Ekonomi Update 10 Agustus 2017

    • Bank Indonesia mengangkat pentingnya peran Big Data dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.
    • Penjualan eceran pada Juni 2017 tumbuh meningkat sejalan dengan kenaikan permintaan masyarakat pada periode bulan Ramadhan dan Idul Fitri.
    • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) hingga pertengahan pekan ini melanjutkan tren penguatannya dengan ditutup di level 229,0138 (+0,14%).
    • Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan defisit transaksi berjalan Indonesia pada triwulan II 2017 akan lebih rendah dari dua persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
    • Bank Indonesia (BI) mencatat sampai Juli 2017 agen layanan keuangan digital (LKD) mencapai 214,465 agen.
    • Bursa Asia dibuka stabil pada perdagangan Kamis (10/8).
    • Badan Pusat Statistik Nasional China pada hari ini (9/8) mengumumkan, tingkat inflasi China naik 1,4% pada Juli dibanding tahun lalu.
    • Bursa Wall Street kembali ditutup di zona merah, Rabu (9/8), di tengah memanasnya hubungan Amerika Serikat dan Korea Utara.
    • Pergerakan bursa saham Eropa berakhir melemah pada perdagangan kemarin, di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Korea Utara setelah kedua negara tersebut saling mengancam.
    • Merger dan akuisisi yang dilakukan perusahaan asal China diprediksi bakal lebih ramai.

    EKONOMI DOMESTIK

     

