Ekonomi Update (Div Treasury & Internasional)

EKONOMI DOMESTIK

Bank Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung setiap langkah penguatan dan penyempurnaan landasan hukum terkait pendalaman pasar keuangan. Salah satunya adalah mengenai kepastian hukum bagi pelaku transaksi derivatif. Demikian mengemuka dalam seminar yang diselenggarakan hari ini (30/1) di Jakarta, yang melibatkan berbagai otoritas terkait, pelaku pasar, dan praktisi. Tujuan utama seminar ini adalah untuk meninjau kembali dan menyamakan persepsi mengenai landasan hukum penyelesaian secara ‘netting’ untuk transaksi derivatif, termasuk kaitannya dengan UU Kepailitan yang berlaku saat ini. Pengembangan transaksi derivatif merupakan salah satu bagian penting dalam usaha pengembangan pasar keuangan. Penyelesaian secara netting dalam transaksi derivatif adalah proses atau metode penyelesaian suatu transaksi dengan memperhitungkan selisih bersih dari total hak dan total kewajiban antara dua pihak yang saling bertransaksi. Dengan demikian, risiko kredit dan risiko setelmen dari suatu transaksi dapat dimitigasi dengan baik. Mekanisme tersebut diyakini dapat meningkatkan upaya pengelolaan risiko keuangan dan menciptakan efisiensi transaksi bagi pelaku transaksi derivatif. Seminar bertujuan mengidentifikasi substansi pengaturan dan proposal yang dapat dilakukan untuk penguatan dan penyempurnaan UU Kepailitan terkait dengan transaksi derivatif sebagai langkah konkret dan terintegrasi dalam pengembangan pasar keuangan, khususnya mekanisme penyelesaian secara netting. Dengan penguatan dan penyempurnaan landasan hukum, transaksi derivatif dapat terselenggara dengan baik dan tumbuh secara sehat serta berkelanjutan di Indonesia. Seluruh usaha tersebut diharapkan dapat mendorong dan mengembangkan pasar keuangan domestik dalam rangka menciptakan pasar keuangan yang dalam, likuid, efisien, inklusif dan aman, sekaligus menjadi fondasi bagi sumber pembiayaan pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), seiring dengan penantian investor akan rapat The Federal Reserve, membuat Rupiah kembali menguat hari ini. Rupiah pun berada di ujung level Rp13.300 per USD. Pasar saham Indonesia pada perdagangan spot exchange rate di pasar Asia menguat 36 poin atau 0,27% menjadi Rp13.398 per USD. Adapun pergerakan harian Rupiah berada di Rp13.391-Rp13.428 per USD. Sementara Yahoofinance mencatat, Rupiah menguat 30 poin atau 0,22% menjadi Rp13.398 per USD. Dalam pantuan Yahoofinance, Rupiah bergerak dalam rentang Rp13.396 per USD hingga Rp13.430 per USD. Kurs dolar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB). Dolar melemah ketika Federal Reserve memulai pertemuan kebijakan dua harinya. Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,14% menjadi 89,799 pada akhir perdagangan. Selain itu, para investor terus mengawasi pertemuan kebijakan Fed untuk petunjuk lebih lanjut tentang laju kenaikan suku bunga bank sentral pada 2018. Namun, sebagian besar analis yakin Fed tidak akan menaikkan suku bunga pada pertemuan ini. Menurut alat FedWatch CME Group, ekspektasi pasar untuk kenaikan suku bunga hanya 5,2%. Sementara itu, Indeks Kepercayaan Konsumenh Conference Board tercatat 125,4 pada Januari, naik dari 123,1 pada Desember dan mengalahkan konsensus pasar.

Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada perdagangan Selasa ditutup melemah –0,31% di level 245,0216. Pelemahan juga terjadi pada kedua indeks total return lainnya. INDOBeXG-Total Return (obligasi pemerintah) turun –0,32% ke level 242,1869, dan INDOBeXC-Total Return (obligasi korporasi) turun –0,22% ke level 255,3545. Kurva yield IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) kemarin berpola bearish dengan rata-rata yield pada seluruh tenor (1-30tahun) naik +5,66bps. Rata-rata yield untuk masing-masing kelompok tenor naik sebesar: tenor pendek (<5tahun) +6,86bps, tenor menengah (5-7tahun) +7,38bps, dan tenor panjang (>7tahun) +5,23bps. Sehingga, INDOBeXG-Effective Yield pada sesi end of day kemarin semakin tertekan naik ke level 6,3613 (+0,0582poin). Tekanan koreksi pada harga kelompok seri SUN benchmark mulai mereda. Harga seri FR0063 ditutup menguat +12,26bps, sementara harga ketiga seri lainnya berlanjut melemah pada kisaran –13,09bps hingga –71,44bps. Rata-rata harga SUN benchmark kemarin tercatat turun sebesar —24,81bps, namun secara keseluruhan rata-rata penurunan untuk harga SBN tipe FR adalah sebesar –39,02bps. INDOBeXG-Clean Price kemarin ditutup melemah –0,35% di level 119,8497. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder kemarin cenderung mendatar. Total frekuensi naik +0,39% dari 1.022 kali menjadi 1.026 kali, dan total volume naik +6,42% dari Rp18,92tn menjadi Rp20,14tn. Namun untuk transaksi SUN benchmark kemarin berlangsung lebih semarak terpicu oleh hasil lelang. Total volume untuk seri FR0063 dan FR0064 (dua dari tiga seri FR yang dilelang) masing-masing naik sebesar Rp1,41tn dan Rp1,31tn. Seri FR0064 sekaligus mencatatkan total volume transaksi terbesar hingga mencapai Rp3,18tn (105 kali transaksi). Untuk obligasi korporasi, total volume transaksi terbesar dicatatkan oleh seri PNBN02SBCN2 yakni Rp166miliar (8 kali transaksi). Pasar obligasi hingga penutupan kemarin belum sanggup keluar dari tren pelemahannya. Rencana the Fed yang akan merevisi target inflasinya menjadi concern pasar saat ini, dan memicu naiknya ekspektasi risiko di global. Sebagaimana diketahui target inflasi menjadi penentu arah kebijakan moneter yang akan ditempuh the Fed selanjutnya. Pada Selasa kemarin, CDS Indonesia tenor 5-tahun yakni salah satu indikator persepsi risiko global tampak tertekan naik hingga +3,30bps. Disamping wait and see FOMC Meeting, Saat ini pasar juga sedang menanti isi pidato kenegaraan Donald Trump di Washington pada Selasa waktu setempat. Meningkatnya ketidakpastian global berdampak pada pelaksanaan lelang SBN yang kemarin dengan hanya mencatatkan oversubscribed/kelebihan penawaran masuk sebesar 2,78 kali. Dan sejalan dengan itu, pemerintah juga hanya memenangkan dana lelang sedikit lebih tinggi dari target indikatif minimum-nya yakni sebesar Rp17,55tn. Tren koreksi berpotensi berlanjut mewarnai mayoritas harga SBN terpicu faktor the Fed. Selain itu, adanya kemungkinan aliran dana keluar asing dari pasar SBN diperkirakan dapat semakin menekan performa pasar obligasi. 

EKONOMI GLOBAL 

Federal Reserve AS akan mengumumkan kebijakan moneter pada pukul 2:00 WIB Kamis dini hari, dan kemungkinan akan terjadi pergerakan besar di pasar. Meski suku bunga diperkirakan belum akan dinaikkan, namun sikap optimis jika suku bunga akan naik tiga kali di tahun ini dapat memicu penguatan dolar dan menekan emas. Pidato Presiden AS, Donald Trump, mulai pukul 9:00 WIB juga dapat menggerakan pasar.

Potensi Pergerakan

Emas
Sikap optimis The Fed berpotensi besar membawa harga emas turun ke area 1325, terlebih jika mampu menembus support 1331. Resisten terdekat di kisaran 1343.

Minyak Mentah

Laporan API yang menunjukkan kenaikan stok di AS membuat harga minyak mentah turun lebih dari 2% pada hari Selasa. Jika EIA pada pukul 22:30 WIB juga melaporkan peningkatan stok, minyak berpeluang turun ke area 62.50, dengan resisten terdekat di kisaran 64.50.

EURUSD

Penguatan EURUSD pada hari Selasa terpangkas akibat Jerman yang mengalami deflasi. Jika data CPI zona euro pukul 17:00 WIB dirilis lebih rendah dari estimasi 1,3%, EURUSD berpeluang melemah ke 1.2300. Resisten di kisaran 1.2455.

GBPUSD

Gubernur BoE yang mengatakan kebijakan moneter saat ini lebih ke arah konvensional membuat GBPUSD berbalik menguat Selasa kemarin. Jika mampu menembus konsisten di atas resisten 1.4160, GBPUSD berpeluang naik kembali dengan target ke area 1.4260. Selama bertahan di atas support 1.4095, GBPUSD masih cenderung menguat.

USDJPY

Anjloknya bursa saham AS membuat USDJPY turun pada hari Selasa, namun berpotensi naik jika data ADP AS pukul 20:15 WIB dirilis lebih dari 186K dan jika The Fed optimis suku bunga dinaikkan 3 kali di tahun ini. Target kenaikan ke 109.60, dengan support di kisaran 108.20.

AUDUSD
AUDUSD lebih dari 50 pip dari level tertinggi harian begitu data inflasi Australia dirilis lebih rendah dari estimasi pada pukul 8:30 WIB. AUDUSD berpeluang turun lebih lanjut dengan target ke 0.8000 selama tertahan di bawah level 0.8100.

Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Rabu 31/01/2018 pukul 12.17 WIB:

Source: bloomberg/ afp/ xinhua/ bi/ ojk/ kemenkeu/ bps/ reuters/ antara/ ibpa/ kontan/ bisnis/ wartaekonomi/ investordaily/ bbc/ kompas/ liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.

Leave a Comment