Depresiasi rupiah yang terjadi akhir-akhir ini kami pandang lebih disebabkan oleh penguatan mata uang AS (USD)

  • Depresiasi rupiah yang terjadi akhir-akhir ini kami pandang lebih disebabkan oleh penguatan mata uang AS (USD) terhadap hampir semua mata uang dunia (broad based). Penguatan USD ini tersebut adalah dampak dari berlanjutnya kenaikan yield UST (suku bunga obligasi negara AS) hingga mencapai 3,03% (tertinggi sejak tahun 2013). Selain itu, depresiasi rupiah juga terkait faktor musiman permintan valas yang meningkat pada triwulan II antara lain untuk keperluan pembayaran ULN dan pembiayaan impor, dan dividen. Fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang kuat. Inflasi masih sesuai dengan kisaran 3,5+1%, defisit transaksi berjalan lebih rendah dari batas aman 3% PDB, momentum pertumbuhan ekonomi berlanjut diikuti oleh struktur pertumbuhan yang lebih baik, dan stabilitas sistem keuangan yang tetap kuat. Kepercayaan asing juga terus membaik yang tercermin pada upgrade rating Indonesia oleh Moody’s, JCRA, dan R&I serta dimasukkannya obligasi negara ke dalam Bloomberg Global Bond Index. Sampai dengan hari Kamis tanggal 26 April 2018, rupiah terdepresiasi sebesar -0,88% (mtd). Depresiasi rupiah ini masih lebih rendah dibandingkan dengan depresiasi mata uang negara Asia lain termasuk Thailand THB (-1,12%, mtd), Malaysia MYR (-1,24%, mtd), Singapore SGD (-1,17%, mtd), Korea Selatan KRW (-1,38%, mtd), dan India INR (-2,4%, mtd). Dengan memperhatikan perkembangan tersebut, Bank Indonesia telah melakukan langkah-langkah stabilisasi baik di pasar valas maupun pasar SBN (dual intervention) untuk meminimalkan depresiasi yang terlalu cepat dan berlebihan. Ke depan, untuk memperkuat upaya stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya dengan tetap mendorong mekanisme pasar, Bank Indonesia akan menempuh langkah-langkah sebagai berikut :
  1. Senantiasa berada di pasar untuk memastikan tersedianya likuiditas dalam jumlah yang memadai baik valas maupun rupiah;
  2. Memantau dengan seksama perkembangan perekonomian global dan dampaknya terhadap perekonomian domestik;
  3. Mempersiapkan 2nd line of defense bersama dengan institusi eksternal terkait;
  4. Apabila tekanan terhadap nilai tukar terus berlanjut serta berpotensi menghambat pencapaian sasaran inflasi dan menganggu stabilitas sistem keuangan, yang merupakan mandat Bank Indonesia, Bank Indonesia tidak menutup ruang bagi penyesuaian suku bunga kebijakan BI7DRR. Kebijakan ini tentunya akan dilakukan secara berhati-hati, terukur, dan bersifat data dependence, mengacu pada perkembangan data terkini maupun perkiraan ke depan.
  • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup semakin turun ke level 240,3325 pada perdagangan kemarin atau turun –0,57% dari penutupan Rabu. Indeks total return obligasi pemerintah (INDOBeXG-Total Return) bahkan turun lebih besar yakni –0,60% ke level 236,9952. Sementara INDOBeXC-Total Return (obligasi korporasi) turun –0,38% ke level 254,2774. Kurva yield IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) bergerak bearish. Rata-rata yield tenor 1-30tahun naik makin tinggi sebesar +9,01bps. Yield tenor 2-tahun tertekan naik paling tinggi hingga mencapai +18,81bps. Sementara kenaikan yield terendah dicatatkan tenor 29&30-tahun sebesar +5,45bps. INDOBeXG-Effective Yield Index kemarin ditutup di level 7,0880 atau +0,1189poin lebih tinggi dari penutupan sebelumnya. Koreksi harga yang melanda kelompok seri SUN acuan tampak