Ekonomi Update 16 Mei 2017

    • Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia pada triwulan I 2017 mengindikasikan peningkatan pertumbuhan harga properti residensial di pasar primer.
    • Gubernur Bank Sentral EMEAP (Executives’ Meeting of East Asia and Pacific Central Banks (EMEAP) atau pertemuan eksekutif bank sentral Asia Timur dan Pasifik adalah forum kerja sama sebelas bank sentral dan otoritas moneter di wilayah Asia Timur dan Pasifik. Keanggotaan meliputi the Reserve Bank of Australia, the People’s Bank of China, the Hong Kong Monetary Authority, Bank Indonesia, the Bank of Japan, the Bank of Korea, Bank Negara Malaysia, the Reserve Bank of New Zealand, Bangko Sentral ng Pilipinas, the Monetary Authority of Singapore, and the Bank of Thailand) sepakat memperkuat komunikasi dan kerja sama antar bank sentral guna memperkuat ketahanan ekonomi kawasan.
    • Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus pada April 2017, didukung oleh surplus neraca perdagangan nonmigas.
    • Bank Indonesia menerbitkan ketentuan mengenai pembawaan Uang Kertas Asing (UKA) ke dalam dan ke luar Daerah Pabean Indonesia, yang tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.19/7/PBI/2017 tanggal 5 Mei 2017.
    • Awal pekan ini, ICBI ditutup menguat +0,8442poin (+0,40%) di level 222,7873. Penguatan ICBI lebih ditopang oleh kinerja INDOBeXG-Total Return (obligasi pemerintah) yang mengalami penguatan hingga +0,43% ke level 219,9395.
    • Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan nilai impor Indonesia pada April 2017 turun sebesar 10,20 persen jika dibandingkan bulan sebelumnya dari 13,28 miliar dolar Amerika Serikat menjadi 11,93 miliar dolar AS.
    • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa, dibuka menguat tipis sebesar 1,42 poin menyusul data ekonomi yang positif serta meningkatnya harapan kenaikan peringkat.
    • Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa pagi, bergerak menguat sebesar menjadi Rp13.286, dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp13.303 per dolar AS.
    • Harga minyak dunia berakhir lebih tinggi untuk sesi keempat berturut-turut pada Senin (Selasa pagi WIB), karena Arab Saudi dan Rusia mengatakan kesepakatan pemangkasan produksi minyak mentah perlu diperluas hingga 2018.
    • Indeks S&P 500 dan Nasdaq di Wall Street ditutup di rekor tertinggi pada Senin (Selasa pagi WIB), karena sentimen pasar terangkat oleh melonjaknya harga minyak.
    • Kontrak emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange naik lagi pada Senin (Selasa pagi WIB), untuk sesi keempat berturut-turut, karena dolar AS terus melemah.
    • Kurs dolar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada Senin (Selasa pagi WIB), karena data manufaktur dari negara tersebut berada di bawah ekspektasi.
    • Bursa saham Asia berseri mengawali perdagangan Selasa (16/5), mengekor jejak bursa Amerika Serikat (AS).
    • Pergerakan bursa saham Eropa berakhir dengan sedikit kenaikan pada perdagangan kemarin, di saat reli pada produsen komoditas dan energi mengimbangi pelemahan pada produsen obat dan perusahaan media.
    • Memasuki April, otot pertumbuhan ekonomi China mulai kendur.

