Ekonomi Update 12 Oktober 2017

    • Pergerakan negatif masih melanda kinerja return pasar obligasi domestik. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) melemah sebesar —0,2309poin ke level 235,8206.
    • Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan peningkatan kapasitas penerimaan pajak penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif di Indonesia.
    • Bank Indonesia menyatakan kartu uang elektronik dari lima bank penerbit akan digratiskan sejak Senin depan atau 16 Oktober hingga 31 Oktober 2017, dari biaya pembelian kartu yang saat ini sebesar Rp20-30 ribu.
    • Aliran kredit akan mengarah ke angka satu digit. Dari laporan indikator likuiditas oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memaparkan, prediksi pertumbuhan kredit sebesar 9,2% per kuartal IV-2017.
    • Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memproyeksi bunga deposito pada kuartal 4 2017 akan mulai mengalami penurunan. Hal ini seiring dengan penurunan suku bunga acuan BI yaitu 7DRR rate.
    • Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat.
    • Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Kamis dibuka menguat sebesar 3,63 poin seiring dengan bursa saham di kawasan Asia.
    • Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan kebijakan moneter yang tepat bisa menjaga stabilitas sistem keuangan global dan mendukung permulihan ekonomi secara keseluruhan.
    • Permintaan minyak mentah di dunia pada tahun ini diproyeksi naik 1,5 juta barel per hari (bph) naik 30.000 bph dibandingkan dengan laporan OPEC sebelumnya 1,47 juta bph.
    • Dollar Amerika Serikat dinilai akan segera ditinggalkan sebagai mata uang cadangan devisa warga dunia.
    • Para pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve melihat, ekonomi negeri Paman Sam mulai tumbuh stabil.
    • Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev mengatakan pihaknya berharap kesepakatan pengurangan produksi OPEC dan non-OPEC yang dicapai Desember lalu berjalan sesuai kesepakatan.

    EKONOMI DOMESTIK

     

    • Pergerakan negatif masih melanda kinerja return pasar obligasi domestik. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) melemah sebesar —0,2309poin ke level 235,8206. Obligasi pemerintah (INDOBeXG-Total Return) melemah —0,2293poin ke level 233,0975. Penurunan juga terjadi pada INDOBeXC-Total Return yakni sebesar —0,2330poin ke level 245,6453. Kurva IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) dalam keadaan tertekan naik untuk seluruh tenornya (1-30tahun) dengan rata-rata —1,88bps. Kelompok tenor pendek (<5tahun) mencatatkan kenaikan yield tertinggi yakni +4,34bps. Kenaikan yield diikuti kemudian oleh tenor menengah (5-7tahun) dan panjang (>7tahun) masing-masing naik +4,11bps dan +1,16bps. Sehingga INDOBeXG-Effective Yield tertekan naik sebesar +0,0250poin ke level 6,7129. Ditengah kenaikan yield, mayoritas seri SUN benchmark bergerak rebound namun dengan rata-rata harga melemah sebesar —0,29bps. Pelemahan tersebut didorong oleh terkoreksinya seri FR0061 yakni sebesar —9,85bps. Sementara ketiga seri lainnya menguat dengan rata-rata +2,90bps. Pelemahan juga dicatatkan oleh seluruh seri FR dan ORI dengan rata-rata sebesar —14,68bps. Dengan demikian, INDOBeXG-Clean Price mengalami pelemahan sebesar —0,1427poin ke level 117,9520. Transaksi perdagangan mengalami penurunan. Frekuensi perdagangan turun sebesar —13,59% dari 714 kali menjadi 617 kali. Total volume perdagangan menurun sebesar —45,39% dari Rp13,31tn menjadi Rp7,27tn. Perdagangan SUN benchmark turut mengalami penurunan frekuensi sebesar —50,00% dari 138 transaksi menjadi 69 transaksi dan penurunan volume sebesar —60,68% dari Rp4,32tn menjadi Rp1,70tn. Seri teraktif dicatatkan oleh FR0075 yang ditransaksikan sebanyak 150 kali dan volume Rp248miliar. Sedangkan obligasi korporasi teraktif dicatatkan oleh PPGD03ACN1 dengan frekuensi 12 kali dan sekaligus mencatatkan volume terbesar yakni Rp792miliar. Pergerakan pasar obligasi domestik yang cenderung bergerak terbatas kemarin didorong oleh wait and see rilis notulensi FOMC bulan September. Selain itu, masih sepinya sentimen positif dari dalam negeri turut mendorong sepinya transaksi