    • Bank Indonesia mengangkat pentingnya peran Big Data dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Pemanfaatan Big Data yang disertai kolaborasi lintas institusi, baik pemerintah, lembaga negara, akademisi maupun industri, dapat menghasilkan informasi yang berharga dalam pengambilan keputusan. Demikian disampaikan Gubernur Bank Indonesia, Agus D.W. Martowardojo, dalam seminar “Globalisasi Digital: Optimalisasi Pemanfaatan Big Data untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi”, hari ini (09/08), di Jakarta. Seminar dihadiri pula oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas, Gubernur DKI Jakarta, Walikota Makassar, perwakilan dari akademisi, sektor swasta, dan otoritas pemangku kebijakan. Saat ini, dunia berada pada era revolusi digital, dengan aktivitas dan layanan digital yang telah menyentuh seluruh sendi kehidupan. Meluasnya berbagai aktivitas berbasis digital tersebut telah menciptakan data yang berjumlah sangat besar, bervariasi dan dihasilkan secara sangat cepat (real time), atau yang dikenal sebagai Big Data. Data yang sangat besar tersebut menyimpan begitu banyak informasi dan pengetahuan yang apabila dapat diolah dengan baik, dapat memberikan manfaat yang luar biasa. Pemanfaatan Big Data antara lain dilakukan oleh otoritas atau lembaga negara. Sejak tahun 2014, Bank Indonesia telah mulai mengintensifkan pemanfaatan Big Data sebagai salah satu informasi pendukung dalam memperkuat proses pengambilan keputusan. Di jajaran pemerintah pun, Big Data telah digunakan dalam membantu pengambilan kebijakan. Oleh beberapa pemerintah daerah, pemanfaatan Big Data telah diwujudkan dalam bentuk penerapan kota cerdas (smart city), yang bertujuan mengelola dan mengendalikan sumber daya secara lebih efektif dan efisien guna memaksimalkan pelayanan publik. Selain lembaga publik, Big Data pun menjadi salah satu acuan di berbagai sektor industri. Di sektor lembaga keuangan, pemanfaatan Big Data telah digunakan secara aktif dalam peningkatan layanan terhadap nasabah serta mendeteksi maupun mencegah penipuan (fraud). Di sektor perdagangan dan transportasi, khususnya yang berbasis digital, Big Data juga telah dimanfaatkan secara intensif untuk meningkatkan transaksi dan memperluas target pelanggan baru. Seminar ini merupakan inisiatif Bank Indonesia untuk menggagas suatu forum yang dapat menjadi ajang berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam hal pemanfaatan Big Data antar otoritas pemangku kebijakan, akademisi, dan industri. Hal ini diharapkan dapat menjadi embrio terciptanya kolaborasi yang erat antar berbagai elemen institusi di masyarakat dalam pemanfaatan Big Data. Pemanfaatan Big Data yang baik diharapkan dapat mengoptimalkan potensi digital Indonesia yang sangat besar dan turut mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.
    • Penjualan eceran pada Juni 2017 tumbuh meningkat sejalan dengan kenaikan permintaan masyarakat pada periode bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) hasil Survei Penjualan Eceran Juni 2017 yang naik 6,3% (yoy), lebih tinggi dibandingkan 4,3% (yoy) pada bulan sebelumnya. Peningkatan penjualan ritel terjadi baik pada kelompok makanan maupun nonmakanan. Secara regional, kenaikan IPR tertinggi pada Juni 2017 terjadi di wilayah Banjarmasin. Penjualan ritel diperkirakan cenderung menurun pada Juli 2017. Hal ini terindikasi dari IPR Juli 2017 yang turun atau tumbuh negatif 3,0% (yoy) sejalan dengan kembali normalnya konsumsi masyarakat pasca hari raya Idul Fitri. Penurunan penjualan terbesar diperkirakan terjadi pada kelompok non makanan. Survei juga mengindikasikan tekanan kenaikan harga di tingkat pedagang eceran pada tiga bulan mendatang (September 2017) menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Indikasi tersebut terlihat dari turunnya Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) 3 bulan yang akan datang yakni dari 138,3 pada bulan sebelumnya menjadi 133,3.
    • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) hingga pertengahan pekan ini melanjutkan tren penguatannya dengan ditutup di level 229,0138 (+0,14%). Penguatan tersebut ditopang oleh kinerja INDOBeXG-Total Return (obligasi pemerintah) yang naik sebesar +0,15% ke level 226,2196 dan INDOBeXC-Total Return (obligasi korporasi) sebesar +0,05% ke level 239,6629. Pola mixed mewarnai kurva IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve). Rata-rata yield tenor 1-30 tahun naik sebesar +0,83bps. Yield SBN tenor 2-tahun kemarin naik +1,03bps ke level 6,4586%, tenor 5-tahun turun –2,63bps ke level 6,7170%, dan tenor 10-tahun turun –0,91bps ke level 7,1101%. Pada penutupan perdagangan kemarin, INDOBeXG-Effective Yield turun ke level 7,0572 atau turun –0,0225poin dari penutupan sebelumnya. Zona hijau mewarnai pergerakan harga kelompok SUN seri benchmark dengan rata-rata naik +20,97bps. Harga seri FR0074 menguat paling tinggi sebesar +37,11bps. Sedangkan ketiga seri lainnya masing-masing menguat sebesar: FR0072 (+27,26bps), FR0059 (+12,85bps), dan FR0061 (+6,64bps). INDOBeXG-Clean Price kemarin ditutup naik +0,13% ke level 115,9124 seiring menguatnya mayoritas harga SUN tipe FR dan ORI dengan rata-rata sebesar +12,50bps. Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder kemarin kembali sepi setelah sempat mengalami peningkatan paska lelang SBN. Total frekuensi turun –9,98% dari 621 kali menjadi 559 kali, dan total volume turun –38,27% dari Rp14,71tn menjadi Rp9,08tn. Sedangkan penurunan transaksi yang terjadi pada kelompok SUN benchmark kemarin tercatat sebesar –3,70% untuk total frekuensinya dan –26,92% untuk total volume. Pada transaksi kemarin, total volume transaksi terbesar tercatat sebesar Rp1,57tn dan diraih oleh seri FR0061. Dan seri teraktif hanya tercatat sebanyak 90 kali yakni oleh seri FR0072. Untuk obligasi korporasi, seri dengan total volume transaksi terbesar sekaligus teraktif dicatatkan seri APLN01CN1 yakni 7 transaksi senilai Rp61miliar. Menutup perdagangan sesi kedua Rabu kemarin, pasar SBN domestik bertahan menguat ditengah mixed-nya pergerakan imbal hasil pada obligasi pemerintah. Kondisi tersebut tercermin dari positifnya kinerja ketiga indeks return pasar obligasi domestik yang juga kembali mencatatkan rekor tertingginya masing-masing. Persepsi positif pasar terhadap stabilnya makro ekonomi domestik diperkirakan masih menjadi pemicu laju penguatan ditengah bayang-bayang tekanan dari global seperti konflik AS-Korut serta turunnya inflasi Tiongkok yang kembali meningkatkan risiko investor terkait volatilitas perekonomian global. Persepsi risiko investor global pada beberapa negara juga tampak naik yang tercermin dari kenaikan CDS tenor 5-tahun pada negara China, Brazil, Korea, dan Indonesia. Pada perdagangan kemarin, nilai Rupiah melemah ke level Rp13.333/US$ dari Rp13.313/US$ (Bloomberg). Pada perdagangan sesi Kamis ini pasar obligasi diperkirakan bergerak sideways seiring belum adanya sentimen penggerak lanjutan dari domestik maupun luar negeri yang dominan di pasar. Di hari ini pasar akan menantikan data tingkat pengangguran mingguan AS yang diprediksi stabil di level 240.000 dan investor turut mencermati konflik geopolitik antara AS-Korut yang sedang memanas.
    • Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan defisit transaksi berjalan Indonesia pada triwulan II 2017 akan lebih rendah dari dua persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Perkiraan defisit tersebut meningkat jika dibandingkan realisasi triwulan I 2017 yang sebesar satu persen dari PDB atau sebesar 2,4 miliar dolar AS. Menurut Agus di Jakarta, Rabu, melebarnya defisit tersebut memang karena tren pergerakan transaksi berjalan di pertengahan tahun. "Neraca transaksi berjalan akan lebih tertekan jika di triwulan II 2017. Itu seperti siklus normal yang terjadi," ujarnya. Agus masih enggan mengungkapkan penyebab defisit transaksi berjalan secara rinci pada paruh kedua tahun ini. Bank Sentral akan mengumumkan secara resmi kinerja neraca transaksi berjalan dan pembayaran Indonesia pada Jumat (11/8). Neraca transaksi berjalan merupakan data yang merekam transaksi perdagangan barang dan jasa antarpenduduk Indonesia dan bukan penduduk Indonesia, dan juga pendapatan dari modal yang diivestasikan ke negara lain. Meskipun defisit melebar di triwulan II 2017, Agus meyakini pada triwulan III dan IV 2017, defisit transaksi berjalan akan mereda, sehingga pada akhir tahun defisit akan mengendur menjadi 1,8-1,9 persen PDB atau masih di kisaran 2016 yang sebesar 1,8 persen PDB atau 16,3 miliar dolar AS.
    • Bank Indonesia (BI) mencatat sampai Juli 2017 agen layanan keuangan digital (LKD) mencapai 214,465 agen. Agen ini terdiri dari agen individu dan berbadan hukum. Punky Purnomo Wibowo, Direktur Program Elektronifikasi dan Inklusi Keuangan BI mengatakan agen ini tersebar di 495 kabupaten kota di Indonesia. "Jumlah ini akan meningkat seiring meningkatnya kebutuhan agen penyaluran bantuan sosial," ujar Punky, Rabu (9/8). Jumlah agen ini menurut Punky berasal dari lima bank penyelenggara LKD di antaranya BRI, Mandiri, BNI, BCA dan CIMB Niaga. Kedepan BI mengaku akan memperkuat pengembangan dan keberlanjutan LKD. Prioritas yang akan BI dorong untuk LKD adalah perluasan penyaluran bantuan sosial non tunai pada 2018. Program prioritas ini salah satunya adalah untuk program keluarga harapan dan bantuan pangan non tunai yang masing-masing mencapai 10 juta pengguna.