    EKONOMI DOMESTIK

    • Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia pada triwulan I 2017 mengindikasikan peningkatan pertumbuhan harga properti residensial di pasar primer. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial triwulan I 2017 yang tumbuh sebesar 1,23% (qtq), naik dari 0,37% (qtq) pada triwulan sebelumnya. Kenaikan harga rumah terjadi pada semua tipe rumah, terutama tipe kecil, dengan kenaikan tertinggi terindikasi di Surabaya. Peningkatan harga rumah terutama berasal dari kenaikan harga bahan bangunan dan upah pekerja. Di tengah meningkatnya pertumbuhan harga rumah, volume penjualan properti residensial mengindikasikan perlambatan. Volume penjualan pada triwulan I 2017 tumbuh sebesar 4,16% (qtq), melambat dibandingkan dengan 5,06% (qtq) pada triwulan sebelumnya. Hal ini sejalan dengan indikasi penyaluran KPR dan KPA pada triwulan I 2017 yang masih belum kuat. Hasil survei menunjukkan bahwa dana internal perusahaan masih menjadi andalan pengembang dalam pembangunan properti residensial. Sebagian besar pengembang (54,14%) menyatakan bahwa dana internal perusahaan masih menjadi sumber utama pembiayaan pembangunan properti. Sementara itu dari sisi konsumen, fasilitas KPR (74,31%) tetap menjadi pilihan utama dalam melakukan transaksi pembelian properti.
    • Gubernur Bank Sentral EMEAP (Executives’ Meeting of East Asia and Pacific Central Banks (EMEAP) atau pertemuan eksekutif bank sentral Asia Timur dan Pasifik adalah forum kerja sama sebelas bank sentral dan otoritas moneter di wilayah Asia Timur dan Pasifik. Keanggotaan meliputi the Reserve Bank of Australia, the People’s Bank of China, the Hong Kong Monetary Authority, Bank Indonesia, the Bank of Japan, the Bank of Korea, Bank Negara Malaysia, the Reserve Bank of New Zealand, Bangko Sentral ng Pilipinas, the Monetary Authority of Singapore, and the Bank of Thailand) sepakat memperkuat komunikasi dan kerja sama antar bank sentral guna memperkuat ketahanan ekonomi kawasan. Kerja sama antara lain dilakukan dalam merespons ketidakpastian global jangka pendek, serta mempersiapkan diri menghadapi tantangan jangka menengah–panjang. Demikian mengemuka dalam pertemuan Gubernur Bank Sentral EMEAP ke-52 di Auckland, Selandia Baru, pada 15 Mei 2017. Dalam pertemuan yang membahas perkembangan terkini ekonomi-keuangan global dan regional ekonomi tersebut, para gubernur menyambut baik prospek ekonomi yang positif dan stabilnya pasar keuangan di kawasan. Pada kesempatan ini, Gubernur Bank Indonesia, Agus D.W. Martowardojo menyampaikan bahwa produktivitas menjadi kunci bagi upaya pengendalian inflasi dan pengembangan kapasitas perekonomian dalam jangka menengah. Dalam pemaparan tersebut, Bank Indonesia mendukung penuh berbagai upaya reformasi struktural yang ditempuh dalam upaya meningkatkan efisiensi dan daya saing perekonomian. Bank Indonesia juga berkontribusi secara aktif mendorong peningkatan produktivitas dengan konsisten menjaga stabilitas perekonomian sebagai prasyarat berlanjutnya kegiatan ekonomi yang produktif. Selain itu, Bank Indonesia juga menempuh berbagai inisiatif untuk meningkatkan efisiensi di pasar keuangan melalui berbagai upaya pendalaman pasar keuangan. Para gubernur juga mendiskusikan perkembangan Komite Stabilitas Moneter dan Keuangan (Monetary and Financial Stability Committee – MFSC) terkait pengawasan (surveillance), kegiatan riset, dan kerangka manajemen krisis regional. Pembahasan juga meliputi peran, manfaat dan tantangan teknologi finansial (Financial Technology) terhadap perekonomian. Para gubernur sepakat agar komite dan working group EMEAP tetap melanjutkan pemantauan terhadap perkembangan financial technology. Selain itu, pertemuan juga mendiskusikan berbagai inisiatif kerja sama di bidang pengawasan bank, pasar keuangan, sistem pembayaran dan setelemen, serta teknologi informasi. Diskusi mencatat perkembangan positif pada ekonomi di kawasan, meskipun beberapa risiko ketidakpastian ke depan perlu terus mendapat perhatian.
    • Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus pada April 2017, didukung oleh surplus neraca perdagangan nonmigas. Surplus neraca perdagangan April 2017 tercatat sebesar 1,24 miliar dolar AS, lebih rendah dibandingkan dengan surplus Maret 2017 yang tercatat sebesar 1,40 miliar dolar AS. Surplus yang lebih rendah tersebut dipengaruhi oleh turunnya surplus neraca perdagangan nonmigas yang lebih besar dari penurunan defisit neraca perdagangan migas. Meski demikian, surplus neraca perdagangan pada April 2017 tersebut menunjukkan kinerja yang jauh lebih baik jika dibandingkan surplus pada April 2016 yang hanya sebesar 0,88 miliar dolar AS. Surplus neraca perdagangan nonmigas pada April 2017 tercatat sebesar 1,87 miliar dolar AS, lebih rendah dibandingkan dengan surplus bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,2 miliar dolar AS. Menurunnya surplus neraca perdagangan nonmigas tersebut dipengaruhi oleh penurunan ekspor nonmigas sebesar 0,98 miliar dolar AS (mtm), lebih besar dari penurunan impor nonmigas yang sebesar 0,69 miliar dolar AS (mtm). Penurunan ekspor nonmigas terutama dipengaruhi oleh turunnya ekspor lemak dan minyak hewan, bahan bakar mineral, karet dan barang dari karet, mesin/peralatan listrik, dan pakaian jadi bukan rajutan. Sementara itu, penurunan impor nonmigas terutama disebabkan oleh turunnya impor mesin dan peralatan mekanik, plastik dan barang dari plastik, bahan kimia organik, kapal laut dan bangunan terapung, serta bahan bakar mineral. Di sisi migas, defisit neraca perdagangan migas turun dari 0,77 miliar dolar AS pada Maret 2017 menjadi 0,63 miliar dolar AS pada April 2017. Penurunan defisit neraca perdagangan migas tersebut dipengaruhi oleh penurunan impor migas sebesar 0,67 miliar dolar AS (mtm) yang melebihi penurunan ekspor migas yang sebesar 0,53 miliar dolar AS (mtm). Bank Indonesia memandang bahwa kinerja neraca perdagangan April 2017 positif dalam mendukung kinerja transaksi berjalan. Bank Indonesia terus mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik yang dapat memengaruhi kinerja neraca perdagangan serta secara konsisten menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan agar kegiatan ekonomi domestik terus berjalan dengan baik.
    • Bank Indonesia menerbitkan ketentuan mengenai pembawaan Uang Kertas Asing (UKA) ke dalam dan ke luar Daerah Pabean Indonesia, yang tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.19/7/PBI/2017 tanggal 5 Mei 2017. Dengan diterbitkannya PBI ini maka pembawaan UKA keluar dan masuk daerah pabean Indonesia dengan jumlah nilai paling sedikit setara dengan Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) hanya boleh dilakukan oleh Badan Berizin, yaitu Bank dan penyelenggara Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing (KUPVA) Bukan Bank yang telah memperoleh izin dan persetujuan dari Bank Indonesia untuk melakukan Pembawaan UKA. Di samping Badan Berizin, Perusahaan Jasa Pengolahan Uang Rupiah (PJPUR) yang telah memenuhi persyaratan dan terdaftar di Bank Indonesia dapat melakukan pembawaan UKA lintas batas, namun hanya sebatas sebagai penerima perintah (transporter) dari Badan Berizin. Penerbitan PBI tersebut dilatarbelakangi oleh tingginya aktivitas Pembawaan UKA lintas batas yang belum diimbangi oleh ketersediaan data dan informasi yang memadai bagi otoritas moneter, khususnya mengenai underlying transaksi pembawaan UKA. Selain itu, belum tersedia instrumen untuk mengawasi aktivitas Pembawaan UKA yang masuk dan ke luar daerah pabean Indonesia. Pengaturan lalu lintas pembawaan UKA ini nantinya dapat menjadi instrumen yang memonitor sekaligus mengendalikan lalu lintas pembawaan UKA, sehingga