Ekonomi Update 9 Agustus 2017

     

    • Survei Konsumen Bank Indonesia mengindikasikan optimisme konsumen meningkat, sebagaimana tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juli 2017 yang naik 1,0 poin dari bulan sebelumnya menjadi sebesar 123,4.
    • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada perdagangan Selasa berlanjut menguat sebesar +0,2615poin ke level 228,6937.
    • Pro dan kontra lesu ekonomi masih saja terjadi. Tapi data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atas kenaikkan kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) atas kredit pemilikan ruko bisa jadi salah satu indikasi: ekonomi memang lesu.
    • Nilai tukar Rupiah pagi ini dibuka dengan melemah.
    • Bursa saham Indonesia dibuka menguat di awal perdagangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 3,041 poin atau 0,052% ke 5.813,604.
    • Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, James Bullard, mengatakan pada Senin (7/8) bahwa tepat bagi the Fed untuk mempertahankan suku bunga saat ini atau tidak berubah dalam waktu dekat mengingat rendahnya inflasi.
    • Pertumbuhan ekspor dan impor China melambat pada bulan Juli dibanding bulan sebelumnya, namun neraca perdagangan China kembali melebar selama lima bulan berturut-turut.
    • Utang Venezuela kian menumpuk. Per Senin (7/8), nilai utang negara ini mencapai US$ 251 juta kepada pemegang saham.
    • Mayoritas bursa Asia tertekan, Rabu (9/8), di tengah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Korea utara.
    • Commonwealth Bank of Australia mengaku bertanggungjawab atas tuduhan pelanggaran undang-undang anti pencucian uang yang dilayangkan sejak pekan lalu.
    • Kurs dolar AS diperdagangkan bervariasi terhadap mata uang utama lainnya pada Selasa (Rabu pagi WIB), karena investor mempertimbangkan data pekerjaan yang baru dirilis.

    EKONOMI DOMESTIK

     