mereda dengan rata-rata pada keempat serinya turun –31,42bps. Bahkan harga seri FR0064 berhasil rebound yakni naik +15,18bps. Sementara harga 3 seri acuan lainnya turun di rentang –2,78bps hingga –80,54bps. Secara keseluruhan, rata-rata harga seri SBN tipe FR dan ORI pada perdagangan Kamis mencatatkan penurunan sebesar –57,84bps. INDOBeXG-Clean Price kemarin turun –0,63% ke level 115,1604. Aktivitas pasar sekunder obligasi tampak turun dari sisi frekuensi yakni sebesar -23,97% menjadi 790 kali dari 1.039 kali. Total volume naik +52,17% menjadi Rp24,74tn dari Rp16,26tn. Transaksi SUN mencatatkan kenaikan volume pada seluruh tenornya dengan total akumulasi mencapai Rp9,15tn dalam sehari. Volume transaksi SUN tenor panjang naik paling besar hingga Rp5,94tn. Seri FR0064 mencatatkan total volume terbesar yakni Rp5,15tn (84 transaksi). Namun seri teraktif ditransaksikan adalah FR0075 yakni sebanyak 148 kali (volume Rp1,16tn). Untuk obligasi korporasi, total volume terbesar hanya tercatat sebesar Rp70miliar (4 transaksi). Sementara transaksi teraktif tercatat sebanyak 9 kali oleh FIFA03BCN3. Sehari menjelang hari terakhir perdagangan di pekan ini, pasar obligasi masih tampak belum sanggup keluar dari tekanan. Ditengah meredanya koreksi harga yang melanda mayoritas seri-seri SBN kemarin, tingkat imbal hasil yang diminta investor justru tampak semakin tinggi terutama pada seri-seri bertenor pendek. Tingginya yield yang diminta sejalan dengan tren kenaikan yield US-Treasuries yang hampir menyentuh ke level psikologisnya yakni di level 3,0%. Bahkan yield US-Treasury tenor 10-tahun sempat berada di level 3,0259% pada tanggal 25 April kemarin. Peningkatan yield US-Treasury memicu keluarnya asing dari SBN sehingga semakin menekan performa pasar obligasi domestik. Dalam 3 hari kemarin (23-25 April) asing telah membukukan nilai jual bersih sebesar Rp17,04tn. Senada dengan pasar obligasi, IHSG pada penutupan sesi kedua kemarin ditutup turun cukup dalam sebesar –2,81% di level 5.909,20.
  • Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali dibuka melemah mendekati Rp14.000. Pada perdagangan Jumat (27/4/2018), rupiah tidak banyak bergerak pagi ini dan tertahan di level Rp13.800 per USD. Melansir Bloomberg Dollar Index, Rupiah pada perdagangan spot exchange rate di pasar Asia tercatat berada di Rp13.896 per USD. Rupiah melemah 5 poin atau 0,04%. Adapun pergerakan harian Rupiah pagi ini, berada di kisaran Rp13.875-Rp13.897 per USD. Sementara yahoofinance mencatat, Rupiah berada di angka Rp13.893 per USD. Rupiah melemah 10 poin atau 0,07%. Dalam pantauan yahoofinance, Rupiah bergerak dalam rentang Rp13.867 per USD hingga Rp13.895 per USD. Kurs dolar AS menguat terhadap mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), Dolar makin kokoh karena imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS bertenor 10-tahun naik di atas tingkat psikologis penting 3%. Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, meningkat 0,46% menjadi 91,186 pada akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi USD1,2178 dari USD1,2237 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi USD1,3936 dari USD1,3972 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia jatuh ke USD0,7564 dari USD0,7598. Dolar AS dibeli 109,37 yen Jepang, lebih tinggi dari 108,69 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS meningkat menjadi 0,9829 franc Swiss dari 0,9787 franc Swiss, dan naik menjadi 1,2849 dolar Kanada dari 1,2832 dolar Kanada.

