Ekonomi Update 17 Juli 2017

     

    • Dalam upaya penguatan perekonomian daerah, perlu digali sumber pertumbuhan ekonomi antara lain melalui perluasan diversifikasi ekonomi.
    • Hasil Survei Perbankan mengindikasikan pertumbuhan kredit baru pada triwulan II-2017 meningkat.
    • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) di akhir perdagangan Jumat kemarin melemah sebesar —0,3165poin ke level 225,9705.
    • Aset Lembaga Penjamin Simpanan hingga akhir April 2017 mencapai Rp79,3 triliun atau tumbuh 8,68 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp73 triliun.
    • Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin pagi, bergerak menguat menjadi Rp13.315 dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp13.339 per dolar AS.
    • Sejumlah berita global mewarnai pemberitaan media nasional pada hari ini, Senin (17/7/2017), di antaranya tentang sosok penting lain dalam Apple Inc. selain Steve Jobs serta merosotnya dukungan publik terhadap Presiden AS Donald Trump.
    • Pergerakan bursa saham Asia naik mengekor penguatan pada bursa saham Amerika Serikat (AS), di saat para investor menantikan data yang dapat menunjukkan stabilnya pertumbuhan ekonomi China.
    • Bursa saham ditutup menguat pada perdagangan Jumat (14/7/2017) di tengah ekspektasi bahwa bank sentral utama dunia kemungkinan tidak akan memperketat kebijakan moneter secepat yang dikhawatirkan beberapa investor.
    • Indeks Dow Jones dan S&P 500 mencapai rekor tertinggi pada hari Jumat (14/7/2017) meskipun ada data ekonomi yang cenderung negatif, yang menurunkan prospek kenaikan suku bunga lanjutan tahun ini.
    • Harga minyak mentah menguat pada Senin (17/7/2017), setelah adanya data perlambatan rig baru Amerika Serikat dalam membor minyak ditengah permintaan yang kuat.