    • Survei Konsumen Bank Indonesia mengindikasikan optimisme konsumen meningkat, sebagaimana tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juli 2017 yang naik 1,0 poin dari bulan sebelumnya menjadi sebesar 123,4. Meningkatnya optimisme konsumen pada Juli 2017 terutama didorong oleh membaiknya ekspektasi konsumen terhadap kondisi kegiatan usaha dan penghasilan, serta ketersediaan lapangan kerja dalam enam bulan mendatang. Sementara itu, persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini menurun terutama pada ketepatan waktu pembelian barang tahan lama (durable goods) dan penghasilan saat ini. Meski demikian, persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja saat ini mengalami perbaikan meski masih berada pada level yang pesimis (indeks <100). Sementara itu, tekanan kenaikan harga dalam 6 bulan mendatang diperkirakan meningkat, terindikasi dari kenaikan Indeks Ekspektasi Harga (IEH) 6 bulan mendatang sebesar 4,0 poin menjadi 171,5. Meningkatnya ekspektasi kenaikan harga tersebut terutama dipengaruhi oleh kekhawatiran responden terhadap kemungkinan adanya kenaikan administered prices. Sejalan dengan penghasilan konsumen saat ini yang sedikit melemah, porsi pengeluaran untuk konsumsi menurun dari 64,5% menjadi 64,0%. Demikian pula porsi untuk tabungan menurun dari 21,0% menjadi 20,6%. Di sisi lain, porsi pembayaran cicilan pinjaman meningkat yakni dari 14,5% pada bulan sebelumnya menjadi 15,4%.
    • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada perdagangan Selasa berlanjut menguat sebesar +0,2615poin ke level 228,6937. Penguatan ICBI didorong oleh kinerja INDOBeXG-Total Return (obligasi pemerintah) yang naik +0,2552poin ke level 225,8758, dan INDOBeXC-Total Return (obligasi korporasi) yang menguat sebesar +0,2972poin ke level 239,5323. Kurva IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) bergerak bullish dengan yield kelompok tenor pendek turun paling dalam yakni —6,29bps. Penurunan rata-rata yield kemudian diikuti oleh tenor menengah (5-7tahun) sebesar —1,88bps, dan tenor panjang (8-30tahun) sebesar —1,74bps. Dominasi penurunan yield mendorong turunnya INDOBeXG-Effective Yield yakni sebesar —0,0244poin ke level 7,0798. Harga-harga SUN benchmark kompak menguat dengan rata-rata sebesar +20,36bps pada perdagangan Selasa. Penguatan harga tertinggi dicatatkan oleh seri FR0059 sebesar +37,28bps. Secara keseluruhan, pergerakan harga SBN baik tipe FR dan ORI pada perdagangan Selasa turut didominasi penguatan harga dengan rata-rata sebesar +10,07bps. Sehingga INDOBeXG-Clean Price turut mengalami kenaikan yakni sebesar +0,1090poin ke level 115,7570. Aktivitas perdagangan tampak semarak yang ditandai dengan lonjakan total volume perdagangan hingga +141,31% dari Rp6,10tn menjadi Rp14,71tn. Total frekuensi meningkat hingga +55,64% dari 399 kali menjadi 621 kali. Semaraknya pasar tampak sebagai imbas dari pelaksanaan lelang SBN kemarin yang mencatatkan nilai penawaran masuk tertinggi sepanjang tahun 2017 yakni Rp58,62tn. Dua seri yang dilelang turut masuk dalam jajaran seri teraktif di pasar sekunder yakni FR0074 yang ditransaksikan dengan frekuensi tertinggi yakni 103 kali (volume Rp1,82tn) dan FR0061 sebagai seri dengan volume transaksi terbesar yakni Rp1,97tn (frekuensi 49 kali). Pasar tampak mulai merespon kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II-2017 yang terjaga di level 5,01%yoy. Selain itu kondisi cadangan devisa Indonesia yang menyentuh level tertinggi turut mendorong optimisme di pasar obligasi. Optimisme tersebut turut mendorong ramainya pelaksanaan lelang SBN kemarin. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya penawaran pada seri baru bertenor panjang FR0075 (tenor 20 tahun) yang mencatatkan nilai penawaran sebesar Rp14,73tn atau nilai penawaran tertinggi kedua setelah FR0061. Sejalan dengan ramainya penawaran, pemerintah turut menyerap dana hingga target maksimalnya yakni Rp22,50tn. Penguatan pasar obligasi kemarin juga sejalan dengan menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap USD di pasar spot sebesar 0,06% ke level Rp13.313/US$ (Bloomberg). Pasar saham kemarin turut positif dengan penguatan IHSG sebesar +61,27poin ke level 5.810,56. Pasar obligasi pada perdagangan hari ini berpotensi untuk melanjutkan penguatan didorong oleh sentimen terjaganya kondisi makro dalam negeri. Namun pasar masih dibayangi dengan sentimen negatif dari global yakni meningkatnya tensi geopolitik AS dengan Korea Utara, dan turunnya inflasi Tiongkok bulan Juli ke level 1,4%yoy dari sebelumnya di level 1,5%yoy. Turunnya inflasi Tiongkok kemudian dapat menahan optimisme pertumbuhan ekonomi global. Nilai tukar Rupiah pada pembukaan sesi pagi di pasar spot terpantau melemah ke level Rp13.323/US$ dari Rp13.313/US$ pada sesi penutupan kemarin (Bloomberg).
