Ekonomi Update 11 September 2017

     

    • Posisi cadangan devisa Indonesia pada Agustus 2017 tercatat US$128,8 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir Juli 2017 yang sebesar US$127,8 miliar. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa yang berasal dari penerimaan pajak dan devisa hasil ekspor migas bagian pemerintah, serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas. Penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa terutama untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo. Posisi cadangan devisa pada akhir Agustus 2017 tersebut cukup untuk membiayai 8,9 bulan impor atau 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
    • Survei Konsumen Bank Indonesia mengindikasikan keyakinan konsumen pada Agustus 2017 melemah, namun tetap berada pada level yang optimis. Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Agustus 2017 yang tetap tinggi sebesar 121,9, meskipun lebih rendah 1,5 poin dari bulan sebelumnya yang sebesar 123,4. Hasil survei mengindikasikan terjaganya optimisme konsumen tersebut ditopang terutama oleh ekspektasi terhadap meningkatnya ketersediaan lapangan kerja dalam 6 bulan mendatang. Namun, menurunnya persepsi konsumen terhadap penghasilan saat ini dan ketepatan waktu pembelian barang tahan lama (durable goods) menyebabkan lebih rendahnya IKK. Sejalan dengan penurunan indeks penghasilan saat ini, rata-rata rasio pengeluaran untuk konsumsi juga menurun 0,2% menjadi 63,8% dan rasio pembayaran cicilan menurun 0,3% menjadi 15,1%. Sebaliknya, porsi tabungan meningkat sebesar 0,5% menjadi 21,1%. Penurunan konsumsi yang diikuti dengan peningkatan porsi tabungan merupakan indikasi adanya penyesuaian perilaku pola konsumsi masyarakat. Sementara itu, konsumen memperkirakan tekanan harga meningkat pada 3 dan 6 bulan mendatang. Namun, tekanan harga dalam 12 bulan mendatang diperkirakan menurun.
    • Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza menilai penguatan nilai tukar rupiah dalam sepekan terakhir dipengaruhi oleh kondisi ekonomi Amerika Serikat yang tidak tumbuh setinggi yang diperkirakan. "Dari awal tahun itu kan ada kekhawatiran ekonomi AS tumbuh lebih cepat dari perkiraan. Lalu karena diperkirakan lebih cepat maka suku bunga AS naik lebih cepat dari perkiraan. Tapi kan ternyata ekonomi AS tumbuh bagus tapi tidak secepat perkiraan, agak melandai," ujar Mirza saat ditemui di Kompleks Perkantoran BI, Jakarta, Jumat. Dari sisi inflasi, lanjut Mirza, juga melandai di bawah dua persen. Selain itu, kenaikan suku bunga acuan AS (Fed Fund Rate) yang sudah dua kali dilakukan tahun ini, diperkirakan tidak akan terjadi di September, namun berpotensi meningkat 25 basis poin pada Desember 2017. "Itu membuat USD (dolar AS) kurang menarik karena suku bunganya tidak jadi naik dan ekonomi AS tidak tumbuh lebih tinggi dari perkiraan. Itu semua membuat tren pembalikan ekspektasi orang terhadap USD. USD terhadap mata uang global menurun," tuturnya. Mirza menambahkan, imbas hasil obligasi dolar AS tenor 10 tahun yang pada awal tahun bisa mencapai 2,5 persen, kini trennya terus menurun hingga kemarin mencapai 2 persen. "Ya karena itu mata uang Indonesia dan emerging market menguat," ujarnya. Berdasarkan data kurs tengah BI, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Jumat mencapai Rp13.284 per dolar AS, menguat dibandingkan pada awal pekan yang berada di posisi Rp13.345 per dolar AS.
    • Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso memperkirakan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) bank akan turun seiring dengan selesainya restrukturisasi dan konsolidasi perbankan pada akhir 2017. "Ini karena kemarin harga komoditas turun jadi NPL naik, sehingga bank mulai cleaning NPL," kata Wimboh ditemui kompleks Bank Indonesia, Jakarta, Jumat. Mantan Komisaris Utama Bank Mandiri tersebut mengatakan kredit komersial merupakan segman yang paling banyak mengalami kredit bermasalah. "Sehingga perbankan reorientasi bisnis, karena kredit komersial yang banyak mengalami NPL, dan itu masih proses restrukturisasi dan sebagian sudah dihapus. Inilah yang disebut proses restrukturisasi dan konsolidasi," ucap dia. Wimboh mengatakan bisnis untuk kredit komersial rata-rata hanya satu segmen saja, sehingga kalau ada perubahan harga komoditas maka sebagian tidak bisa bergerak. "Ini sebagian sudah restrukturisasi. Ya akhir tahun ini mestinya selesai, sampai akhir tahun lah," kata dia. Wimboh mengatakan restrukturisasi bisnis yanng dilakukan terutama yang terkait dengan sektor informasi dan teknologi (IT) untuk tujuan pengawasan debitur. "IT dikuati supaya monitoring bisa lebih akurat sehingga bisa memontor debitur-debitur lebih dini kalau ada masalah, itu sebenarnya proses internal pengawasan kredit diperketat dengan menggunakan teknologi," kata dia. Sementara hingga Juni 2017, rasio kredit bermasalah perbankan tercatat 3,0 persen (gross) atau 1,4 persen (net). Angka NPL itu menurun dibanding Mei 2017 yang sebesar 3,1 persen (gross).
    • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkomentar terkait dengan perlambatan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) pada periode Juli 2017. Defri Andri, Direktur Pengawasan Bank I OJK bilang pertumbuhan DPK mengalami perlambatan karena pertumbuhan kredit belum terlalu kencang. "DPK melambat bukan karena masyarakat tidak mampu menabung tapi karena kebutuhan kredit masih lemah sehingga DPK tumbuh tidak terlalu kencang," kata Defri dalam acara pelatihan wartawan Sabtu (9/9). Dengan pertumbuhan kredit yang tidak teralu kencang, membuat bank tidak gencar mengumpulkan DPK dari masyarakat. Alasan kedua adalah karena saat ini masyarakat yang mempunyai alternatif investasi lain seperti reksadana dan pasar modal. Apakah ke depan ada potensi perpindahan dana masyarakat dari bank ke instrumen investasi pasar modal seperti obligasi, Defri belum merinci lebih lanjut. Sebagai gambaran Bank Indonesia (BI) mencatat sampai Juli 2017 pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 9,4% menjadi Rp 4894 triliun. Pertumbuhan DPK Juli 2017 sedikit melambat dibandingkan Juni 2017 yang tumbuh 10,2% yoy

