Ekonomi Update 11 Agustus 2017

     

    • Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia pada triwulan II-2017 mengindikasikan perlambatan kenaikan harga properti residensial di pasar primer.
    • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) berbalik melemah ke level 228,9586 (—0,02%).
    • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan melakukan penunjukan terkait aturan relaksasi restrukturisasi kredit perbankan.
    • Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Jumat dibuka melemah sebesar 13,70 poin terimbas sentimen negatif dari konflik di semenanjung Korea.
    • Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka belum beranjak dari level 13.300 per USD.
    • Indeks S&P 500 di Wall Street mencatat penurunan terbesar selama hampir tiga bulan karena investor beralih dari aset-aset berisiko.
    • Ketegangan geopolitik Amerika Serikat dan Korea Utara membebani Bursa Asia, Jumat (11/8).
    • Pergerakan bursa saham Eropa berakhir melemah pada perdagangan hari kedua berturut-turut, seiring dengan berlanjutnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Korea Utara.
    • Harga minyak kembali turun pada sesi perdagangan Asia ke level $48.37, lanjutkan penurunan dari sesi sebelumnya yang dibebani oleh masih berlangsungnya kecemasan tingginya suplai global meskipun ada penurunan cadangan AS yang lebih besar dari perkiraan.
    • Harga emas di sesi Asia akhir pekan masih menguat dipicu tensi geopolitik di Semenanjung Korea yang masih tinggi seiring munculnya kembali ancaman dari Presiden AS Donald Trump ke Korea Utara (Korut).
    • USDJPY turun ke level rendah delapan pekan pada awal perdagangan hari Jumat di level 108.98 karena masih berlangsungnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Korea Utara yang mendorong investor beralih ke aset aman.

    EKONOMI DOMESTIK

     

    • Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia pada triwulan II-2017 mengindikasikan perlambatan kenaikan harga properti residensial di pasar primer. Hal ini tercermin dari indeks Harga Properti Residensial triwulan II-2017 yang tumbuh sebesar 1,18% (qtq), turun dari 1,23% (qtq) pada triwulan sebelumnya. Kenaikan harga rumah terjadi pada semua tipe rumah, terutama tipe kecil, dengan kenaikan tertinggi terjadi di Jabodebek dan Banten. Peningkatan harga rumah terutama disebabkan oleh kenaikan harga bahan bangunan dan biaya perizinan. Volume penjualan properti residensial tetap tumbuh 3,61% (qtq) meskipun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 4,16% (qtq). Perlambatan penjualan properti dipengaruhi oleh masih terbatasnya permintaan terhadap rumah hunian sebagaimana terindikasi dari pertumbuhan penyaluran KPR dan KPA pada triwulan II-2017 yang melambat. Faktor utama penyebab rendahnya pertumbuhan kegiatan properti ini menurut sebagian besar responden adalah suku bunga KPR yang masih tinggi. Sebagian besar pengembang (55,30%) menyatakan bahwa dana internal perusahaan masih menjadi sumber utama pembiayaan pembangunan properti residensial. Sementara dari sisi konsumen, fasilitas KPR (75,54%) masih menjadi pilihan utama dalam melakukan transaksi pembelian properti residensial.
    • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) berbalik melemah ke level 228,9586 (—0,02%). Pelemahan tersebut didorong oleh kinerja INDOBeXG-Total Return (obligasi pemerintah) yang melemah sebesar —0,03% ke level 226,1468. Sedangkan INDOBeXC-Total Return (obligasi korporasi) berlanjut menguat sebesar +0,03% ke level 239,7401. Pola bullish mewarnai kurva IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve). Rata-rata yield tenor 1-30 tahun turun sebesar —1,50bps. Yield SBN tenor 2-tahun turun —1,02bps ke level 6,4484%, tenor 5-tahun turun —1,49bps ke level 6,7021%, dan tenor 10-tahun turun —1,52bps ke level 7,0949%. Pada penutupan perdagangan kemarin, INDOBeXG-Effective Yield naik ke level 7,0652 atau naik +0,0079poin dari penutupan Rabu. Harga-harga SUN seri benchmark masuk zona merah dengan rata-rata melemah —17,52bps. Harga seri FR0059 melemah paling besar yakni hingga —32,85bps. Secara keseluruhan, pergerakan harga SBN baik seri FR maupun ORI terpantau mixed dengan rata-rata melemah tipis sebesar —0,06bps. Dalamnya penurunan harga-harga SUN benchmark sanggup mendorong INDOBeXG-Clean Price turun sebesar —0,0627poin ke level 115,8497. Aktivitas perdagangan meningkat cukup signifikan dari segi total frekuensinya yakni hingga +120,57% dari 559 kali menjadi 1.233 kali. Sementara total volume perdagangan naik sebesar +64,01% dari Rp9,08tn menjadi Rp14,89tn. Peningkatan aktivitas perdagangan tersebut terdorong oleh maraknya transaksi SUN tenor panjang yang mengalami kenaikan total frekuensi hingga +212% dan kenaikan total volume sebesar +121%. Dari segi seri teraktif, FR0075 paling banyak ditransaksikan yakni sebanyak 637 kali dan total volume Rp2,35tn. Sedangkan FR0059 ditransaksikan dengan volume terbesar yakni hingga Rp2,54tn dengan total frekuensi 67 kali. Untuk obligasi korporasi yang paling banyak ditransaksikan dicatatkan seri DILD02A yakni 7 kali dan dengan total volume Rp91miliar. Aksi ambil untung berlanjut mewarnai pasar hingga sesi End of Day Kamis, selain itu belum kondusifnya kondisi global yang dipicu oleh peningkatan tensi politik AS-Korut turut meningkatkan ekspektasi risiko investor global. Kenaikan risiko tersebut tercermin dari kenaikan CDS obligasi Indonesia tenor 5-tahun sebesar +1,33bps ke level 112,24bps. Sementara nilai tukar Rupiah terhadap USD pada penutupan kemarin cenderung stagnan di level Rp13.333/US$ (Bloomberg). Berkebalikan dengan pergerakan ICBI, IHSG pada penutupan perdagangan kemarin naik tipis sebesar +1,94poin ke level 5.825,95. Pasar obligasi pada perdagangan Jumat diperkirakan bergerak datar sejalan dengan masih adanya bayang-bayang gejolak politik global. Tekanan pasar akan bertambah sejalan dengan tren depresiasi Rupiah. Pada pembukaan pagi ini, Rupiah terhadap USD berlanjut melemah yakni ke level Rp13.365/US$ (pasar spot Bloomberg). Pelaku pasar juga menanti data Neraca Transaksi Berjalan triwulan II-2017 yang akan dirilis hari ini.
    • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan melakukan penunjukan terkait aturan relaksasi restrukturisasi kredit perbankan. Aturan ini terkait dengan Peraturan OJK No 11/POJK/03/2015 tentang Ketentuan Kehati-hatian dalam Rangka Stimulus Perekonomian Nasional Bagi Bank Umum yang akan berakhir pada akhir Agustus. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso mengatakan, aturan ini akan dikaji kembali oleh OJK. Ditargetkan, keputusan akan diterbitkan sebelum 24 Agustus. "Kita masih melihat, mengkaji hal itu, tentunya sebelum berakhir 24 Agustus. Sebelum itu nanti kita ambil keputusan," ujar Wimboh di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (10/8/2017). Relaksasi ini akan diberikan kepada debitur secara individu. Namun, OJK masih akan mengkaji lebih lanjut pihak yang akan dapat menikmati relaksasi ini. "Ini kan bukan banknya, melainkan debitur. Debitur individu yang mana yang tentunya apakah ini masih bisa diberikan atau tidak mengenai relaksasi itu. Tentunya nanti kita akan putuskan," ujarnya. Sebelumnya, memang terdapat beberapa kriteria nasabah untuk melakukan restrukturisasi. Salah satunya adalah kesulitan dalam melakukan pembayaran utang. OJK pun saat ini masih terus bekerja setelah dilantik pada 20 Juli. Salah satu hal yang menjadi fokus kebijakan OJK terdekat adalah terkait restrukturisasi kredit perbankan.
    • Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Jumat dibuka melemah sebesar 13,70 poin terimbas sentimen negatif dari konflik di semenanjung Korea. IHSG BEI dibuka turun 13,70 poin atau 0,24 persen menjadi 5.812,24 poin. Sementara itu kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak melemah 3,45 poin (0,36 persen) menjadi 964,39 poin. Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere di Jakarta, Jumat mengatakan bahwa ketidakpastian geopolitik di semenanjung Korea memicu kekhawatiran pelaku pasar saham sehingga berdampak negatif bagi bursa saham global, termasuk IHSG. "Kekhawatiran itu menyebar ke Asia dan mempengaruhi perdagangan di bursa saham global yang secara umum terkoreksi," katanya. Ia menambahkan bahwa pelaku pasar juga khawatir terhadap ketegangan Korea Utara dan Amerika Serikat itu dapat mengganggu stabilitas ekonomi regional. Korea Utara menyampaikan ancamannya untuk menembakkan rudal ke pangkalan militer AS di Pasifik. Dari dalam negeri, lanjut dia, setoran pajak hingga Juli 2017 yang belum mencapai target turut menjadi perhatian pasar. Setoran pajak baru mencapai 46,8 persen atau sebesar Rp601,1 triliun dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional Perubahan (APBNP) 2017 sebesar 1.283,6 triliun. Namun, ia mengatakan bahwa adanya optimisme pemerintah terhadap setoran pajak yang akan meningkat pada kuartal ketiga dan keempat sehingga nantinya sesuai target, dapat segera direspon pasar sehingga menahan tekanan IHSG lebih dalam. Bursa regional, di antaranya indeks bursa Nikkei turun 8,97 poin (0,05 persen) ke 19.729,74, indeks Hang Seng melemah 328,13 poin (1,20 persen) ke 27.115,87, dan Straits Times melemah 31,74 poin (0,95 persen) ke posisi 3.290,87.
    • Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka belum beranjak dari level 13.300 per USD. Rupiah dibuka di level Rp13.370 per USD. Melansir Bloomberg Dollar Index, pada pukul 09.57 WIB, Rupiah pada perdagangan spot exchange rate melemah 32 poin atau 0,24% menjadi Rp13.365 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp13.360-Rp13.385 per USD. Analis Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan, Rupiah stabil di perdagangan kemarin. Walaupun dolar menguat di Asia, sentimen positif di pasar SUN seiring dengan harapan pelonggaran moneter, menjaga pasokan dolar domestik tetap solid, dan mencegah pelemahan Rupiah. "Tetapi dengan semakin panasnya tensi politik antara AS dan Korea Utara, aksi pengalihan dana ke safe-haven bisa ikut menekan rupiah di perdagangan Jumat ini," jelasnya dalam riset, Jumat (11/8/2017). Sementara Yahoofinance mencatat, Rupiah melemah 53 poin atau 0,40% ke Rp13.384 per USD. Dalam pantauan Yahoofinance, nilai tukar Rupiah berada di angka Rp13.331 hingga Rp13.409 per USD.