    • Pro dan kontra lesu ekonomi masih saja terjadi. Tapi data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atas kenaikkan kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) atas kredit pemilikan ruko bisa jadi salah satu indikasi: ekonomi memang lesu. OJK mencatat, hingga Mei 2017, kredit NPL ruko mencapai 4,58%. Ini adalah angka tertinggi dalam 5 tahun terakhir. Tingginya NPL ruko ini diduga merupakan imbas turunnya bisnis pemilik ruko. Transaksi e-commerce yang memangkas jalur distribusi juga membuat pebisnis tak perlu adanya toko fisik. Aslan Lubis, Analis Eksekutif Departemen Pengembangan Pengawasan dan Manajemen Krisis OJK mengatakan, NPL ruko merupakan tertinggi diantara sektor konsumsi lain. "Memang ada indikasi, usaha dan bisnis ruko melambat," tandas Aslan, Senin (7/8). Seiring kenaikan NPL ruko, tren pertumbuhan kredit ruko juga relatif mendatar. Per Mei 2017, pertumbuhan kredit segmen ini hanya 2,99% dari periode sama tahun 2016. Total penyaluran kredit ruko kini hanya senilai Rp 27,89 triliun dari total kredit properti yang sebesar Rp 528,34 triliun. Senior Executive Vice President Remedial and Recovery Bank Negara Indonesia (Bank BNI) mengatakan, NPL kredit ruko dan perkantoran memang cukup tinggi pada pertengahan tahun ini. "Di BNI, kredit bermasalah dari kredit ruko sebesar 3,8% per semester I-2017," ujar dia. BNI mengungkapkan, eksposur kredit properti BNI yang di dalamnya terdapat kredit ruko hingga Juni 2017 mencapai Rp 35,7 triliun. Strategi mengurai kredit bermasalah sudah Bank BNI siapkan. Rico Rizal Budidarmo, Direktur Keuangan dan Risiko Kredit BNI menambahkan, Bank BNI akan semakin berhati-hati dalam guyuran kredit. "Kami akan fokus ke kredit perumahan dengan underlying pendapatan tetap," ujar dia. Adapun Bank OCBC NISP juga menyiapkan strategi mengatasi NPL kredit ruko. Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur OCBC NISP bilang, untuk mengantisipasi risiko kredit ruko, bank akan memastikan aset yang dibeli digunakan sebagai tempat usaha debitur. Kata Parwati, tidak tertutup kemungkinan pembelian ruko oleh debitut bukan untuk berbisnis. "Yang perlu dipastikan juga, pembelian ruko bukan untuk tujuan spekulasi," tandas. Di OCBC NISP, eksposur kredit ruko dan rukan OCBC NISP memiliki porsi NPL yang kecil, di bawah 1,5%. Randi Anto Direktur Konsumer Bank Rakyat Indonesia (BRI) mengatakan, BRI akan menyalurkan kredit ruko dan perkantoran hanya pada nasabah lama dengan rekam jejak bagus. "Nasabah dipilih, hanya mereka yang bisa mengembangkan usaha dan menambah aset," ucap Randi. Dengan begitu, risiko nasabah sudah bisa terukur jelas.
    • Nilai tukar Rupiah pagi ini dibuka dengan melemah. Namun, pergerakan Rupiah masih bertahan pada level Rp13.300-an per USD. Melansir Bloomberg Dollar Index, Rabu (9/8/2017), Rupiah pada perdagangan spot exchange rate di pasar Asia melemah 19 poin atau 0,14% ke Rp13.332 per USD. Rupiah sempat dibuka di level Rp13.328 per USD. Adapun pergerakan Rupiah berada di Rp13.320-Rp13.333 per USD. Analis Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan pasca rilis angka pertumbuhan yang stabil, IHSG justru menguat tajam, menandakan optimisme di pasar saham yang terjaga. "Hal itu juga diikuti oleh penguatan rupiah serta turunnya yield SUN. Optimisme investor terjaga, rupiah terapresiasi dan berpeluang kembali menguat," katanya dalam rilis. Sementara itu, Melansir Yahoofinance, Rupiah dibuka melemah 10 poin atau 0,08% ke Rp13.320 per USD. Adapun kisaran pergerakan Rupiah pagi ini, berada di antara Rp13.309 per USD hingga Rp13.345 per USD.
    • Bursa saham Indonesia dibuka menguat di awal perdagangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 3,041 poin atau 0,052% ke 5.813,604. IHSG dibuka dengan 19 saham menguat, 7 saham melemah, dan 19 saham stagnan. Pada pembukaan perdagangan pagi ini, transaksi perdagangan tercatat Rp16,17 miliar dari 5,35 juta lembar saham diperdagangkan. Indeks LQ45 naik 0,84 poin atau 0,08% ke 968,54, Jakarta Islamic Index (JII) naik 1,26 poin atau 0,17% ke 744,68, indeks IDX30 naik 0,23 poin atau 0,04% ke 526,86 dan indeks MNC36 naik 0,17 poin atau 0,052% ke 334,10. Sektor penggerak IHSG bergerak dua arah. Sekira 4 sektor mengalami penurunan dan 5 sisanya naik. Sektor yang mengalami kenaikan tertinggi adalah properti yang naik 0,34%. Sementara itu, sektor yang mengalami penurunan adalah aneka industri 0,2%. Adapun saham-saham yang bergerak dalam jajaran top gainers, antara lain saham PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (BJBR) naik Rp70 atau ke Rp2.680, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) naik Rp170 ke Rp2.610, dan saham PT Ciputra Development Tbk (RIMO) naik Rp35 ke Rp1.135. Sedangkan saham-saham yang berada di deretan top losers, antara lain saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) turun Rp4 ke Rp302, saham PT PP Tbk (PTPP) turun Rp20 ke Rp2.990, dan saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) turun Rp575 ke Rp68.225.