perdagangan. Sebagai informasi minuta FOMC kemarin menunjukkan The Fed masih akan bersifat hati-hati sebelum menaikkan suku bunga acuan di Desember nanti. Dengan nada dovish tersebut diperkirakan akan menjadi sentimen positif di pasar obligasi. Sementara nilai tukar Rupiah terhadap USD kemarin melemah sebesar —0,13% ke level Rp13.530/US$ (kurs spot Bloomberg). Senada dengan pasar obligasi, pasar saham kemarin juga dalam kondisi bearish. IHSG ditutup di level 5.882,79 atau turun —22,98poin. Pasar obligasi pada perdagangan Kamis berpeluang untuk bergerak positif. Kondisi tersebut didorong oleh pernyataan dovish The Fed dalam minuta FOMC. Peluang penguatan pasar juga ditunjukkan dengan mulai menurunnya CDS obligasi Indonesia tenor 5-tahun sebagai indikator persepsi risiko investor asing yakni sebesar —0,61bps ke level 100,40bps. Nilai tukar Rupiah terhadap USD di pasar spot pagi ini juga tampak dibuka menguat ke level Rp13.512/USD (Bloomberg).
    • Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan peningkatan kapasitas penerimaan pajak penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif di Indonesia. "Meningkatkan kapasitas pajak merupakan hal yang penting bagi Indonesia untuk mendukung pertumbuhan yang inklusif," ujar Director Fiscal Affairs Department IMF Vitor Gaspar dalam menyampaikan publikasi Fiscal Monitor terbaru di Washington DC, AS, Rabu Waktu Setempat. Gaspar menilai Indonesia dengan kondisi geografi yang memiliki beribu-ribu pulau membutuhkan investasi yang sangat besar dalam penyediaan sarana pendidikan dan kesehatan. Untuk itu, meningkatkan kapasitas penerimaan pajak sangat penting dan tidak akan menghambat pertumbuhan ekonomi, apalagi rasio pajak Indonesia sulit mencapai kisaran 10 persen terhadap PDB. "Negara dengan kondisi geografi seperti Indonesia membutuhkan penyediaan sarana infrastruktur yang memadai, untuk itu meningkatkan kapasitas pajak menjadi hal penting dilakukan," jelas Gaspar. Sebelumnya, IMF dalam publikasi Fiscal Monitor terbaru menyampaikan menyatakan kebijakan fiskal yang memadai bisa membantu untuk menyelesaikan persoalan kesenjangan dan ketimpangan yang masih terjadi di berbagai negara. Gaspar menyampaikan salah satu kebijakan fiskal itu adalah dengan menerapkan tarif pajak yang progresif agar pajak dapat lebih optimal dalam menjalankan fungsi redistribusi. Kebijakan fiskal lainnya adalah dengan menerapkan pemberian subsidi uang tunai berupa Universal Basic Income (UBI) kepada para penduduk kurang mampu secara merata. Kebijakan fiskal selanjutnya adalah memastikan pajak tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk investasi dalam pendidikan dan kesehatan.
    • Bank Indonesia menyatakan kartu uang elektronik dari lima bank penerbit akan digratiskan sejak Senin depan atau 16 Oktober hingga 31 Oktober 2017, dari biaya pembelian kartu yang saat ini sebesar Rp20-30 ribu. Direktur Elektronifikasi Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI Pungky Wibowo saat dihubungi Antara di Jakarta, Selasa, mengatakan pengguna jalan tol yang belum memiliki kartu uang elektronik akan mendapat satu keping kartu, tanpa biaya saat hendak memasuki pintu tol. "Ini khusus yang belum punya ya. Kesadaran dan kejujuran masyarakat sangat diutamakan," ujar dia. Namun, yang digratiskan adalah biaya kartu uang elektroniknya saja. Saldo dalam uang elektronik tetap harus dibayar pengguna. "Itu program dari Badan Usaha Jalan Tol di bawah supervisi Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). Dan juga program dari perbankan," ujarnya. Kartu uang elektronik gratis itu dari lima bank penerbit yakni Bank Rakyat Indonesia, Bank Negara Indonesia, Bank Mandiri, Bank Tabungan Negara (co-branding), dan Bank Central Asia. Pungky berharap keringanan biaya ini dapat mendorong penggunaan alat bayar uang elektronik di jalan tol, sebelum penerapan 100 persen elektronifikasi pembayaran tol pada 31 Oktober 2017 mendatang. Hingga 6 Oktober 2017, menurut BPJT, pembayaran non tunai menggunakan uang elektronik pada gerbang tol sudah mencapai 72 persen dari total transaksi pembayaran. Pembayaran non-tunai juga sudah diaplikasikan pada 36 ruas jalan tol utama yang dikelola 11 Badan Usaha Jalan Tol (BUJT).
