Ekonomi Update 10 Oktober 2017

    • Penjualan eceran pada Agustus 2017 tumbuh meningkat.
    • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) mengalami penurunan pada hari Senin ke level 236,2611 (—0,04%).
    • Persatuan bank nasional (Perbanas) memproyeksi dengan dicabutnya relaksasi restrukturisasi pada akhir Agustus 2017, ini bisa meningkatkan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL).
    • Penciptaan 4 juta lapangan kerja baru, kenaikan upah dan delapan kali pemangkasan suku bunga seharusnya mempunyai daya dorong yang besar untuk memicu belanja konsumen Indonesia.
    • Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) menilai peningkatan kapasitas bank pembangunan daerah (BPD) merupakan hal yang penting mengingat potensi BPD yang besar dalam membuka akses keuangan kepada masyarakat.
    • Analis di Nomura Bank menjelaskan mereka pesimistis terhadap rencana reformasi pajak pemerintahan Pesiden Donald Trump yang akan diluncurkan awal 2018.
    • Analis di National Australia Bank (NAB) memberikan pandangan mereka terhadap dolar Australia minggu ini.
    • European Central Bank (ECB) mengungkapkan bahwa perbankan Zona Euro telah siap menghadapi kenaikan suku bunga.
    • Aktivitas bisnis sektor jasa China melambat ke level terendah dalam 21 bulan terakhir.
    • Bursa saham kawasan Asia dibuka mixed cenderung menguat.

    EKONOMI DOMESTIK

     