     

    EKONOMI GLOBAL

    • Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, James Bullard, mengatakan pada Senin (7/8) bahwa tepat bagi the Fed untuk mempertahankan suku bunga saat ini atau tidak berubah dalam waktu dekat mengingat rendahnya inflasi. "Tingkat kebijakan suku bunga saat ini sesuai dengan data makro ekonomi saat ini," kata Bullard dalam sebuah pidato di sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Koperasi Pemasaran Kapas Amerika di Tennessee pada Senin (7/8). Dia mengatakan ekonomi AS telah terjebak dalam rezim pertumbuhan 2,0 persen meskipun pertumbuhannya membaik pada kuartal kedua. Dia mengungkapkan kekhawatirannya tentang data inflasi rendah baru-baru ini. "Data inflasi baru-baru ini mengejutkan sisi negatifnya dan mempertanyakan gagasan bahwa inflasi AS dapat diandalkan kembali menuju target," kata Bullard. Pejabat The Fed juga meragukan ekspektasi bahwa pasar kerja yang lebih ketat dapat mendorong inflasi secara substansial. Gubernur Fed Lael Brainard juga mengungkapkan kekhawatirannya tentang inflasi rendah dalam beberapa bulan terakhir, dan mengatakan bahwa dia akan memantau secara ketat kondisi inflasi sebelum membuat keputusan mengenai kenaikan suku bunga lebih lanjut. Namun, beberapa pejabat Fed lainnya mengesampingkan risiko inflasi rendah dan mendukung bank sentral untuk terus menaikkan suku bunga acuannya secara bertahap.
    • Pertumbuhan ekspor dan impor China melambat pada bulan Juli dibanding bulan sebelumnya, namun neraca perdagangan China kembali melebar selama lima bulan berturut-turut. Berdasarkan data badan statistik nasional China, ekspor dalam denominasi dolar AS meningkat 7,2% di bulan Juli (year-on-year/yoy), melambat dibanding pertumbuhan ekspor di bulan Juni yang mencapai 11,3%. Sementara itu, impor meningkat 11% di bulan Juli, lebih rendah dari pertumbuhan impor bulan sebelumnya yang menyentuh 17,2%. Baik impor maupun ekspor berada di bawah prediksi analis. Dengan anggka tersebut, surplus neraca perdagangan melebar menjadi US$46,7 miliar Adapun ekspor ke AS meningkat 8,9%, lebih rendah dibandingkan peningkatan di bulan Juni yang mencapai 19,8% dan mempersempit surplus perdagangan dengan AS ke level US$ 25,2 miliar. Seperti dilansir Bloomberg, permintaan terhadap produk China masih stabil karena ekonomi mitra dagang utama negeri tirai bambu ini terus pulih. Di dalam negeri, output yang lebih kuat dari perkiraan mendukung permintaan impor. Namun, eksportir terbesar di dunia ini menghadapi ketidakpastian karena Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus terus bersikap keras terhadap perdagangan. Sementara itu, Gedung Putih mungkin mempertimbangkan penyelidikan dugaan pelanggaran hak kekayaan intelektual, yang dapat memicu ketegangan perdagangan antar kedua negara. Ekonom Bloomberg Intelligence, Tom Orlik dan Fielding Chen mengatakan perlambatan pertumbuhan ekspor pada Juli menjadi pengingat bahwa meskipun ada permintaan yang kuat, China memiliki cakupan terbatas untuk meraih pangsa pasar yang  lebih luas. "Jika ekspor sekarang turun, hal ini akan memberi alasan tambahan untuk berhati-hati dalam melakukan deleveraging," ucap mereka, seperti dikutip Bloomberg. "Surplus perdagangan China benar-benar menuju ke bawah jika dibandingkan dari tahun ke tahun," kata Gai Xinzhe, analis Bank of China Institute of International Finance.