    EKONOMI DOMESTIK

    • Dalam upaya penguatan perekonomian daerah, perlu digali sumber pertumbuhan ekonomi antara lain melalui perluasan diversifikasi ekonomi. Upaya mengoptimalkan berbagai potensi sektor ekonomi daerah tersebut dapat dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama, diversifikasi vertikal yaitu memberi nilai tambah pada industri yang sudah ada, dengan hilirisasi. Kedua, diversifikasi horizontal yaitu membuka lahan industri baru yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Di Kalimantan, misalnya, diversifikasi vertikal dapat dilakukan pada industri batubara dan petrokimia, sementara diversifikasi horizontal dapat dilakukan pada industri kayu dan pariwisata. Demikian disampaikan Gubernur Bank Indonesia, Agus D.W. Martowardojo, dalam diskusi publik yang berlangsung hari ini (14/7), di Balikpapan. Diskusi mengangkat tema “Mendorong Strategi Kebijakan Diversifikasi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Daerah untuk Menjaga Momentum Perbaikan Ekonomi Nasional”. Diskusi publik ini merupakan bagian dari rangkaian acara Rapat Koordinasi antara Bank Indonesia, Pemerintah Pusat, dan Pemerintah Daerah (Rakor Pusda) pagi ini, yang diselenggarakan bersama oleh Bank Indonesia dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Turut bertindak sebagai pembicara adalah Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak, Dirjen Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan, A. Toni Budiono, dan Staf Ahli Bidang Investasi dan Pengembangan Infrastruktur Kementerian ESDM, Prahoro Yulianto Nurtjahjo, serta Sekda Provinsi Kalimantan Timur, Rusmadi Wongso sebagai moderator. Optimalisasi potensi sektor ekonomi daerah melalui diversifikasi vertikal dan horizontal merupakan salah satu dari tiga butir kebijakan utama yang menjadi arah strategi perluasan diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi di daerah yang disepakati pada acara Rakor Pusda. Dengan terus mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah, ekonomi nasional pun diharapkan dapat semakin menguat. Selanjutnya, Gubernur BI menegaskan pula mengenai dua butir kesepakatan lainnya. Pertama, memperkuat pembangunan infrastruktur dasar daerah, terus mengembangkan investasi sumber daya manusia yang terampil, dan memperkuat tata kelola birokrasi. Kesepakatan selanjutnya adalah untuk mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Industri secara terpadu. Dalam rangkaian Rakor Pusda tersebut, Bank Indonesia pada hari ini juga membangun komunikasi dengan berbagai unsur masyarakat di Kalimantan Timur melalui berbagai kegiatan yang dihadiri anggota Dewan Gubernur BI. Kegiatan BI Mengajar dalam rangka diseminasi Laporan Perekonomian Indonesia oleh Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara, dilakukan di Universitas Balikapan. Sementara sosialisasi terkait pengendalian inflasi serta pelatihan Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (APIK) dipaparkan oleh Deputi Gubernur Erwin Rijanto yang diikuti oleh pelajar setingkat SMA, guru dan UMKM di wilayah Provinsi Kaltim. Selain itu, Deputi Gubernur, Sugeng juga melakukan diskusi dengan para prajurit dan tentara TNI-AD, TNI-AL dan TNI-AU seputar fungsi dan tugas BI di bidang sistem pembayaran dan pengelolaan uang Rupiah. Selain harapan terbangunnya pemahaman masyarakat mengenai tugas, fungsi dan kewenangan Bank Indonesia sebagai Bank Sentral, berbagai kegiatan di atas diharapkan akan memberikan kesadaran bagi setiap elemen di masyarakat untuk bersama-sama membangun perekonomian bangsa.