    • Aliran kredit akan mengarah ke angka satu digit. Dari laporan indikator likuiditas oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memaparkan, prediksi pertumbuhan kredit sebesar 9,2% per kuartal IV-2017. Angka ini tak berbeda jauh dengan proyeksi pertumbuhan kredit 9,0% di kuartal III-2017. Kepala Group Risiko Perekonomian dan Sistem Keuangan LPS Dody Arifianto mengatakan, ada dua alasan yang menjadi penyebab perlambatan kredit di kuartal akhir ini. Pertama, pelaku usaha masih cenderung menahan diri untuk ekspansi. Kedua, bank lebih selektif dalam menyalurkan kredit. Nah, penopang pertumbuhan kredit hingga akhir tahun ini akan berasal dari empat sektor. Yakni, kredit untuk sektor konstruksi, infrastruktur, jasa dan konsumsi. Pada laporan Statistik Perbankan Indonesia (SPI) per Juli 2017, total kredit konstruksi sebesar Rp 238,16 triliun dengan nilai kredit bermasalah Rp 8,96 triliun. Dody menambahkan, permintaan kredit yang belum pulih membuat kondisi likuiditas relatif longgar. LPS memperkirakan, dana pihak ketiga (DPK) hanya tumbuh 7,2% di kuartal IV-2017, atau lebih rendah dari proyeksi pertumbuhan DPK sebesar 10,5% pada kuartal III-2017. Ke depan, LPS mewanti-wanti akan adanya potensi pengalihan dana dari perbankan ke instrumen lain di luar produk bank. Karena instrumen lain tersebut memberikan perbedaan imbal hasil (yield) yang lebih baik. Sementara itu, Deputi Komisioner Pengawas Perbankan IV Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Slamet Edy Purnomo optimistis target pertumbuhan kredit perbankan akan sesuai rencana bisnis bank (RBB) di tahun ini. Regulator perbankan ini meramalkan kredit akan tumbuh 11%-12% di tahun ini. Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Maryono mengklaim, pertumbuhan kredit berjalan dengan baik. Bank berkode saham BBTN ini mencatat pertumbuhan kredit di atas 20% di kuartal III-2017. "Hal ini didorong oleh permintaan kredit pemilikan rumah (KPR)," kata Maryono. Dari laporan bulanan, BTN mencatat penyaluran kredit sebesar Rp 165,09 triliun per Agustus 2017. Angka ini naik 19,41% dibandingkan posisi kredit Rp 138,24 triliun per Agustus 2016.
    • Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memproyeksi bunga deposito pada kuartal 4 2017 akan mulai mengalami penurunan. Hal ini seiring dengan penurunan suku bunga acuan BI yaitu 7DRR rate. Dody Arifianto, Kepala Group Risiko Perekonomian dan Sistem Keuangan LPS bilang kondisi likuiditas yang relatif longgar karena permintaan kredit yang belum pulih bisa mendorong bunga simpanan turun lebih lanjut. "Perlu diperhatikan adanya potensi pengalihan dana dari perbankan ke instrumen lain di luar produk bank akibat perbedaan imbal hasil," kata Dody dalam keterangan tertulis, Rabu (11/10). Secara umum menurut Dody, penurunan 7DRR rate dan tingkat bunga penjaminan LPS diproyeksi akan mempengaruhi ekspektasi tingkat bunga pasar perbankan. Maryono, Direktur Utama BTN bilang terkait bunga deposito bank sudah menurunkan di beberapa tenor yang sudah jatuh tempo. "Hal ini berpengaruh ke bunga kredit perbankan BTN beberapa waktu kedepan," kata Maryono. Saat ini tercatat suku bunga kredit BTN ada yang sudah satu digit yaitu kredit KPR rumah sederhana sehat yaitu 9,5%.
    • Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat. Rupiah pagi ini menguat ke level Rp13.523 per USD. Melansir Bloomberg Dollar Index, Rupiah pada perdagangan spot exchange rate di pasar Asia menguat 7 poin atau 0,05% menjadi Rp13.523 per USD. Adapun pergerakan harian Rupiah berada di angka Rp13.511-Rp13.531 per USD. Sementara Yahoofinance mencatat, Rupiah melemah tipis 12 poin atau 0,09% menjadi Rp13.523 per USD. Dalam pantuan Yahoofinance, Rupiah bergerak dalam rentang Rp13.505 per USD hingga Rp13.523 per USD. Seperti diketahui, kurs dolar AS terus melemah terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada Rabu (Kamis pagi WIB), karena para investor terutama mencerna risalah dari pertemuan Federal Reserve AS yang baru dirilis. "Banyak peserta terus percaya bahwa tekanan siklikal yang terkait dengan pasar tenaga kerja yang mengetat atau ekonomi yang beroperasi di atas potensinya, cenderung menunjukkan inflasi lebih tinggi dalam jangka menengah," menurut risalah. Selain itu, banyak pejabat Fed menilai bahwa setidaknya sebagian dari pelemahan inflasi tahun ini adalah hasil dari faktor-faktor istimewa atau satu kali, dan, akibatnya, dampaknya cenderung memudar dari waktu ke waktu. Namun, perkembangan lainnya, seperti dampak perubahan awal terhadap program perawatan kesehatan pemerintah yang telah menahan penurunan biaya perawatan kesehatan, mungkin terus berlanjut untuk beberapa waktu.
    • Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Kamis dibuka menguat sebesar 3,63 poin seiring dengan bursa saham di kawasan Asia. IHSG BEI dibuka menguat 3,63 poin atau 0,06 persen menjadi 5.886,42 poin. Sementara itu kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 0,26 poin (0,08 persen) menjadi 977,79 poin. "Bursa saham di kawasan Asia yang bergerak menguat berimbas positif pada pergerakan IHSG," kata Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Kamis. Ia menambahkan bahwa salah satu faktor yang memicu penguatan saham eksternal itu tertundanya deklarasi kemerdekaan Katalunia di Spanyol, situasi itu secara tidak langsung dianggap mengurangi faktor risiko pasar. Dari dalam negeri, lanjut dia, pelaku pasar juga masih merespon positif terhadap data ekonomi yang telah dirilis. Ekonomi nasional berpotensi melanjutkan pertumbuhan yang berkesinambungan. Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere menambahkan bahwa saham-saham berkapitalisasi besar di dalam negeri yang kembali menguat turut menopang pergerakan IHSG bergerak di area positif. "Tekanan atas saham berkapitalisasi besar cenderung mulai mereda, kondisi itu memberi peluang bagi IHSG kembali bergerak menguat," katanya. Bursa regional, di antaranya indeks bursa Nikkei naik 92,95 poin (0,45 persen) ke 20.974,22, indeks Hang Seng melemah 9,65 poin (0,03 persen) ke 28.379,92, dan Straits Times menguat 22,35 poin (0,66 persen) ke posisi 3.302,90.