     

    EKONOMI GLOBAL

     

    • Indeks S&P 500 di Wall Street mencatat penurunan terbesar selama hampir tiga bulan karena investor beralih dari aset-aset berisiko. Saham teknologi terpukul paling dalam menyusul meningkatnya saling ancam antara Amerika Serikat dan Korea Utara. Para investor menjadi cemas soal Korea Utara. Rekor penutupan S&P pada 7 Agustus, juga kemungkinan membantu memicu aksi jual belakangan ini. "Ketika para investor optimistis hingga ekstrem, itu berarti bahwa sebagian besar uang mereka sudah ada di pasar dan tidak ada lagi banyak uang masuk," kata Kepala Strategi Investasi di Robert W. Baird & Co Bruce Bittles. Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 204,69 poin atau 0,93% menjadi 21.844,01 poin, indeks S&P 500 kehilangan 35,81 poin atau 1,45% menjadi mengakhiri sesi di 2.438,21 poin, dan Komposit Nasdaq Composite jatuh 135,46 poin atau 2,13% menjadi ditutup pada 6.216,87 poin. Terakhir kali indeks S&P ditutup turun lebih dari 1% pada 17 Mei, saat turun 1,8%. Sekarang berada di jalur untuk penurunan mingguan terbesarnya sejak pekan sebelum pemilu Presiden AS 8 November. Sektor teknologi merupakan penyeret terbesar indeks S&P dengan penurunan 2,2%. Selama ini saham-saham teknologi telah mendorong S&P menguat sepanjang tahun ini, membuatnya sangat rentan terhadap penurunan. "Karena ini adalah saham-saham yang telah menjadi sorotan paling banyak, mereka cenderung memiliki volatilitas paling tinggi ke atas dan ke bawah," kata Kepala Investasi Aviance Capital Management Chris Bertelsen di Sarasota, Florida.
    • Ketegangan geopolitik Amerika Serikat dan Korea Utara membebani Bursa Asia, Jumat (11/8). Apalagi, bursa Wall Street tumbang pada Kamis, karena terimbas konflik. Indeks Kospi Korea Selatan turun 1,41%, terutama dipicu saham teknologi dan ritel. Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing turun 1,57% dan 2,64%, sedangkan operator department store Shinsegae anjlok 8,20%. Di Australia, S&P/ASX 200 merosot 1,32%. Penurunan indeks dipicu hampir semua sektor saham, terutama sektor keuangan yang jatuh 1,55%. Sementara, pasar Jepang ditutup karena libur Mountain Day. Investor menghindari pasar saham, dan lebih memburu aset safe haven, seperti emas, di tengah ketegangan geopolitik. Kamis, Presiden Donald Trump kembali memperingatkan Korea Utara untuk tidak menyerang Guam. Ia mengatakan bahwa ancaman yang dilontarkan sebelumnya untuk melepaskan "api dan kemarahan" pada Pyongyang, mungkin tidak cukup bagi Korut. Sebelumnya, Korut menanggapi ultimatum Trump dengan balas mengancam akan menembakkan rudal ke wilayah Guam, lokasi markas militer AS. Bahkan, Korut menyebut peringatan dari Trump hanya omong kosong. Menurut Trump, Kim Jong Un telah sangat menghina Amerika. "Dengan saya, dia tidak akan lolos begitu saja," kata Trump kepada wartawan di New Jersey, Kamis. Sementara, indeks dollar tergelincir setelah harga tingkat produsen AS (PPI) dirilis lebih lemah dari perkiraan. Indeks berada di level 93,38 pada pukul 08.13 waktu Hong Kong, turun dari sesi penutupan Kamis di 93,80. Investor masih menanti rilis data inflasi (CPI) AS bulan Juli pada Jumat ini, untuk mencari sinyal arah kebijakan The Fed selanjutnya. "Penurunan PPI mengindikasikan potensi kelemahan CPI, namun meski harga konsumen menguat lebih tinggi seperti perkiraan ekonom, hal itu tidak akan cukup karena The Fed merasa tidak nyaman dengan inflasi," kata Kathy Lien, Managing Director BK Asset Management dalam sebuah catatan.