    • Hasil Survei Perbankan mengindikasikan pertumbuhan kredit baru pada triwulan II-2017 meningkat. Kenaikan pertumbuhan kredit diperkirakan masih akan berlanjut pada triwulan III-2017. Hal tersebut terindikasi dari kenaikan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) permintaan kredit baru dari 52,9% pada triwulan I-2017 menjadi 84,8% pada triwulan II-2017 dan 99,3% pada triwulan III-2017. Perkiraan meningkatnya penyaluran kredit terutama didorong oleh perkiraan kondisi ekonomi yang lebih baik dan penurunan risiko penyaluran kredit. Kebijakan penyaluran kredit perbankan pada triwulan III-2017 diperkirakan lebih longgar dari triwulan sebelumnya. Perkiraan kondisi ekonomi yang lebih baik dan likuiditas yang memadai mendorong responden untuk meningkatkan plafon kredit (credit lines) dan menurunkan biaya premi kredit berisiko pada triwulan III-2017. Hasil Survei Perbankan juga mengindikasikan pertumbuhan kredit keseluruhan tahun 2017 diperkirakan sebesar 12,4% (yoy), lebih rendah dibandingkan 13,2% (yoy) pada hasil survei triwulan sebelumnya.
    • Indonesia Composite Bond Index (ICBI) di akhir perdagangan Jumat kemarin melemah sebesar —0,3165poin ke level 225,9705. Pelemahan ICBI didorong oleh kinerja obligasi pemerintah (INDOBeXG-Total Return) yang turun sebesar —0,3209poin ke level 223,1283. Kinerja obligasi korporasi (INDOBeXC-Total Return) juga ditutup menurun sebesar —0,2661poin ke level 237,1403. Kurva IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) berpola bearish. Rata-rata tenor pendek (1-4tahun) naik paling besar yakni hingga +7,52bps. Sementara yield tenor menengah (5-7tahun) dan panjang (8-30tahun) masing-masing naik sebesar +0,65bps dan +5,79bps. Sehingga INDOBeXG-Effective Yield pada akhir perdagangan Jumat ditutup meningkat sebesar +0,0318poin ke level 7,7044. Harga keempat seri SUN benchmark didominasi pelemahan yakni sebesar —12,83bps. Penguatan harga hanya dicatatkan seri FR0059 yang mencapai +5,49bps. Sedangkan pelemahan harga terbesar dicatatkan FR0072 sebesar —23,30bps. Mayoritas harga seri SBN tipe FR dan ORI Jumat kemarin turut didominasi koreksi dengan rata-rata sebesar —20,94bps. Dengan demikian INDOBeXG-Clean Price ditutup melemah sebesar —0,1937poin ke level 114,9339. Aktivitas transaksi perdagangan dalam tren menurun. Pada perdagangan Jumat, total frekuensi menurun —22,85% dari 687 kali menjadi 530 kali. Penurunan juga terjadi dari segi total volume yakni sebesar —19,92% dari Rp11,28tn menjadi Rp9,03tn. Ditengah penurunan transaksi, SUN tenor menengah menjadi penopang perdagangan pasar yakni mencatatkan kenaikan total frekuensi sebesar +20,00% dan peningkatan total volume perdagangan hingga +128,08%. Seri FR0072 diperdagangkan dengan volume terbesar yakni Rp1,48tn dan sekaligus frekuensi tertinggi yakni 89 kali. Sedangkan Obligasi Subordinasi Bank Victoria II Tahun 2012 (BVIC02SB) menjadi obligasi korporasi dengan volume prdagangan terbesar yakni Rp100miliar (frekuensi 5 kali). Meredanya euforia pernyataan dovish The Fed dan minimnya sentimen positif mendorong kembali bearish-nya pasar obligasi dalam negeri. Sepinya sentimen lanjutan turut menyebabkan transaksi perdagangan dalam tren menurun. Sehingga aksi trading diperkirakan lebih mendominasi pasar pada perdagangan Jumat. Namun ditengah dominasi koreksi pasar, persepsi risiko investor asing masih terjaga yang ditunjukkan dengan pergerakan CDS obligasi Indonesia tenor 5-tahun yang menurun sebesar —0,35bps ke level 116,47bps. Nilai tukar Rupiah juga masih terjaga yakni dengan mengalami penguatan tipis sebesar 0,07% ke level Rp13.339/US$ (kurs spot Bloomberg). Namun berbeda dengan pasar obligasi, pasar saham pada perdagangan akhir pekan ditutup positif dengan kenaikan IHSG sebesar +1,75poin ke level 5.831,80. Pasar obligasi pada perdagangan awal pekan diperkirakan bergerak sideways namun berpeluang bergerak positif. Investor akan menanti rilis data PDB Tiongkok kuartal II-2017 dan neraca perdagangan Indonesia bulan Juni. Ekonomi Tiongkok pada kuartal II diprediksi melambat ke level 6,8% dari kuartal sebelumnya 6,9%. Sementara neraca perdagangan Indonesia bulan Juni diperkirakan mencatatkan surplus namun lebih rendah seiring dengan meingkatnya kebutuhan pada bulan Ramadhan. Peluang positifnya pasar didorong oleh tren melemahnya mata uang USD secara global yang tercermin dari Bloomberg Dollar Index ke level 95,62 atau level terendah dalam 10 bulan terakhir.