    • Penjualan eceran pada Agustus 2017 tumbuh meningkat. Hal tersebut tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) hasil Survei Penjualan Eceran Agustus 2017 yang tumbuh 2,2% (yoy), setelah pada bulan sebelumnya terkontraksi 3,3% (yoy). Peningkatan penjualan terutama terjadi pada kelompok makanan yang tumbuh 7,9% (yoy), meningkat dibandingkan -0,3% (yoy) pada Juli 2017. Sementara itu, penjualan kelompok non makanan menunjukkan perbaikan meskipun masih terbatas. Secara regional, peningkatan pertumbuhan tahunan IPR terbesar terjadi di kota Semarang. Pertumbuhan penjualan eceran yang meningkat diperkirakan berlanjut pada September 2017. Hal ini terindikasi dari IPR September 2017 yang tumbuh 2,4% (yoy). Peningkatan penjualan ritel ditopang oleh kelompok makanan yang diperkirakan masih tumbuh relatif stabil, disertai perbaikan penjualan ritel pada kelompok non makanan walaupun masih tumbuh negatif. Survei mengindikasikan tekanan kenaikan harga di tingkat pedagang eceran tiga bulan mendatang (November 2017) meningkat. Indikasi tersebut tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) 3 bulan yang akan datang sebesar 145,0 lebih tinggi dari 135,5 pada bulan sebelumnya.
    • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) mengalami penurunan pada hari Senin ke level 236,2611 (—0,04%). Obligasi pemerintah (INDOBeXG-Total Return) berlanjut melemah sebesar —0,05% ke level 233,5569. Namun kinerja return pasar obligasi korporasi yang tercermin dari INDOBeXC-Total Return sanggup menguat sebesar +0,04% ke level 245,9256. Kurva IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) didominasi dengan pola bearish. Rata-rata yield tenor 1-30 tahun naik sebesar +1,49bps. Hanya kelompok tenor pendek (<7tahun) yang mengalami penurunan rata-rata yield yakni —1,51bps. Sementara rata-rata yield kelompok tenor menengah (5-7tahun) dan panjang (>7tahun) masing-masing naik +3,00bps dan +1,82bps. Sehingga INDOBeXG-Effective Yield tertekan naik sebesar +0,0108poin ke level 6,6734. Harga-harga SUN benchmark masih berada dalam zona merah dengan rata-rata harga melemah sebesar —21,15bps. Seri FR0074 terkoreksi paling dalam yakni —46,81bps ke level 103,3016%. Seluruh seri-seri FR dan ORI terpantau didominasi dengan pelemahan harga dengan rata-rata sebesar —12,51bps. Dengan dominasi penurunan harga SBN, maka INDOBeXG-Clean Price turut mengalami pelemahan yakni sebesar —0,1336poin ke level 118,2378. Aktivitas transaksi tampak meningkat. Total frekuensi perdagangan mengalami kenaikan sebesar +10,63% dari 687 kali menjadi 760 kali. Total volume perdagangan turut meningkat sebesar +60,54% dari Rp8,32tn menjadi Rp13,36tn. Untuk transaksi SUN benchmark mengalami peningkatan frekuensi perdagangan sebesar +2,05% dari 146 kali menjadi 149 kali. Volume perdagangan SUN benchmark juga meningkat sebesar +16,26% dari Rp2,94tn menjadi Rp3,41tn. Seri teraktif dicatatkan oleh FR0075 yang ditransaksikan sebanyak 160 kali dan volume Rp374miliar. Sedangkan obligasi korporasi dengan jumlah transaksi terbanyak dicatatkan oleh seri PPGD03CCN1 yang ditransaksikan 10 kali dengan volume transaksi hanya Rp3miliar. Pasar obligasi yang cenderung dalam zona negatif dipicu oleh penguatan ekonomi AS paska menurunnya data pengangguran AS dan rata-rata upah per jam pekerja AS yang melebihi ekspektasi. Disamping itu dari dalam negeri sentimen negatif datang dari penerimaan pajak yang baru mencapai 60% per akhir September. Hal ini mendorong ekspektasi shortfall pajak. Tertekannya pasar obligasi domestik juga terdorong oleh tren pelemahan Rupiah terhadap USD yang pada penutupan kemarin berada di level Rp13.518/US$ (Bloomberg). Tekanan eksternal juga mendorong naiknya persepsi risiko investor asing yang tercermin dari kenaikan CDS obligasi Indonesia untuk tenor 5-tahun sebesar +0,87bps ke level 100,87bps. Sementara kinerja pasar saham secara keseluruhan tampak positif yang ditunjukkan dengan penguatan IHSG ke level 5.914,93 (+0,16%). Pasar obligasi pada hari kedua pekan ini diperkirakan masih dalam kondisi sideways. Kondisi tersebut karena masih belum adanya sentimen utama lanjutan. Pasar masih menanti rilis minuta rapat FOMC. Namun demikian pasar juga berpeluang untuk bergerak positif yang didorong oleh mulai menguatnya Rupiah terhadap USD di pasar spot pagi ini ke level Rp13.497/US$ (Bloomberg).