    • Pergerakan bursa saham Eropa berakhir melemah pada perdagangan hari kedua berturut-turut, seiring dengan berlanjutnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Korea Utara. Indeks Stoxx Europe 600 ditutup merosot 1% pada perdagangan Kamis (10/8/2017) di level terendah sejak Maret. Dikutip dari Bloomberg (Jumat, 11/8/2017), indeks acuan tersebut tergelincir 0,7% pada perdagangan Rabu (9/8), terseret oleh aksi jual global setelah Presiden AS Donald Trump menaikkan retorikanya terhadap rezim Kim Jong-un ke tingkat yang belum pernah terdengar sebelumnya. Indeks Vstoxx yang mengukur tingkat volatilitas di kawasan Eropa melonjak 26% setelah naik 17% satu hari sebelumnya. Menyusul pernyataan keras Trump untuk melepaskan serangan terdahsyat jika Korea Utara melanjutkan ancamannya, pemerintah Pyongyang dikabarkan berencana untuk menembakkan empat rudal balistik ke Guam, wilayah AS di Pasifik, pada pertengahan Agustus. Korea Selatan dan Jepang serta merta memberi peringatan bahwa Korea Utara akan menghadapi reaksi yang dahsyat jika rencana tersebut diwujudkan. Seluruh 19 kelompok industri pada indeks Stoxx turun. Sektor bank mengalami penurunan terbesar dalam lebih dari tiga pekan. Perusahaan sumber daya dasar memperlebar pelemahannya selama dua hari menjadi 2,1%. Saham Glencore Plc membawa indeks penambang menuju penurunan terbesar di antara kelompok industri. Di sisi lain, saham Galapagos NV melonjak 8,3% setelah menyatakan obatnya menghentikan perkembangan penyakit dalam uji coba pasien dengan fibrosis paru idiopatik.
    • Harga minyak kembali turun pada sesi perdagangan Asia ke level $48.37, lanjutkan penurunan dari sesi sebelumnya yang dibebani oleh masih berlangsungnya kecemasan tingginya suplai global meskipun ada penurunan cadangan AS yang lebih besar dari perkiraan. Harga minyak sempat menyentuh level tertinggi dalam dua setengah bulan pada hari Kamis, kemudia turun untuk ditutup melemah sekitar 1.5%, dengan harga minyak WTI turun kembali di bawah $50 per barel di tengah berlangsungnya kecemasan kelebihan suplai. Analis ANZ mengatakan bahwa harga minyak gagal untuk mempertahankan penguatannya akhir-akhir ini, dengan kegugupan pasar yang dimulai dari keraguan dalam penurunan cadangan baru-baru ini. Sementara itu dari sisi pasokan isu-isu yang berkembang juga membebani pasar setelah data menunjukkan produksi Libya di bulan Juli mencapai level tertinggi untuk tahun ini.
    • Harga emas di sesi Asia akhir pekan masih menguat dipicu tensi geopolitik di Semenanjung Korea yang masih tinggi seiring munculnya kembali ancaman dari Presiden AS Donald Trump ke Korea Utara (Korut). Trump meningkatkan tekanan ke Korut memperingatkan rezim Kim Jog Un untuk tidak melanjutkan uji coba rudal yang kali ini akan diarahkan ke laut di dekat Guam, wilayah AS di Pasifik dan menjanjikan akan membalas serangan Korut terhadap Amerika atau sekutu-sekutunya. Yield obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun turun ke level rendah satu setengah bulan di kisaran 2.20 persen Kamis malam. Sebelumnya di awal pekan yield tenpr 10 tahun di kisaran 2.25 persen. Emas diperdagangkan di $1286.11 per troy ons, atau naik 27 sen.
    • USDJPY turun ke level rendah delapan pekan pada awal perdagangan hari Jumat di level 108.98 karena masih berlangsungnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Korea Utara yang mendorong investor beralih ke aset aman. Steven Dooley, analis mata uang untuk Western Union Business Solutions di Melbourne mengatakan bahwa USDJPY mulai mendekati level support kuatnya. Khususnya jika harga menembus ke bawah level 108.10/108.00, harga berpotensi akan turun tajam." Presiden AS Donald Trump menaikan retorikanya terhadap Korea Utara dan pemimpinnya pada hari Kamis, dengan memperingatkan Pyongyang jika mereka menyerang Guam atau sekutu AS setelah mereka mengumumkan rencana untuk menembakan rudal melewati Jepang menunju dekat wilayah pasifik AS.

     

    Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

    Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.