    • Aset Lembaga Penjamin Simpanan hingga akhir April 2017 mencapai Rp79,3 triliun atau tumbuh 8,68 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp73 triliun. "Bentuk aset Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu didominasi atau 96,2 persen berupa penempatan investasi yaitu sebesar Rp76,3 triliun," kata Sekretaris LPS Samsu Adi Nugroho di Yogyakarta, Sabtu. Menurut dia, sejak beroperasi 2005 hingga akhir Mei 2017, LPS telah menangani klaim terhadap 79 bank yang dicabut izin usahanya dan 76 bank di antaranya telah selesai proses rekonsiliasi dan verifikasi. "Dari 79 bank tersebut, jumlah klaim layak bayar mencapai Rp1,2 triliun," kata Samsu Adi terkait dengan akan diselenggarakannya Pertemuan Tahunan, Workshop Regional, dan Konferensi Internasional IADI APRC Ke-15 di Yogyakarta, 17-20 Juli 2017. Ia mengatakan LPS menjadi tuan rumah kegiatan bertema "Peningkatan Peran Lembaga Penjamin Simpanan Melalui Aktivitas Resolusi" yang akan dihadiri 70 delegasi dan 300 partisipan dari dalam dan luar negeri tersebut. "International Assosciation of Deposit Insurers (IADI) adalah organisasi yang mewadahi lembaga-lembaga yang memiliki fungsi penjaminan simpanan di seluruh dunia. Asosiasi itu dibentuk pada 2002," katanya. Menurut dia, asosiasi itu bertujuan untuk meningkatkan efektivitas sistem penjaminan simpanan melalui kerja sama internasional. LPS menjadi anggota dan aktif di IADI sejak 2005, dan saat ini anggota IADI ada 83 penjamin simpanan dari 77 yurisdiksi. "Isu mengenai transformasi organisasi penjamin simpanan akan menjadi salah satu topik utama yang dibahas pada pertemuan tersebut. Melalui pertemuan itu dapat berbagi pengalaman dengan LPS negara lain," katanya. Pertemuan tersebut, kata dia, akan menhadirkan pembicara utama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah, dan Chairperson APRC Hiroyuki Obata.
    • Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin pagi, bergerak menguat menjadi Rp13.315 dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp13.339 per dolar AS. Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, mengatakan penguatan kurs rupiah berlanjut seiring dengan prospek surplus neraca perdagangan Indonesia yang akan kembali naik. "Bank Indonesia melihat surplus neraca perdagangan Indonesia pada Juni akan mencapai 1,4 miliar dolar AS," paparnya. Berdasarkan data Bank Indonesia, neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2017 mencatatkan surplus 0,47 miliar dolar AS. Ia menambahkan, dolar AS juga cenderung melemah terhadap mata uang di kawasan Asia menyusul inflasi produsen Amerika Serikat yang diumumkan melambat. Inflasi Amerika Serikat melambat menjadi ke 1,6 persen pada Juni 2017. "Situasi itu cukup untuk membuat dolar AS kembali turun dalam bersamaan dengan yield obligasi AS," katanya. Kendati demikian, lanjut dia, potensi penguatan rupiah bisa tertahan jika bank sentral Eropa (ECB) kembali menegaskan pengurangan stimulusnya. Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menuturkan, The Fed yang tidak akan agresif dalam menaikkan suku bunganya membuat aset berdenominasi mata uang berkembang seperti rupiah mengalami apresiasi. "Inflasi Amerika Serikat yang melambat memperkuat pandangan bahwa the Fed tidak akan agresif menaikkan suku bunga acuan dalam waktu cepat sehingga berimbas pada kurs rupiah," katanya.