    • Persatuan bank nasional (Perbanas) memproyeksi dengan dicabutnya relaksasi restrukturisasi pada akhir Agustus 2017, ini bisa meningkatkan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL). Aviliani, Ketua Bidang Pengkajian dan Pengembangan Perhimpunan Bank Nasional Perbanas bilang dengan dicabutnya relaksasi restrukturisasi bisa membuat NPL bank merangkak naik ke level di atas 6%. "Hal ini jika bank pencabutan aturan ini disamaratakan terhadap seluruh debitur," kata Avi, Senin (9/10). Avi bilang seiring dengan pencabutan relaksasi restrukturisasi ini, bank juga masih harus memperhatikan kondisi dari masing-masing debitur. Jika nasabah tersebut masih berprospek, bank jangan langsung menjatuhkan kolektibilitas bank dari dalam perhatian khusus menjadi NPL. OJK dan bank menurut Avi juga harus memantau beberapa debitur yang berpotesi macet ketika dicabut relaksasi ini. Seperti diketahui, relaksasi restrukturisasi kredit tertuang dalam POJK No 11/POJK/03/2015 tentang Ketentuan Kehati-hatian dalam Rangka Stimulus Perekonomian Nasional Bagi Bank Umum. Dengan selesainya relaksasi ini, maka syarat restrukturisasi kembali dari satu pilar menjadi tiga pilar. Tiga pilar yang harus diperhatikan bank ini diantaranya adalah sektor industri, kondisi perusahaan, dan kemampuan membayar. Sebagai informasi sampai Juli 2017 tercatat NPL industri perbankan tercatat sebesar 3%, mayoritas disumbang oleh sektor tambang, komoditas dan konstruksi.
    • Penciptaan 4 juta lapangan kerja baru, kenaikan upah dan delapan kali pemangkasan suku bunga seharusnya mempunyai daya dorong yang besar untuk memicu belanja konsumen Indonesia. Namun kenyataannya, malah semakin banyak konsumen yang mencengkeram erat dompetnya dan memarkir uangnya di bank, membingungkan para pembuat kebijakan dan ekonom. “Semua faktoir yang diperlukan untuk mendorong konsumsi sudah ada,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pekan lalu. “Ini sumgguh membingungkan,” imbuhnya (9/10). Situasi tersebut juga menimbulkan dilema bagi BI, yang telah melonggarkan kebijakan moneternya secara agresif sejak tahun lalu. Pertumbuhan konsumsi pribadi tetap tidak terangkat jauh dari kisaran 5 persen. Sementara itu, peluang untuk memangkas suku bunga lebih lanjut sudah tertutup, menghadapi pengetatan kebijakan moneter AS yang berpotensi menekan nilai tukar rupiah lebih dalam. Pengeluaran konsumen dan dunia usaha merupakan penggerak lebih dari setengah Produk Domestik Bruto Indonesia, sehingga pertumbuhan yang lamban tak ubahnya menarik rem tangan ketika mesin perekonomian yang sedang bergerak melaju. Golman Sachs Group Inc., menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen pada tahun ini sebgaian besar dimotori oleh belanja pemerintah yang lebih tinggi, sedangkan pertumbuhan konsumsi swasta dan penjualan ritel relatif mendatar. “Masalahnya bukan pada daya beli, tapi pada keyakinan untuk membeli barang-barang tahan lama seperti mobil dan sepeda motor,” kata David Sumual, kepala ekonom PT Bank Central Asia, di Jakarta. “Mereka punya uang, tapi tidak mau membelanjakannya, terutama di kelompok berpendapatan menengah-atas,” David menambahkan. Meskipun penyerapan tenaga kejra naik 3,9 persen, dan rata-rata upah bulanan meningkat 24 persen dibanding periode lalu, angka penjualan ritel tetap tumbuh di bawah double digit, seperti terjadai pada tahun lalu. Inflasi juga reltif terkendali, turun 3,7 persen pada Sptember lalu. Data BI menunjukkan, penjualan alat-alat rumah tangga, seperti barang elektronik dan furnitur, pada Agustus mengalami kontraksi, memasuki bulan kelima berturut-turut. Anjlok 8 persen dibanding tahunj lalu. Meskipun keyakinan konsumen pada September lalu hampir mencapai level tertinggi tahun ini, para peritel tetap menderita. Hingga pertengahan tahun lalu, PT Matahari Putra Prima Tbk., gurita peritel terbesar di Indonesia membukukan kerugian Rp170 riliun. Penjualan operator departement store PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk., hingga Juli lalu