sebagai informasi, pada perdagangan pasar sekunder hari ini resmi diberlakukan seri SUN benchmark baru untuk tahun 2018 yakni FR0063, FR0064, FR0065, dan FR0075. Pada perdagangan hari pertama tahun 2018 ini, pasar obligasi domestik berpotensi meneruskan penguatan yang terjadi sejak akhir tahun kemarin. Katalis positif berasal dari data inflasi Indonesia full year 2017 yang diperkirakan tetap terkendali di level 3,40% atau berada dalam kisaran bawah target BI yang sebesar 4% ± 1%. Masih terjaganya persepsi risiko global terhadap pasar Indonesia diprediksi turut menopang pergerakan pasar hari ini. 

EKONOMI GLOBAL 

Greenback mengakhiri tahun dengan berada di level terendah dalam lebih dari 3 bulan terhadap sejumlah mata uang utama, mencetak penuruan tahunan terbesar sejak 2003. Di sisi pasar komoditas, harga emas berhasil ditutup di atas level $1300 sementara harga minyak mentah naik ke atas level $60 per barel. Berikut potensi pergerakan hari ini:

Emas

Di awal tahun, berlanjutnya pelemahan greenback berpotensi mendongkrak harga emas menuju resisten $1315, terutama setelah data PMI manufaktur Caixin China dirilis di atas estimasi.

Minyak

Rilis data ekonomi China yang positif serta penurunan jumlah rig minyak AS berpotensi melanjutkan kenaikan harga minyak menuju level $62 per barel hari ini.

EURUSD

EURUSD juga berpotensi bergerak naik di tengah pelemahan dollar, dengan target resisten di sekitar 1.2090.

GBPUSD

GBPUSD berpeluang untuk lanjut naik menuju level 1.3650, terutama jika dapat menembus ke atas level 1.3550.

USDJPY

Meski sempat rebound pada sesi Asia, bias masih bearish selama harga bergerak di bawah level 113.10. Target bearish ada di level 112.45 dan 111.85.

AUDUSD

Merespon rilis data PMI manufaktur Caixin China yang positif, AUDUSD berpeluang naik menuju level 0.7870 atau bahkan 0.7930. Support ada di level 0.7730.

USDCAD

Rally harga minyak berpotensi menekan turun USDCAD ke level support 1.2400 hari ini, di tengah pelemahan greenback yang berlanjut.

 

Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Selasa 02/01/2018 pukul 11.21 WIB:

Source: bloomberg/ afp/ xinhua/ bi/ ojk/ kemenkeu/ bps/ reuters/ antara/ ibpa/ kontan/ bisnis/ wartaekonomi/ investordaily/ bbc/ kompas/ liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.

Leave a Comment