     

    EKONOMI GLOBAL

    • Bursa saham kawasan Asia melonjak pada perdagangan awal pekan ini. Senin (11/9) pukul 8.23 WIB, indeks Nikkei mencatat penguatan 1,27% ke 19.519.14. Indeks Hang Seng pun menguat hingga 0,74% ke level 27.877,69. Indeks Kospi naik 0,91% ke 2.365,22. Indeks ASX 200 naik 0,61% dan indeks FTSE Straits Times naik 0,20% ke 3.234,69. Hanya indeks Taiex yang turun tipis 0,08% pada perdagangan pagi. Bank sentral China berniat melonggarkan aturan pencadangan mata uang asing bagi lembaga finansial yang memperdagangkan mata uang yuan. "Bank sentral menghapus mekanisme defensif untuk mengurangi aliran dana keluar," kata Stephen Innes, Asia Pacific head of trading OANDA. Producer price inflation (PPI) China bulan Agustus naik 6,3% dari tahun sebelumnya. Angka ini lebih tinggi ketimbang prediksi polling analis Reuters di level 5,6% dan PPI bulan Juli 5,5%. Pasar saham meningkat seiring dengan turunnya harga emas sebagai safe haven dan naiknya nilai tukar dollar AS.
    • Deputi Gubernur Bank of Japan (BoJ) Hiroshi Nakaso mengatakan dibutuhkan lebih banyak waktu lagi bagi Jepang untuk mencapai target inflasi 2 persen. Ia yakin akan tercapai jika melihat data pasar tenaga kerja yang semakin ketat dan juga produktivitas buruh yang meningkat. “Dua hal ini akan mendorong inflasi yang lebih tinggi,”ujarnya di sebuah forum di Seoul, Korea Selatan. Hiroshi Nakaso menegaskan perekonomian Jepang berjalan bagus, dan penyerapan tenaga kerja sangat besar. BOJ kerap kali mengulur-ulur kerangka waktu pencapaian target inflasi 2 persen, terakhir diperkirakan di tahun 2019, karena tekanan harga masih lemah.
    • China pada hari Jumat melaporkan data yang menunjuk pada permintaan domestik yang kuat karena impor mengalahkan ekspektasi pada bulan Agustus, meskipun pertumbuhan ekspor secara keseluruhan menurun. Surplus perdagangan China bulan Agustus sebesar 42.0 miliar dolar, lebih rendah dari estimasi 48.4 miliar dolar dan juga surplus Juli 46.7 miliar dolar. China melaporkan nilai ekspor dalam dolar di Agustus naik 5,5 persen dari tahun lalu, sementara nilai impor dalam dolar naik 13,3 persen. Analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan kenaikan 6,0 persen dalam ekspor China pada Agustus dari tahun lalu dalam bentuk dolar. Impor Agustus diperkirakan naik 10,0 persen pada periode yang sama. "Data impor yang kuat menunjukkan bahwa permintaan domestik mungkin lebih bisa bertahan dari perkiraan di semester kedua," Louis Kuijs, kepala ekonomi Asia di Oxford Economics menulis dalam sebuah catatan. Sedangkan untuk ekspor, angka utama menunjukkan pelunakan momentum permintaan global, meskipun kenaikan pertumbuhan pengiriman ke Asia yang sedang tumbuh dan AS mengimbangi ekspansi ekspor yang lebih lambat ke Uni Eropa dan Jepang, Kuijs menambahkan.
    • Pertemuan pembuat kebijakan European Central Bank pada hari Kamis melaporkan bahwa anggota dewan sepakat untuk langkah selanjutnya adalah mengurangi pembelian obligasi, dengan ada empat opsi yang menjadi pertimbangan, ucap dua orang narasumber yang mengetahui langsung diskusi tersebut. Kemungkinan yang didiskusikan oleh ECB termasuk, namun tidak terbatas pada, pengurangan pembelian aset bulanan dari 60 miliat euro saat ini menjadi 40 miliar euro per bulan atau bahkan menjadi 20 miliar euro mulai awal tahun depan, dengan perpanjangan opsi termasuk 6 atau 9 bulan, ucap narasumber yang tidak ingin dipublikasi identitasnya. Untuk setiap keputusan, kemungkinan akan datang di bulan Oktober, seharusnya akan didukung oleh konsensus ucap narasumber tersebut, dengan salah seorang dari mereka mengatakan bahwa titik pembahasan dapat ditemukan untuk menetapkan pembelian bulana di suatu tempat antara 20 atau 40 miliar euro. Ini menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan sangat ingin menghindari terulangnya perselisihan publik yang telah merusak sejarah dari program pelonggaran kuantitatif sejak diluncurkan di tahun 2015, dengan keputusan yang dikeritik oleh bank sentral nasional yang memusuhi kebijakan tersebut dan bahkan oleh anggota dewan eksekutif ECB sendiri.
    • Dolar AS tertahan di awal perdagangan Asia pada hari Senin, rebound dari posisi terendah minggu lalu terhadap enam mata uang global lainnya setelah akhir pekan lalu tidak ada ketegangan geopolitik yang ditimbulkan oleh Korea Utara. Sebelumnya pelaku pasar memprediksi akan ada peluncuran rudal Korut saat perayaan hari kemerdekaan Korut ke-69, Sabtu lalu. Namun ternyata Korea Utara merayakannya dengan agenda utama penghormatan kepada para ilmuwan di balik uji coba nuklir besar yang dilakukan minggu lalu. USDJPY bertambah 0.52 persen menjadi 108.40 dari penutupan akhir pekan lalu di 107.83. Greenback menjauhi level terendah dalam 10 bulan di 107.32 yen yang digapai pada hari Jumat lalu. Yen cenderung mendapat keuntungan selama masa ketidakpastian ekonomi dan politik karena status negara kreditor bersih Jepang.

     

    Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

    Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.