melorot 0,50 persen,anjlok dibanding periode yang tahun lalu yang meningkat 6,9 persen. Hasil pengamatan tim yang ditugaskan untuk mempelajari pola konsumsi pada berbagai kelopmok pendapatan, menemukan adanya masalah pada kelompok pendapatan menengah dan tinggi. Salah satu penyebab rendahnya belanja kelompok tersebut adalah upaya pemerintah untuk menggenjot penerimaan pajak. Pemerintah berhasil mengumpulkan penerimaan lebih dari US$11 miliar dari pembayaran penalti dalam program amnesti pajak yang berakhir tahun ini. Penalti tersebut memberi kesempatan kepada wajib pajak untuk mengungkapkan asetnya yang sebelumnya tidak diungkapkan kepada otoritas pajak. Upaya pemerintah untuk meningkatkan penerapan peraturan pajak, dinilai telah mempengaruhi pola konsumsi konsumen. Menurut Anton Gunawan, kepala ekonom PT Bank Mandiri Tbk., sejumlah langkah kantor pajak, “terlihat sangat agresif,” meskipun tidak bermaksud untuk menyita aset wajib pajak. “Tapi impresi itulah yang muncul di benak banyak orang,” ujarnya. “Kondisi tersebut bisa berdampak pada belanja sebagian orang.” “Tarif listrik yang lebih tinggi dan penundaan pencairan bonus pegawai negeri juga bisa berdampak pada dompet konsumen,” sambung David dari BCA. Pola belanja generasi mileneal, sedikit banyak juga ikut berpengaruh pada penjualan barang ritel. Generasi yang sebagian besar berusia muda dan melek internet itu, cenderung mengalami perubahan pola konsumsi dibanding generasi sebelumnya, ketika pendapatannya meningkat. Mereka cenderung lebih sedikit berbelanja barang tahan lama, seperti furnitur atau peralatan elektronika, tapi lebih banyak mengeluarkan uang untuk menambah pengalaman seusai preferensi gaya hidup masing-masing, mislnya; menjelajah kawasan-kawasan baru, mengicipi berbagai jenis kuliner dan lain sebagainya. “Generasi milenial, tidak terlalu peduli dengan koleksi pakain mereka,” kata Sri Mulyani. “Mungkin mereka cuma punya beberapa potong pakaian, entahlah. Tetapi mereka tidak banyak belanja barang,” ujarnya.
    • Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) menilai peningkatan kapasitas bank pembangunan daerah (BPD) merupakan hal yang penting mengingat potensi BPD yang besar dalam membuka akses keuangan kepada masyarakat. "Keperluan memperbaiki BPD menjadi penting karena mereka berada di garis depan. Perlu dipikirkan terobosan untuk meningkatkan kapasitas BPD," kata Ketua ISEI, Muliaman Hadad, dalam jumpa pers di kantor pusat ISEI, Jakarta, Senin. "Mantan Ketua Dewan Komisioner OJK tersebut mengatakan salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk peningkatan kapasitan BPD adalah melalui inisiasi kerja sama dengan bank-bank BUMN. "Bank BUMN memiliki jaringan luas, sehingga kerja sama bisa menjadi opsi. Beberapa kesenjangan, apakah soal SDM, model bisnis yang tidak berkembang, atau produk yang terbatas, bisa diselesaikan dengan kerja sama bank BUMN dan BPD," kata dia. Muliaman juga menyarankan agar BPD yang sudah dimasuki BUMN dapat "go public" supaya mampu menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate government/GCG). Terkait upaya meningkatkan inklusi keuangan, Muliaman juga menilai BPD belum banyak mempunyai kemampuan teknologi informasi memadai. "Membuka akses layanan di desa terpencil perlu IT, dan menurut saya hal itu juga bisa dikerjasamakan dengan bank BUMN," kata dia. Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Lampung Ridho Ficardo menjelaskan bahwa salah satu masalah utama BPD terletak pada kapasitas sumber daya manusianya. Ia mengatakan pemegang saham BPD terlalu banyak mengintervensi rekruitmen karyawan, sehingga perusahaan diawaki dengan pegawai yang belum tentu kompeten di bidang perbankan dan keuangan. "Bank daerah ini problemnya juga intervensi kepala daerah yang besar. BPD sering menjadi alat untuk memberikan dukungan yang lain-lain, yang bukan sebuah dukungan profesional," kata dia. Ridho mengakui kinerja Bank Lampung sebagai BPD di daerahnya masih belum bagus, sehingga ia akan berupaya menjalin kerja sama dengan BUMN "Kami ingin bank BUMN dapat menanamkan modal, sehingga bisa terjadi transfer pengetahuan dan SDM. Itu menurut saya penting bagi bank daerah," kata dia.