     

    EKONOMI GLOBAL

     

    • Bursa Asia dibuka stabil pada perdagangan Kamis (10/8). Sebagian besar indeks utama pulih usai mencatat penurunan tajam di tengah ketegangan geopolitik yang melibatkan Korea Utara pada sesi sebelumnya. Pukul 08.26 WIB, indeks Nikkei 225 naik 0,16%. Diikuti, indeks S&P/ASX 200 menguat 0,43%. Namun, indeks Kospi Korea Selatan masih turun 0,18%. Pasar saham membaik seiring meredanya permintaan aset safe haven, termasuk yen dan franc Swiss. Sesi sebelumnya, pelaku pasar beralih ke safe haven di tengah konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Korut. Seorang pengamat pasar, Kamis, mengatakan ada kemungkinan risiko salah perhitungan atas Semenanjung Korea. Namun, ketegangan tampaknya sedikit mendingin. Sejumlah sentimen mungkin akan menggerakkan pasar Asia, hari ini. Beberapa perusahaan Asia dijadwalkan merilis laporan kinerja, termasuk Japan Post Bank dan China Mobile. Hari ini, Reserve Bank of New Zealand mempertahankan suku bunga pada level 1,75%. Bank sentral menyebut terus mengantisipasi inflasi secara bertahap. Selanjutnya, Bank sentral Filipina juga dijadwalkan merilis kebijakan moneternya.
    • Badan Pusat Statistik Nasional China pada hari ini (9/8) mengumumkan, tingkat inflasi China naik 1,4% pada Juli dibanding tahun lalu. Sementara itu, indeks produsen China naik 5,5% pada Juli dibanding tahun lalu. Data inflasi itu lebih rendah ketimbang estimasi analis. Berdasarkan nilai tengah analis yang dipolling Reuters, indeks konsumen China diramal stabil dari posisi Juni di level 1,5% (year on year). Sementara, indeks produsen diprediksi di level 5,5% (yoy). Ekonom Capital Economics China Julian Evans-Pritchard mengatakan data inflasi ini menunjukkan kian berkurangnya tekanan pada harga. "Inflasi harga produsen stabil untuk tiga bulan beruntun dan bergerak positif berdasarkan basis bulanan untuk kali pertama sejak Maret," jelasnya. Sedangkan ekonom market ANZ David Qu, berpendapat indeks harga produsen akan tetap kuat dalam beberapa bulan ke depan karena pemerintah China terus mengurangi kapasitas berlebih. Kebijakan ini diprediksi akan menyokong harga komoditas. Pemerintah China juga memperketat kebijakan moneter untuk mengerem laju utang. "Permasalahannya adalah pengetatan kebijakan saat ini menahan laju ekonomi. Salah satu indikasinya inflasi mulai menurun. Dengan pertumbuhan yang cenderung melambat di kuartal mendatang, kami pikir semakin besarnya tekanan pada harga selama setahun terakhir akan terus berlanjut," kata Evans-Pritchard. Informasi saja, data inflasi China kerap menjadi perhatian karena bisa menjadi indikasi bagaimana bank sentral akan memberlakukan kebijakan moneter. Adapun target inflasi China tahun ini adalah 3%.
    • Bursa Wall Street kembali ditutup di zona merah, Rabu (9/8), di tengah memanasnya hubungan Amerika Serikat dan Korea Utara. Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 36,64 poin atau 0,17% ke level 22.048,70. Dow Jones sudah terkoreksi selama dua hari terakhir, setelah sempat reli sembilan hari dan mencetak rekor tertinggi baru. Indeks S&P 500 juga melemah tipis 0,90 poin atau 0,04% menjadi 2.474,02. Nasdaq Composite juga tergerus 18,13 poin atau 0,28% ke posisi 6.352,33. Hubungan antara Negeri Paman Sam dan Korut memanas setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan peringatan keras agar Pyongyang tidak lagi melancarkan ancaman terhadap AS. Peringatan itu dibalas Korut dengan mengancam akan meledakkan rudal di wilayah Guam, markas militer AS. Ketegangan geopolitik memicu kekhawatiran pasar, sehingga enggan masuk ke pasar saham. Investor mencari perlindungan dengan membeli safe haven, seperti emas. Kecemasan investor tercermin pada indeks Volatilitas CBO, yang mencapai level tertinggi satu bulan. "Serangan militer Korea Utara jelas akan menjadi tindakan perang melawan Amerika, karena itu saya memiliki keyakinan penuh bahwa Kim Jong-un tidak akan mengambil langkah drastis," kata Jeremy Klein, Kepala strategi pasar di FBN Securities, Rabu. "Makanya, volatilitas yang muncul sejak kemarin siang seharusnya segera mereda," imbuh Klein. Komal Sri-Kumar, Presiden Sri-Kumar Strategies menyebut, meskipun ada ancaman dari Presiden Trump kemarin, pasar berharap ketegangan akan mereda dalam beberapa pekan mendatang. Hal itu tercermin dari kenaikan yield US Treasury yang terbilang kecil, 7 basis points (bps), dan kenaikan harga emas yang terkendali.