EKONOMI GLOBAL

 

  • Pertemuan tingkat tinggi antara Korea Utara dan Korea Selatan yang dimulai pagi ini akan menjadi perhatian investor selain menanti hasil pertemuan Bank of Japan yang diperkirakan oleh sebagian investor mereka tidak akan mengubah kebijakan moneter ultra longgarnya. Selain itu tentu fokus investor akan tertuju pada pergerakan dollar AS di tengah turunnya yield obligasi Treasury bertenor 10 tahun yang sudah berada di bawah level 3%. Hal tersebut berpotensi untuk memicu pelemahan dollar AS di akhir pekan ini di tengah outlook data GDP AS yang diperkirakan akan lebih rendah dari estimasi sebelumnya. Data penting hari ini adalah BOJ Policy Rate Jepang dengan waktunya tentatif, Pidato SNB Chairman Jordan pukul 15:00 WIB, Prelim GDP Inggris pukul 15:30 WIB, Advance GDP AS pukul 19:30 WIB dan Pidato Gubernur BOE pukul 21:00 WIB.

Potensi pergerakan

Emas

Harga emas berpotensi kembali lanjutkan penurunannya di akhir pekan ini di tengah sentimen menguatnya dollar AS, Wall Street, meredanya ketegangan di semenanjung Korea dan konflik dagang antara AS dengan China untuk menguji level support kunci di $1307. Namun jika data ekonomi AS dirilis lebih buruk dari estimasi berpeluang memicu kenaikan harga emas untuk membidik resisten di $1325 – $1332.

Minyak

Outlook pemberian sanksi dari AS ke Iran, turunnya produksi Venezuela dan masih berlangsungnya permintaan yang kuat, semuanya berpotensi menopang kenaikan harga minyak dalam jangka pendek untuk mengincar resisten di $68.80. Tetapi, harga minyak juga berpeluang untuk melemah menguji support di $67.30 jika investor mempertimbangkan penguatan dollar AS.

EURUSD

Pernyataan European Central Bank yang dipandang pesimis oleh para pelaku pasar setelah mereka mempertahankan suku bunga acuan dan mengatakan bahwa stimulus moneter masih diperlukan beberapa bulan mendatang berpotensi mendorong pelemahan EURUSD untuk menguji support di 1.2030. Rentang perdagangan potensial 1.2030 – 1.2180.

GBPUSD

Masih dipengaruhi oleh pernyataan yang pesimis dari pejabat Bank of England baru-baru ini yang meredupkan ekspektasi kenaikan suku bunga Inggris dalam waktu dekat dan masih belum adanya progres terbaru terkait Brexit berpeluang melemahkan GBPUSD dalam jangka pendek untuk menguji level support di 1.3860. GBPUSD berpeluang untuk rebound menguji resisten di 1.3970 jika data GDP Inggris dirilis lebih baik dari estimasi.

USDJPY

Keputusan moneter Bank of Japan yang dirilis hari ini akan menjadi fokus perhatian investor. Jika mereka mempertahankan kebijakan saat ini, maka berpotensi mendorong pelemahan USDJPY untuk menguji support di 108.50. Namun jika mereka sinyalkan kebijakan yang lebih dovish dari saat ini, maka berpeluang dorong kenaikan USDJPY untuk membidik resisten di 110.00.

AUDUSD

Pelemahan harga komoditas serta penguatan dollar AS masih akan menjadi kombinasi untuk pemicu pelemahan AUDUSD pada hari ini untuk membidik support di 0.7500. Potensi rentang perdagangan 0.7500 – 0.7600.

  • Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Jumat 27/04/2018 pukul 10.38WIB:

Source:bloomberg/afp/xinhua/bi/ojk/kemenkeu/bps/reuters/antara/ibpa/kontan/bisnis/wartaekonomi/investordaily/bbc/kompas/liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.