    EKONOMI GLOBAL

    • Sejumlah berita global mewarnai pemberitaan media nasional pada hari ini, Senin (17/7/2017), di antaranya tentang sosok penting lain dalam Apple Inc. selain Steve Jobs serta merosotnya dukungan publik terhadap Presiden AS Donald Trump.

    Sosok yang Terlupakan. Andai Ronald Wayne tak hadir di saat tepat, mungkin raksasa teknologi Amerika Serikat yakni Apple Inc. hanya akan berhenti pada mimpi dari Steve Wozniak atau Steve Jobs belaka.

    Optimisme Pudar, Janji Trump Dinanti. Optimisme sektor perbankan Amerika Serikat terhadap Presiden Donald Trump perlahan mulai memudar, setelah sempat mencapai titik tertingginya pada awal tahun ini.

    Buffett Akan Investasi US$20 Miliar di Sprint. Warren Buffett, pemilik Berkshire Hathaway Inc. kembali menambah investasinya di sektor telekomunikasi. Buffet ingin membenamkan uangnya di Sprint Corp. yang merupakan jaringan telekomunikasi nirkabel terbesar ketiga di Amerika Serikat (AS). Yunani akan Uji Pasar Obligasi. Pemerintah Yunani diperkirakan kembali ke pasar obligasi pada 2018. Namun, untuk mengamankan program dana talangan atau bailout ketiganya maka Negeri Para Dewa itu harus menguji pasar dengan menerbitkan obligasi baru secepatnya, Senin (17/7).

    58% Warga AS Tidak Puas dengan Kinerja Trump. Hasil jajak pendapat yang dilakukan Washington Post-ABC terhadap 1.001 orang dewasa menunjukkan tingkat dukungan publik terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus merosot.