     

    EKONOMI GLOBAL

    • Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan kebijakan moneter yang tepat bisa menjaga stabilitas sistem keuangan global dan mendukung permulihan ekonomi secara keseluruhan. "Pembuat kebijakan harus menyediakan kebijakan moneter yang layak untuk mendukung pemulihan dan mengatasi persoalan ketidakpastian di sektor keuangan," kata Financial Counsellor IMF Tobias Adrian dalam menyampaikan publikasi Global Financial Stability Report (GFSR) terbaru di Washington DC, AS, Rabu. Adrian mengatakan kebijakan moneter yang bisa dilakukan antara lain memastikan adanya kebijakan normalisasi moneter yang lebih "smooth" melalui komunikasi yang mudah dipahami pelaku pasar agar tidak terjadi guncangan. "Regulator juga perlu menghasilkan kebijakan makroprudensial untuk mengantisipasi risiko yang bisa mengganggu stabilitas," ujarnya. Selain itu, kata Adrian, bank-bank besar juga perlu meningkatkan fokus terhadap model bisnis agar dapat lebih mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan global. "Kami memproyeksikan sekitar sepertiga bank-bank global, dengan jumlah aset mencapai 17 trilliun dolar AS, akan kesulitan dalam menjaga profitabilitas secara berkelanjutan untuk memastikan adanya ketahanan," katanya. Adrian mengatakan negara berkembang juga perlu untuk melanjutkan pembiayaan guna mengatasi ketidakpastian dengan menurunkan utang sektor swasta dan mendorong pengelolaan utang luar negeri. "Pemangku kebijakan di China juga perlu mengatasi ketidakpastian dan memastikan adanya reformasi agar ekonomi tidak terlalu bergantung dari pertumbuhan kredit yang sangat cepat," tambah Adrian. Adrian memastikan meski saat ini sistem keuangan global masih dalam keadaan kuat, namun berbagai kebijakan itu dapat dilakukan agar tidak terlalu rentan terhadap adanya gejolak. Ia menambahkan saat ini terdapat lima risiko yang membuat sistem keuangan global menjadi rentan yaitu kondisi pasar yang masih berisiko, tingkat utang yang meningkat diantara negara G20 dan rasio pinjaman yang naik di negara berkembang dan negara dengan berpendapatan kecil. Kemudian, skala ekspansi dari pertumbuhan kredit di China yang terlalu cepat serta tekanan eksternal lainnya seperti risiko geopolitik dan kemungkinan proyeksi ekonomi global yang mengalami penurunan.
    • Permintaan minyak mentah di dunia pada tahun ini diproyeksi naik 1,5 juta barel per hari (bph) naik 30.000 bph dibandingkan dengan laporan OPEC sebelumnya 1,47 juta bph. Revisi proyeksi permintaan minyak mentah pada tahun ini berdasarkan data terakhir yang menunjukkan adanya peningkatan kegiatan ekonomi global, sepert dikutip dari Laporan Bulanan OPEC, edisi 11 Oktober 2017. Revisi positif itu terutama disebabkan oleh permintaan minyak dari wilayah OECD dan China dari perkiraan awal. Pada 2018, permintaan minyak dunia diperkirakan tumbuh sebesar 1,4 juta bph. Perbaikan perekonomian di Rusia dan China diproyeksi menjadi pemicu kenaikan harga emas hitam tersebut. Sementara itu, pasokan minyak di luar anggota OPEC pada tahun ini akan naik 700.000 bph. Produksi minyak mentah OPEC meningkat sebesar 88.000 bph menjadi rerata 32,75 juta bph sepanjang tahun ini. Harga minyak mentah berdasarkan Reference OPCE naik ke US$53.44 per barel selama September 2017, tertinggi sejak Juli 2015.
    • Dollar Amerika Serikat dinilai akan segera ditinggalkan sebagai mata uang cadangan devisa warga dunia. Menurut head of FX strategy Saxo Bank, penyebabnya adalah faktor tekanan geopolitik. Dalam laporan outlook kuartalan berjudul "Dunia mulai berpaling dari si perkasa dollar", John Hardy mengklaim bahwa mata uang AS saat ini sudah disfungsional dan akan cepat digantikan dengan mata uang lain. Pengamat mata uang ini juga menggarisbawahi, ada tiga isu geopolitik yang saat ini menekan status dollar. Pertama, kian meningkatnya peran China dengan asumsi peran China dalam perdagangan global dan pasar finansial semakin besar -khususnya bagaimana China akan menangani kebijakan dan membludaknya gelembung kredit- pada perhelatan Kongres Partai yang dijadwalkan Oktober 2017 tanpa berdampak negatif pada ekonomi domestik dan perekonomian global. Kedua, rezim Korea Utara berupaya keras mempertahankan kredibilitas dan menjadi pihak yang tak bisa tersentuh sebagai negara dengan kekuatan nuklir. Hal ini berdampak pada hubungan antara China dengan AS, bahkan juga Jepang melalui ancaman-ancaman