    • Pergerakan bursa saham Eropa berakhir melemah pada perdagangan kemarin, di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Korea Utara setelah kedua negara tersebut saling mengancam. Indeks Stoxx Europe 600 ditutup turun 0,7% pada perdagangan Rabu (9/8/2017). Hampir seluruh sektor pada indeks memerah. Pada Selasa (8/8), Presiden AS Donald Trump menaikkan retorikanya terhadap Korea Utara ke tingkat yang belum pernah terdengar sebelumnya. Trump mengancam bahwa rezim Kim Jong Un akan menghadapi serangan militer yang menghancurkan jika terus mengancam AS. Sehari sebelumnya, Korea Utara, yang bereaksi atas sanksi terbaru PBB terhadap program senjata nuklirnya, menyatakan bahwa AS bertanggung jawab atas segala yang terjadi pada negara tersebut. Saham perbankan juga menjadi sorotan, dengan indeks sektor turun 1,4%, terbesar dalam tiga pekan. Dikutip dari Bloomberg (Kamis, 10/8/2017), Rabu menandai satu dekade setelah BNP Paribas SA membekukan dana yang terekspos hipotek subprime AS. Melihat ke belakang, peristiwa ini memberi isyarat awal dari krisis kredit yang berkontribusi terhadap krisis keuangan global. Nilai tukar mata uang euro bergerak fluktuatif setelah aksi jualnya dimulai pekan lalu menyusul data pekerjaan bulanan AS yang lebih baik dari perkiraan. Reli tajam mata uang tunggal ini sejak awal tahun ini telah menjadi perhatian bursa saham Eropa, berikut musim laporan keuangan perusahaan. Melawan tren pelemahan pada hari Rabu, saham Novo Nordisk A/S menguat 7,9% setelah melaporkan hasil kuartalan yang mengalahkan perkiraan analis.
    • Merger dan akuisisi yang dilakukan perusahaan asal China diprediksi bakal lebih ramai. Dalam 10 tahun mendatang diperkirakan aksi korporasi baik dalam pembelian perusahaan maupun investasi oleh pengusaha China naik 70%. Riset Linklaters LLP, firma hukum asal Inggris menyebutkan, perusahaan China akan mengeluarkan biaya hingga US$ 1,5 triliun untuk berinvestasi di dalam maupun luar negeri. Nilai tersebut meningkat tajam dari 10 tahun terakhir. Di periode itu perusahaan asal China menghabiskan US$ 880 miliar untuk pembelian aset di sejumlah negara. Linklaters menyebut tingginya minat investasi karena pemerintah China mendorong agar perusahaan China berinvestasi di sejumlah sektor seperti manufaktur, teknologi dan perdagangan internasional. Langkah ini dilakukan untuk menjaga arus transaksi perusahaan. HNA Group Co, perusahaan yang bergerak di sektor penerbangan dan pelayaran, real estate, jasa keuangan, pariwisata dan logistik menjadi salah satu perusahaan yang mencetak nilai transaksi jumbo di luar negeri. Aksi korporasi dan merger yang dilakukan HNA Group turut didukung oleh sejumlah bank besar di China. Belakangan HNA Group memang mengerem ekspansi karena pengawasan Pemerintah China yang makin ketat dalam menjaga stabilitas pertumbuhan ekonominya. Namun HNA Group disebut akan kembali berinvestasi di luar negeri dengan posisi finansial lebih kuat serta komitmen kredit yang belum dimanfaatkan. "Meskipun pengawasan lebih ketat dari regulator dan bank China atas sejumlah transaksi. Kami memperkirakan China tetap terbuka untuk bisnis ke luar," tulis Linklaters dalam laporan yang dikutip Bloomberg. Meski memiliki uang banyak untuk melakukan akuisisi namun rencana akuisisi belum tentu berjalan mulus. Keberhasilan China mencaplok perusahaan dan berinvestasi di luar negeri tergantung pada kemampuan dalam mengatasi kekhawatiran di sejumlah negara yang dituju. Hal ini terkait tentang keamanan dan kepentingan nasional negara. Amerika Serikat (AS) misalnya melarang tawaran bisnis sektor infrastruktur dan teknologi dari China. Alasannya karena keamanan ekonomi nasional mereka. Komite Penanaman Modal Asing AS bahkan menghentikan usaha perusahaan China yakni GO Scale Capital yang membeli Royal Philips NV, Lumileds senilai $ 2,8 miliar. Aixtron SE, pembuat peralatan semikonduktor Jerman yang berencana menjual sahamnya ke China terpaksa mundur, setelah Pemerintah AS menentang kesepakatan tersebut. Sejumlah pihak menilai merger dan akuisisi dari China sebagai ancaman karena tanpa disadari membawa ke sistem ekonomi China. Namun Linklaters menilai jika investasi China diblokir, pengusaha dengan mudah mendapatkan yurisdiksi lain

     

    Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

    Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.