    • Pergerakan bursa saham Asia naik mengekor penguatan pada bursa saham Amerika Serikat (AS), di saat para investor menantikan data yang dapat menunjukkan stabilnya pertumbuhan ekonomi China. Indeks MSCI Asia Pacific Index naik 0,1% pagi ini, memperpanjang penguatan yang dibukukannya pekan lalu sebesar 3,1%. Indeks S&P 500 naik 0,1%, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan naik 0,5% dan indeks S&P/ASX 200 Australia bergerak flat. Perdagangan di Jepang ditiadakan hari ini karena libur nasional. Indeks MSCI Asia Pacific naik untuk hari keenam setelah data harga konsumen AS untuk Juni yang lebih lesu menarik imbal hasil obligasi lebih rendah serta mendorong indeks S&P 500 ke rekornya. Hal ini menyoroti kekhawatiran Federal Reserve bahwa inflasi melemah di bawah target 2%. Sementara itu, Bloomberg Dollar Spot Index bergerak flat setelah melemah 1,3% pekan lalu. Dolar tetap di level terendah sejak September di saat para spekulan bertahan ke posisi paling bearish sejak 2013. Data China akan memberikan petunjuk terbaru mengenai ekspansi pada negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut, yang muncul di tengah data penjualan dan inflasi AS yang lemah, (Senin, 17/7/2017). Produk domestik bruto (PDB) China diperkirakan tumbuh 6,8% pada kuartal kedua dari tahun sebelumnya, didukung oleh permintaan luar negeri dan domestik yang solid. Hal ini memberi pemerintah beberapa ruang ekstra untuk mengejar program deleveraging-nya. Di sisi lain, produksi industri diproyeksikan akan meningkat 6,7% tahun ini, dengan penjualan ritel naik 10,3% dalam enam bulan pertama. Investor pun menantikan rilis laporan keuangan sejumlah perusahaan pekan ini, di antaranya Microsoft Corp dan Unilever.
    • Bursa saham ditutup menguat pada perdagangan Jumat (14/7/2017) di tengah ekspektasi bahwa bank sentral utama dunia kemungkinan tidak akan memperketat kebijakan moneter secepat yang dikhawatirkan beberapa investor. Indeks Stoxx Europe 600 ditutup menguat 0,18% atau 386,84 setelah bergerak pada kisaran 385,49 – 386,84. Pergerakan indeks pada hari terakhir pekan lalu cenderung tipis karena investor menimbang laporan kinerja emiten perbankan besar AS yang mengecewakan, termasuk JPMorgan dan Citigroup. "Di Eropa, kami masih belum menghadapi tingkat suku bunga yang lebih tinggi, yang seharusnya menguntungkan bank-bank AS sedikit demi sedikit dari net interest margin," ujar Mike van Dulken, kepala riset Accendo Markets. "Itu berarti kita masih mendapat dukungan dari pelonggaran moneter, tapi imbal hasil masih rendah, dan hal tersebut tidak bagus untuk bank," lanjutnya. Sementara itu, penguatan harga logam mendorong kenaikan saham di sektor pertambangan pekan lalu, yang didorong oleh emiten baja Outokumpu, ArcelorMittal, dan Tenaris yang menguat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa dia mempertimbangkan kuota dan tarif mengenai dumping baja China. Tim analis di Barclays mengatakan mereka tetap positif di sektor pertambangan Eropa, yang telah menguat hanya 4% sepanjang tahun ini setelah menguat lebih dari 60% di tahun 2016. Walaupun kenaikan imbal hasil obligasi telah mencapai tingkat sensitif sektor seperti utilitas, saham perbankan masih diuntungkan. Namun pada hari Jumat, sektor ini mendapat tekanan karena kinerja bank besar di AS mengecewakan, disusul oleh data inflasi di AS yang melambat sehingga berpotensi mengganjal rencana pengetatan kebijakan moneter the Fed.
    • Indeks Dow Jones dan S&P 500 mencapai rekor tertinggi pada hari Jumat (14/7/2017) meskipun ada data ekonomi yang cenderung negatif, yang menurunkan prospek kenaikan suku bunga lanjutan tahun ini. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 84,65 poin atau 0,39% ke level 21.637,74, sedangkan indeks Standard & Poor’s 500 naik 11,44 poin atau 0,47% ke 2.459,27, dan Nasdaq Composite menguat 38,03 poin atau 0,61% ke 6.312,47. Sepanjang pekan kemarin, indeks Dow Jones menguat 1,1%, sedangkan indeks S&P 500 naik 1,4%, dan Nasdaq naik 2,6%. Penurunan sektor finansial membatasi kenaikan hari ini, meskipun kinerja kuartal kedua JPMorgan Chase & Co dan bank besar lainnya berada di atas ekspektasi analis. Data menunjukkan indeks harga konsumen (consumer price index /CPI) tidak berubah pada bulan Juni dan penjualan ritel turun untuk kedua bulan berturut-turut, menunjukkan laju inflasi yang melandai dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi kuartal kedua yang menurun. "Data menunjukkan adanya kelanjutan dari kebijakan yang cukup akomodatif, yang jelas telah melayani pasar dengan baik selama beberapa tahun terakhir, " kata Lee Ferridge, analis makro State Street Global Markets. Kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan Desember turun menjadi 48% setelah rilis data inflasi dari 55% sehari sebelumnya. Awal pekan ini, bursa saham menguat setelah Gubernur Federal Reserve Janet Yellen mengatakan kenaikan suku bunga di waktu mendatang dapat dilakukan secara bertahap dalam menghadapi inflasi yang rendah. Sektor keuangan indeks S&P, yang mendapat keuntungan dari kenaikan suku bunga, turun 0,5%, dan sektor ini merupakan satu-satunya sektor yang melemah.
    • Harga minyak mentah menguat pada Senin (17/7/2017), setelah adanya data perlambatan rig baru Amerika Serikat dalam membor minyak ditengah permintaan yang kuat. Harga minyak mentah Brent Internasional naik 17 sen atau 0,35% ke level USD49,08 per barel pada pukul 01.26 GMT. Dan harga minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) bertambah 16 sen atau 0,34% ke USD46,70 per barel. Kenaikan ini memperpanjang menguatnya harga si emas hitam sejak pekan lalu. Beberapa pedagang dan analis mengatakan kenaikan harga ini disebabkan oleh permintaan yang kuat, sementara produksi minyak AS mulai menunjukkan gejala melambat. Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan bahwa permintaan minyak di AS lebih kuat dari perkiraan semula. Dan pergerakan tanpa henti di rig pengeboran yang beroperasi di AS kini mulai mereda. Hal ini terlihat dari penambahan rig dalam pekan sampai 14 Juli. Pengebor AS mengatakan hanya ada penambahan dua rig, lebih rendah dari sebelumnya. Adapun jumlah total rig saat ini, kata perusahaan jasa energi Baker Hughes mencapai 765 rig. Tambahan rig selama empat pekan terakhir, yang rata-rata hanya lima merupakan angka terendah sejak November 2016.

    Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

    Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.