diharapkan dapat mendukung efektifitas kebijakan moneter, khususnya dalam pengendalian nilai tukar. Ketentuan ini juga berkaitan erat dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan Peraturan Pemerintah (PP) No. No. 99 Tahun 2016 tentang Pembawaan Uang Tunai yang dikeluarkan oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Kedua pengaturan yang dikeluarkan oleh BI dan PPATK akan saling menguatkan (enforcing each other) dalam mengatur pembawaan UKA lintas batas. Dalam implementasinya, pengenaan sanksi akan diberikan bagi pihak-pihak yang tidak memenuhi persyaratan yang diatur dalam PBI. Sanksi yang dikenakan berupa penegahan terhadap seluruh jumlah UKA yang dibawa sesuai aturan teknis pabean Indonesia. PBI ini mulai berlaku sejak tanggal 5 Maret 2018, namun pengenaan sanksi pelanggaran baru akan diberlakukan pada tanggal 7 Mei 2018 (2 bulan setelah tanggal berlakunya PBI). Pemberian tenggang waktu pemberlakuan PBI tersebut antara lain guna memperkuat aspek sosialisasi kepada masyarakat sebelum sanksi PBI diberlakukan secara efektif, serta pemberian waktu bagi Bank dan Penyelenggara KUPVA Bukan Bank yang memenuhi persyaratan untuk mengurus permohonan sebagai Badan Berizin kepada Bank Indonesia.
    • Awal pekan ini, ICBI ditutup menguat +0,8442poin (+0,40%) di level 222,7873. Penguatan ICBI lebih ditopang oleh kinerja INDOBeXG-Total Return (obligasi pemerintah) yang mengalami penguatan hingga +0,43% ke level 219,9395. Kinerja return obligasi korporasi (INDOBeXC-Total Return) kemarin juga menguat sebesar +0,17% ke level 234,1478. Kurva IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) tampak didominasi bullish dengan rata-rata yield turun –2,49bps. Hanya tenor 1 dan 2 tahun yang tertekan naik sedangkan selebihnya bergerak turun. Yield SBN 2-tahun Senin kemarin berada di level 6,4881% (+0,05bps); yield 5-tahun di level 6,8578% (-5,28bps); dan yield 10-tahun di level 7,3266% (-4,55bps). Dominasi bullish pada kurva yield IBPA-IGSYC berhasil mendorong INDOBeXG-Effective Yield turun –0,0568poin ke level 7,2275. Senada dengan sesi siang, harga seluruh seri benchmark hingga penutupannya kompak bergerak menguat dengan rata-rata naik +80,48bps. Kenaikan harga tertinggi dicatatkan FR0072 hingga +117,39bps. Sedangkan kenaikan harga terendah dicatatkan FR0061 sebesar +36,35bps. Harga SBN tipe FR dan ORI kemarin juga didominasi penguatan dengan rata-rata naik +28,59bps. Dari 42 seri yang beredar, hanya 6 seri yang tercatat terkoreksi dengan rata-rata –7,08bps. Sehingga INDOBeXG-Clean Price awal pekan ini ditutup menguat +0,37% di level 114,7333 (+0,4271poin). Transaksi obligasi di pasar sekunder pada perdagangan Senin tampak belum semarak. Total frekuensi turun –9,32% dari 708 kali menjadi 642 kali, dan total volume turun –39,66% dari Rp22,55tn menjadi Rp13,60tn. Penurunan terbesar dialami oleh transaksi SBN tenor menengah dengan total volume transaksi turun hingga –84,16% menjadi Rp1,73tn (total frekuensi turun –27,54%%). Transaksi SUN benchmark Senin kemarin juga tampak menurun. Total frekuensi turun –17,01% dari 341 kali menjadi 283 kali, dan total volume turun –20,84% dari Rp5,58tn menjadi Rp4,42tn. Total volume transaksi SBN terbesar kemarin dicatatkan seri FR0056 yakni sebesar Rp1,88tn (55 kali transaksi). Namun seri SBN teraktif diraih FR0059 yakni sebanyak 107 kali (Volume Rp1,62tn). Pasar obligasi domestik membuka awal pekan ini dengan kinerja yang positif terpicu oleh rilis data neraca pembayaran dan neraca perdagangan Indonesia. Akhir pekan kemarin, Bank Indonesia telah merilis data neraca pembayaran Q1-2017 yang surplus US$4,5miliar atau jauh lebih baik dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu yang defisit US$0,3miliar. Setelahnya, Senin kemarin BPS juga telah merilis data neraca perdagangan bulan April yang surplus US$1,24miliar atau lebih tinggi dari konsensus yang sebesar US$0,86miliar. Terapresiasinya rupiah di pasar Spot kemarin sebesar 27,0poin ke level Rp13.303/US$ turut menopang hijaunya kinerja pasar obligasi awal pekan ini. Senada dengan pasar obligasi, IHSG pada penutupan Senin tercatat menguat +0,24% ke level 5.688,87. Kinerja pasar SBN masih berpotensi menguat siang ini. Surplus data neraca pembayaran dan neraca perdagangan Indonesia masih menjadi katalis positif di pasar. Namun ditengah surplusnya kedua data ekonomi tersebut, penurunan kinerja ekspor-impor Indonesia di bulan April di kisaran 10,00% diperkirakan turut menjadi pertimbangan pasar. Dari global, penguatan harga minyak mentah jenis WTI sebesar +2,11% turut memberikan sentimen positif di pasar.
    • Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan nilai impor Indonesia pada April 2017 turun sebesar 10,20 persen jika dibandingkan bulan sebelumnya dari 13,28 miliar dolar Amerika Serikat menjadi 11,93 miliar dolar AS. Kepala BPS Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa penurunan impor tersebut terjadi pada sektor migas dan nonmigas. Namun penurunan cukup dalam dialami sektor migas mencapai 29,25 persen. "Impor migas April 2017 mencapai 1,61 miliar dolar AS atau turun 29,25 persen dibanding Maret 2017, sedangkan jika dibanding April 2016 naik 18,27 persen," kata Suhariyanto. Penurunan impor migas tercatat sebesar 666 juta dolar AS, sementara nonmigas 689,1 juta dolar AS atau 6,26 persen. Penurunan impor migas dipicu oleh semua komponen, yakni minyak mentah turun 34,41 persen, hasil minyak 25,01 persen dan gas 37,66 persen. Sementara dari sektor nonmigas, penurunan terbesar terjadi pada impor golongan kapal laut dan bangunan terapung sebesar 187,7 juta dolar AS atau mencapai 63,46 persen, diikuti oleh mesin dan peralatan mekanik turun sebesar 178,6 juta dolar AS atau 10,22 persen. Selain itu, penurunan impor juga terjadi pada bahan bakar mineral sebesar 81,4 juta dolar AS atau 60,12 persen, bahan kimia organik sebesar 63,4 juta dolar AS atau 11,37 persen dan golongan plastik dan barang dari plastik sebesar 51,1 juta dolar AS atau 7,54 persen. Impor nonmigas April 2017 mencapai 10,32 miliar atau turun 6,26 persen dibanding Maret 2017, namun jika dibanding April 2016 meningkat 9,16 persen. Sementara beberapa komoditas nonmigas yang mengalami kenaikan impor antara lain golongan serealia sebesar 34,2 juta dolar AS atau 17,45 persen, biji-bijian berminyak 34 juta dolar AS atau 29,26 persen, pupuk 26,9 juta dolar AS atau 21,13 persen, sisa industri makanan 25,9 juta dolar AS atau 11,97 persen dan barang dari besi dan baja sebesar 19 juta dolar AS atau 15 persen. Secara kumulatif, pada periode Januari-April 2017 total impor tercatat sebesar 48,53 miliar dolar AS, atau mengalami peningkatan jika dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar 42,76 miliar dolar AS. Nilai impor untuk semua golongan penggunaan barang tercatat mengalami kenaikan jika dibanding periode yang sama pada periode tersebut. Nilai impor barang konsumsi naik 7,78 persen, bahan baku penolong naik 15,85 persen dan barang modal sebesar 6,29 persen. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama periode tersebut adalah China dengan nilai 10,37 miliar dolar AS (25,70 persen), Jepang 4,63 miliar dolar AS (11,49 persen), dan Thailand 2,89 miliar dolar AS (7,16 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN tercatat sebesar 20,83 persen, sementara dari Uni Eropa dengan 28 negara sebanyak 9,24 persen.
    • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa, dibuka menguat tipis sebesar 1,42 poin menyusul data ekonomi yang positif serta meningkatnya harapan kenaikan peringkat. IHSG BEI dibuka naik 1,42 poin atau 0,03 persen menjadi 5.690,29 poin. Sementara itu kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak menguat 0,35 poin (0,04 persen) menjadi 952,81 poin. "Ditopang oleh sentimen dari dalam negeri yang terbilang positif atas neraca perdagangan, memperkuat harapan terhadap kenaikan peringkat dari lembaga pemeringkat Standard & Poor's (S&P) sehingga membuka peluang bagi IHSG untuk menguat," kata Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere di Jakarta, Selasa. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan neraca perdagangan Indonesia pada April 2017 mencatatkan surplus sebesar 1,24 miliar dolar AS. Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia pada Januari-April 2017 tercatat surplus sebesar 5,33 miliar dolar AS dengan ekspor mencapai 53,86 miliar dolar AS dan impor sebesar 48,53 miliar dolar AS. Ia menambahkan bahwa Kementerian ESDM yang menegaskan pelanggan listrik rumah tangga golongan 450 VA tetap mendapat subsidi listrik diharapkan memberi efek positif bagi masyarakat dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan. Dengan demikian tidak ada kekhawatiran adanya sumber potensi lain terhadap kenaikan laju inflasi. Kendati demikian, menurut dia, laju IHSG dapat tertahan menyusul para menteri keuangan negara G7 masih mempermasalahkan kebijakan proteksionisme Presiden AS Donald Trump. Situasi itu dapat membuat investor menahan transaksinya. Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menambahkan bahwa pelaku pasar saham diharapkan tetap waspada karena kenaikan IHSG belum sepenuhnya didukung oleh volume perdagangan yang tinggi. "Kondisi itu cukup rentan terhadap pergerakan IHSG," katanya. Bursa regional, di antaranya indeks bursa Nikkei naik 4,99 poin (0,03 persen) ke 19.874,43, indeks Hang Seng melemah 124,24 poin (0,49 persen) ke 25.247,35, dan Straits Times menguat 17,72 poin (0,54 persen) posisi 3.245,85.
    • Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa pagi, bergerak menguat sebesar menjadi Rp13.286, dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp13.303 per dolar AS. "Nilai tukar rupiah menguat seiring dengan sentimen domestik yang membaik sehingga mendorong aliran dana asing ke dalam negeri masih cukup besar," kata Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta. Ia menambahkan, data neraca perdagangan yang surplus, realisasi pendapatan pajak tinggi, serta inflasi yang terjaga juga memberi harapan pada fundamental ekonomi Indonesia sehingga menjaga fuluktuasi mata uang domestik. Ia mengatakan, fokus pasar selanjutnya akan tertuju ke data ekspor-impor Indonesia yang sedianya dirilis pada awal pekan depan, yang diperkirakan juga masih mencatatkan hasil positif. Kendati demikian, ia menuturkan, Ketua The Fed Janet Yellen yang hawkish terhadap kenaikan suku bunga AS pada Juni mendatang menyusul data ekonomi yang membaik dapat membatasi laju rupiah. Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan, harga minyak mentah dunia yang mulai mengalami kenaikan juga turut menjaga fluktuasi mata uang rupiah terhadap dolar AS. Harga minyak jenis WTI Crude pada Selasa (16/5) pagi ini menguat 0,43 persen menjadi ke posisi 49,06 dolar AS per barel, dan Brent Crude naik 0,37 persen ke level 52,01 dolar AS per barel. "Kami masih melihat adanya peluang untuk rupiah melanjutkan apresiasinya," katanya.