    • Utang Venezuela kian menumpuk. Per Senin (7/8), nilai utang negara ini mencapai US$ 251 juta kepada pemegang saham. Pembayaran ini segera harus dilakukan setelah pada pekan lalu Venezuela mengalami banyak hal penting. Sebut saja: Jaksa Agung diturunkan dari jabatannya, dan sebagai gantinya, Presiden Venezuela Nicolas Maduro menunjuk pihak-pihak yang menjadi tangan kanannya. Tak hanya itu, pihak militer mengalami bentrokan dengan para pengunjuk rasa. Para pengamat menilai, Venezuela akan melakukan pembayaran kepada pemegang obligasi. Hanya saja, negara ini memiliki utang jatuh tempo lainnya dalam waktu dekat. Kemungkinan Venezuela mengalami gagal bayar alias default sangat besar jika perekonomian negara ini belum juga membaik dan Amerika Serikat memberlakukan sanksi baru terhadap Venezuela. "Negara ini (Venezuela) sudah hancur dan gagal bayar sudah di depan mata. Sanksi atas minyak kemungkinan akan segera diberlakukan sehingga mempercepat terjadinya default," papar Siobhan Morden, pengamat obligasi Amerika Latin di Nomura Holdings. Seperti yang diketahui, pemerintahan Donald Trump memberlakukan sanksi terhadap Presiden Maduro menyusul klaim kemenangannya pada voting yang berlangsung 30 Juli lalu. Mayoritas negara di dunia menyangkal hasil voting tersebut dan mengatakan Mahkamah Konstitusi yang baru menandakan era kepemimpinan diktator. Selain itu, pemerintah AS menegaskan akan menerapkan sanksi tambahan jika situasi politik terus memburuk. Pemecatan Jaksa Agung Luisa Ortega, bersamaan dengan taktik politik yang penuh dengan tekanana terhadap aksi demonstrasi, membuktikan bahwa pemerintah Venezuela saat ini melakukan hal yang bertentangan dengan permintaan komunitas internasional dalam hal demokrasi. Senjata terbesar Trump pun digadang-gadang akan dikeluarkan. Yakni pelarangan atas minyak Venezuela. Ini merupakan satu-satunya sumber pemasukan bagi Venezuela. Dana tunai yang dimiliki Venezuela bisa langsung mengering jika mereka tidak bisa menjual minyak ke AS, konsumen utama minyak mereka. Namun sanksi ini bak pedang bermata dua. Sanksi bisa kian membuat kekurangan pangan dan obat-obatan Venezuela semakin memburuk dari yang sudah buruk saat ini. Di sisi lain, sanksi ini bisa memperbesar dukungan terhadap Maduro. "AS sejauh ini masih menahan diri mengambil kebijakan yang akan memperburuk industri minyak Venezuela. Jika hal itu dilakukan, maka kondisi itu akan mempercepat skenario default," papar Win Thin, head of emerging market currency strategy Brown Brothers Harriman. Di tengah sanksi AS kepada Venezuela, perekonomian negara ini semakin tidak terkontrol. Nilai tukar tidak resmi yang digunakan mayoritas warga Venezuela naik dua kali lipat sejak akhir Juli. Sedangkan tingkat inflasi, menurut IMF, diprediksi akan melejit hingga 720% tahun ini dan melampaui 2.000% tahun depan.
    • Mayoritas bursa Asia tertekan, Rabu (9/8), di tengah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Korea utara. Mengutip CNBC, pukul 08.35 WIB, indeks Nikkei 225 tumbang 1,20% dan indeks Kospi Korea Selatan turun 0,70%. Konflik AS dan Korut kembali menjadi sorotan di saat investor Asia menunggu rilis data inflasi China. Ketegangan geopolitik meningkat setelah Presiden Donald Trump memperingatkan Korut bahwa Pyongyang bakal menghadapi "api dan kemarahan" jika terus mengancam AS. Beberapa jam setelah ucapan Trump, Korea Utara membalas dengan mengatakan pihaknya menyiapkan rencana untuk menyerang wilayah Guam, lokasi pangkalan militer AS. Namun, indeks Australia S&P/ASX 200 masih mampu naik 0,47%, didukung saham sektor keuangan. Sektor tersebut menguat setelah Commonwealth Bank of Australia merilis laporan laba yang melebihi ekspektasi. Keuntungan setahun penuh naik 4,6% menjadi A$ 9,88 miliar (US$ 7,82 miliar). Ke depan, investor diperkirakan akan fokus pada data inflasi China bulan Juli yang akan dirilis hari ini.