     

    EKONOMI GLOBAL

     

    • Analis di Nomura Bank menjelaskan mereka pesimistis terhadap rencana reformasi pajak pemerintahan Pesiden Donald Trump yang akan diluncurkan awal 2018. "Kami pesimistis bahwa reformasi ini akan diloloskan di parlemen dan kami ragu kubu Republik akan menemukan cara menutupi kekurangan pendapatan negara akibat menurunkan pajak perusahaan," ujar pernyataan analis dalam riset yang dipublikasikan hari ini. "Reformasi pajak ini belum pernah ada sejak 1986. Lagi pula, Republik tidak memilikii kursi mayoritas yang mutlak di House of Representatives dan Senat, sehingga membutuhkan persetujuan dari anggota senat lain yang merupakan anggota independen," imbuh riset tersebut. Nomura mengatakan, jika pemotongan pajak pribadi sebesar $ 1 triliun telah disahkan pada kuartal pertama 2018, simulasi Nomura menunjukkan bahwa yield US Treasury tenor 10 tahun akan meningkat sebesar 7 basis poin (bp); pertumbuhan PDB riil akan meningkat 12bp namun kemudian akan memudar dari waktu ke waktu. Akhirnya, respons Federal Reserve adalah menaikkan bunga 12bp setelah 5 tahun.
    • Analis di National Australia Bank (NAB) memberikan pandangan mereka terhadap dolar Australia minggu ini. Dalam catatan paginya, Senin (9/10/2017), NAB menyatakan AUDUSD rentan tembus bawah 0.77. "AUDUSD sangat rentan terhadap segala penembusan area 0,7690/00 minggu ini,” papar riset itu. Data China dan kembali aktifnya pasar komoditas global di China setelah liburan seminggu, dan data indeks kepercayaan bisnis dan konsumen lokal Australia Rabu lusa akan menjadi penggerak pasar, pada saat posisi spekulatif AUD tetap mendekati tertinggi 2013. AUDUSD mencapai level terendah sejak 14 Juli pada hari Jumat (0,7733) sebelum pulih tipis. Anggota dewan RBA Ian Harper  pada hari Jumat, mengatakan lambatnya pertumbuhan upah/pendapatan rumah tangga sangat mengkhawatirkan. Harper mengatakan jika kehilangan momentum, mungkin itu menjadi dasar untuk beberapa jenis tindakan kebijakan termasuk penurunan bunga. Saat penulisan, AUDUSD diperdagangkan di 0.7758, turun 18 pip dari penutupan akhir pekan.
    • European Central Bank (ECB) mengungkapkan bahwa perbankan Zona Euro telah siap menghadapi kenaikan suku bunga. ECB mengungkapkan hal ini setelah simulasi skenario pengetatan moneter segera. Hasil simulasi ini muncul di tengah rencana Bank Sentral Eropa untuk memulai pengetatan moneter, termasuk kenaikan suku bunga yang selama ini masih dipatok rendah. ECB menemukan, tingkat suku bunga yang lebih tinggi akan turut mengerek pendapatan bunga bersih alias net interest income dalam tiga tahun pada mayoritas 111 bank dalam stress test. ECB menggelar stress test ini sejak Februari lalu. Ini merupakan bagian dari review perbankan oleh ECB secara lebih luas. Hasil stress test ini juga akan dipakai untuk menentukan besaran modal minimal yang harus ditahan perbankan. "Sementara kebutuhan modal untuk masing-masing bank akan tergantung risiko yang diidentifikasi, kebutuhan modal bank secara umum tidak akan berubah. Ini berdasarkan analisis sensitivitas suku bunga," ungkap ECB. Pada stress test, ECB menggunakan enam skenario suku bunga untuk melihat bagaimana pendapatan bunga bersih dan ekuitas perbankan berubah pada tiap kasus. Perbankan, terutama di negara-negara kaya seperti Jerman, sudah lama mengeluhkan bahwa kebijakan suku bunga sangat rendah seperti saat ini menggencet margin penyaluran kredit.
    • Aktivitas bisnis sektor jasa China melambat ke level terendah dalam 21 bulan terakhir. Angka purchasing managers' index (PMI) Caixin/Markit sektor jasa bulan September mencapai 50,6. Meski masih menunjukkan pertumbuhan karena berada di atas level 50, angka ini merupakan level terendah sejak Desember 2015. Indeks sektor jasa ini mencapai level tertinggi tiga bulan terakhir pada 52,7 bulan Agustus. PMI manufaktur yang dirilis pekan lalu menunjukkan perlambatan, tapi aktivitas pabrik masih melaju kencang. Angka indeks manufaktur ini pun masih lebih tinggi ketimbang sektor jasa. Gabungan PMI jasa dan manufaktur bulan September turun ke 51,4 dari bulan sebelumnya pada 52,4. Angka September ini merupakan level terendah sejak Juni. Zhengsheng Zhong, director of macroeconomic analyst CEBM Group mengatakan, ekonomi China secara umum masih terangkat di kuartal ketiga. "Tapi, ekspansi di sektor manufaktur dan jasa menurun di bulan September, menunjukkan tekanan atas pertumbuhan ekonomi pada kuartal keempat," kata dia. Pada semester satu lalu, ekonomi China tumbuh 6,9%, lebih tinggi ketimbang prediksi. Pemerintah China memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini mencapai 6,5%.
    • Bursa saham kawasan Asia dibuka mixed cenderung menguat. Selasa (10/10) pukul 8.32 WIB, indeks Nikkei menguat 0,32% ke level 20.757. Indeks Kospi melonjak 1,77% ke 2.436. Kedua bursa kemarin libur. Hari ini, bursa Taiwan pun masih libur. Indeks Hang Seng menguat 0,10% ke 28.357. Di Asia Tenggara, FTSE Straits Times turun 0,21% ke 3.285 dan FSTE Malaysia terkoreksi 0,20% ke 1.760. Data ekonomi China menjadi salah satu motor penguatan bursa hari ini. Cadangan devisa China bertambah US$ 17 miliar menjadi US$ 3,11 triliun per September. Cadangan devisa People's Bank of China ini naik dalam delapan bulan berturut-turut. Sementara itu, Jepang melaporkan surplus neraca berjalan Agustus sebesar ¥ 2,38 triliun atau US$ 21,12 miliar. Angka ini lebih tinggi ketimbang estimasi survei Reuters pada ¥ 2,26 triliun.

     

    Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

    Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.