domestik dan kebijakan luar negeri. Ketiga, kian longgarnya aliansi transatlantik antara AS-Eropa dan bagaimana Eropa dan Uni Eropa kian menancapkan kakinya sebagai negara adidaya yang lebih independen -atau tidak- dalam haknya sendiri setelah pemilihan umum Jerman. Hardy menekankan pada kata "de-dollarization" sebagai tema utama yang dapat ditarik dari situasi China karena negara tersebut tampaknya terus mendorong permintaan yuan. "China memandang banyaknya keuntungan dari penggunaan mata uang sendiri untuk menggantikan peran dollar AS dalam perdagangan global. Fokus awalnya adalah pada perdagangan minyak global, di mana China telah mengumumkan niatannya untuk membeli minyak dalam yuan dan memperbolehkan mitra dagangnya untuk menukarkan yuan dengan emas," paparnya. Hardy mengatakan, menukarkan yuan dengan emas adalah langkah cerdas Beijing karena memberikan kenyamanan yang lebih tinggi bagi negara-negara pengekspor minyak. Mengingatkan saja, China merupakan negara pengimpor minyak mentah terbesar di dunia. Analis memperkirakan, mempertahankan kestabilan mata uang saat membeli minyak dalam yuan merupakan langkah awal untuk meningkatkan permintaan global atas renminbi. "Rusia dan Iran, yang telah lama menderita di sektor finansial dan perdagangan akibat sanksi AS, akan menjadi peserta yang bahagia dalam skema ini. Ujian yang lebih besar adalah apakah sekutu tradisional AS, seperti Arab Saudi, bersedia mengambil risiko kemarahan Amerika Serikat dengan menyetujui menerima yuan untuk pembelian minyak," kata Hardy. Pada poin kedua, analis mengatakan Eropa dan Jepang tidak akan terlalu bergantung pada dolar AS karena mereka semakin beralih pada kebijakan fiskal untuk memecahkan masalah domestik. Hardy menambahkan, meskipun outlook-nya terhadap dollar untuk jangka panjang negatif, tapi dia menilai dollar memiliki kemungkinan menguat dalam jangka pendek. Kondisi ini terkait dengan penunjukan pemimpin The Federal Reserve selanjutnya.
    • Para pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve melihat, ekonomi negeri Paman Sam mulai tumbuh stabil. Para pejabat ini juga melihat bahwa kenaikan suku bunga hampir pasti di akhir tahun meski beberapa pejabat melihat inflasi belum mencapai target. Notulen rapat The Fed bulan September menunjukkan bahwa anggota Federal Open Market Committee (FOMC) mengantisipasi bahwa lambatnya inflasi akan teratasi. Bank sentral optimistis pada akhirnya target inflasi 2% akan tercapai seiring pertumbuhan ekonomi yang sehat. Dengan sentimen tersebut, FOMC mengindikasikan kepastian adanya kenaikan suku bunga Fed Fund Rate sekali lagi tahun ini. "Konsisten dengan ekspektasi bahwa kenaikan bertahap Fed Fund Rate memang diperlukan, banyak partisipan memastikan adanya kenaikan suku bunga sekali lagi jika outlook jangka menengah tidak berubah," ungkap ringkasan rapat bank sentral AS yang rilis Rabu (11/10) waktu setempat. Kenaikan suku bunga ini diperkirakan akan terjadi Desember 2017. Keputusan ini kemungkinan besar akan dijalankan meski tingkat inflasi AS masih berada di level 1,4%. "Sebagian besar partisipan melihat bahwa inflasi yang masih lambat tahun ini merupakan hasil dari kondisi khusus dan akan memudar," ungkap notulen tersebut. Pada September, FOMC menahan suku bunga dan mengumumkan rencana penurunan neraca mulai bulan Oktober. Penurunan akan dijalankan lewat pelepasan surat utang yang jatuh tempo. Para anggota FOMC optimistis bahwa reaksi pasar akan minimal.
    • Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev mengatakan pihaknya berharap kesepakatan pengurangan produksi OPEC dan non-OPEC yang dicapai Desember lalu berjalan sesuai kesepakatan. Lebih jauh, dia mengharapkan kerja sama lebih lanjut mengenai pemantauan kepatuhan antara negara-negara anggota. Pihak Rusia berasumsi bahwa kesepakatan yang telah dicapai sedang dijalankan dengan komitmen tinggi dan membantu mempertahankan harga minyak mentah dalam batas-batas yang wajar. Jika harga menguat, ekonomi di negara pengekspor mendapatkan peluang pertumbuhan tambahan. "Masalah pemantauan sama pentingnya, dan kami juga mengatasinya bersama mitra kami. Kami mengharapkan kerja sama lebih lanjut dengan Aljazair, teman kami," pungkasnya. Saat penulisan, harga minyak berada di level $51.07 per barel, naik 18 sen.

     

    Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

    Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.