    • Commonwealth Bank of Australia mengaku bertanggungjawab atas tuduhan pelanggaran undang-undang anti pencucian uang yang dilayangkan sejak pekan lalu. Ini lantaran terjadi kesalahan pengkodean pada perangkat lunak miliknya. Pemerintah Australia, pekan lalu menuduh Bank Commonewealth yang merupakan pemberi pinjaman hipotek terbesar di negara tersebut melanggar peraturan anti-pencucian uang dan anti-terorisme. Akibat tudingan ini, saham Commonwealt melemah. Isu ini bermula pada penggunaan mesin teller otomatis yang dapat menerima deposit secara langsung dengan uang tunai dan cek di Bank Commonwealth. Layanan ini juga melayani deposit anonim (IDM) sejak tahun 2012 silam. Keberadaan mesin tersebut mengundang tanya, terkait apakah bank bisa mengindentifikasi, memantau, dan melaporkan transfer dana lebih dari US$ 10.000 yang merupakan batas pelaporan Australia. Badan Intelijen Keuangan Australia (AUSTRAC) mengatakan, Commonwealt telah membuat 53.700 pelanggaran atas Undang-Undang Anti-Pencucian Uang dan Anti-Terorisme. Commonwealth Bank membela diri atas tuduhan tersebut. Bank tersebut menegaskan, Senin (7/8), ada kesalahan pengkodean dalam update perangkat lunak yang telah diinstal pada akhir 2012. Alhasil, mesin tidak membuat laporan transaksi yang diperlukan atau disebut laporan transaksi ambang batas alias threshold transaction reports (TTRs). Commonwealth Bank menyatakan kesalahan itu tidak diketahui sampai tahun 2015. "Dalam waktu satu bulan setelah menemukan, kami memberi tahu AUSTRAC dan menyampaikan TTRs yang hilang. Kami juga telah memperbaiki masalah pengkodean," ujar Commonwealth Bank dalam sebuah pernyatan dikutip Reuters. Sebagian besar 53.000 klaim kegagalan pelaporan yang dituduhkan dalam pernyataan lantaran kesalahan pengkodean ini. "Kami menyadari bahwa ada dugaan serius lainnya dalam klaim yang tidak terkait dengan TTRs tersebut," ujar dia. Kasus ini menjadi yang terbesar yang ditangani AUSTRAC dan pertama kali melibatkan bank besar. AUSTRAC menuduh, uang tunai yang disimpan menggunakan nama palsu dan dana masuk ke sindikasi impor obat bius. Kepala Eksekutif CBA Ian Narev kepada The Australia Financial Review menegaskan akan menyelesaikan masalah ini dan memastikan petinggi perusahaan bekerja sesuai dengan peraturan. Commonwealth Bank diperkirakan terancam denda puluhan miliar dollar jika terbukti bersalah. Hukuman maksimal dalam pelanggaran UU anti-pencucian uang dan anti-terorisme adalah A$ 18 juta per pelanggaran. Commonwealth Bank mengatakan, IDM telah bekerja dengan benar sejak September 2015. Bank ini menegaskan, dari 53.000 pelanggaran, otoritas harus adil dalam menegakkan hukum.
    • Kurs dolar AS diperdagangkan bervariasi terhadap mata uang utama lainnya pada Selasa (Rabu pagi WIB), karena investor mempertimbangkan data pekerjaan yang baru dirilis. Jumlah lowongan pekerjaan di AS berada di 6,2 juta pada hari kerja terakhir Juni, rekor tertinggi, laporan dari Departemen Tenaga Kerja mengatakan pada Selasa (8/8). Angka terbaru itu juga mengalahkan konsensus pasar. Para investor juga terus mengawasi pidato pejabat Federal Reserve, untuk mencari petunjuk tentang kenaikan suku bunga berikutnya. Presiden Federal Reserve St. Louis, James Bullard, mengatakan pada Senin (7/8) bahwa bank sentral tidak perlu menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat ini. "Tingkat kebijakan suku bunga saat ini kemungkinan masih sesuai selama jangka pendek," katanya. Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,21 persen menjadi 93,628 pada akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi 1,1758 dolar AS dari 1,1790 dolar AS, dan pound Inggris turun menjadi 1,2981 dolar AS dari 1,3028 dolar AS. Dolar Australia meningkat menjadi 0,7915 dolar AS dari 0,7911 dolar AS. Dolar AS dibeli 110,48 yen Jepang, lebih rendah dari 110,74 yen pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,9752 franc Swiss dari 0,9736 franc Swiss, dan turun tipis menjadi 1,2658 dolar Kanada dari 1.2681 dolar Kanada.

     

    Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

    Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.