     

    EKONOMI GLOBAL

     

    • Harga minyak dunia berakhir lebih tinggi untuk sesi keempat berturut-turut pada Senin (Selasa pagi WIB), karena Arab Saudi dan Rusia mengatakan kesepakatan pemangkasan produksi minyak mentah perlu diperluas hingga 2018. Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni, melonjak 1,01 dolar AS menjadi menetap di 48,85 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara itu, patokan Eropa, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Juli, bertambah 0,98 dolar AS menjadi ditutup pada 51,82 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Harga minyak menguat pada Senin (15/5), setelah menteri energi Arab Saudi dan Rusia mengatakan bahwa pemotongan produksi minyak mentah yang dipimpin OPEC akan diperpanjang dari pertengahan tahun ini sampai Maret 2018. Menteri energi Arab Saudi dan Rusia mengatakan bahwa pemotongan pasokan harus diperpanjang selama sembilan bulan, sampai Maret 2018, yang lebih lama dari perpanjangan opsional enam bulan yang ditentukan dalam kesepakatan tersebut. Para menteri juga mengatakan bahwa mereka berharap produsen-produsen lainnya akan mengikuti pemotongan pasokan, yang pada awalnya akan berada pada persyaratan volume yang sama seperti sebelumnya. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan menggelar pertemuan reguler mereka di Wina pada 25 Mei mendatang.
    • Indeks S&P 500 dan Nasdaq di Wall Street ditutup di rekor tertinggi pada Senin (Selasa pagi WIB), karena sentimen pasar terangkat oleh melonjaknya harga minyak. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 85,33 poin atau 0,41 persen menjadi berakhir di 20.981,94 poin. Sementara itu, indeks S&P 500 ditutup naik 11,42 poin atau 0,48 persen menjadi 2.402,32 poin, dan indeks komposit Nasdaq bertambah 28,44 poin atau 0,46 persen menjadi 6.149,67 poin. Harga minyak menguat pada Senin (15/5), setelah menteri energi Arab Saudi dan Rusia mengatakan bahwa pemotongan produksi minyak mentah yang dipimpin OPEC akan diperpanjang dari pertengahan tahun ini sampai Maret 2018. OPEC akan menggelar pertemuan reguler di Wina pada 25 Mei. Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni melonjak 1,01 dolar AS menjadi menetap di 48,85 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara itu, patokan Eropa, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Juli, bertambah 0,98 dolar AS menjadi ditutup pada 51,82 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Di sisi lain, musim laporan laba perusahaan-perusahaan sejauh ini kuat. Data terakhir dari Thomson Reuters menunjukkan bahwa laba gabungan perusahaan-perusahaan S&P 500 pada kuartal pertama 2017 diperkirakan meningkat 14,7 persen dari tahun ke tahun, sementara pendapatan mereka diperkirakan meningkat 7,3 persen. Saham-saham AS diperdagangkan bervariasi untuk minggu lalu, karena para investor mencerna serangkaian laporan laba perusahaan kuartal pertama dan pidato penting dari para pejabat Federal Reserve.
    • Kontrak emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange naik lagi pada Senin (Selasa pagi WIB), untuk sesi keempat berturut-turut, karena dolar AS terus melemah. Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Juni naik 2,3 dolar AS atau 0,19 persen menjadi menetap di 1.230 dolar AS per ounce. Melemahnya dolar menyebabkan kenaikan pada emas karena Indeks Dolar AS turun 0,26 persen menjadi 98,875 pada pukul 18.06 GMT. Indeks tersebut merupakan ukuran dolar terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya. Emas dan dolar biasanya bergerak berlawanan arah, yang berarti jika dolar turun, emas berjangka akan naik. Logam mulia mendapat dukungan tambahan dari masalah geopolitik, seperti situasi yang tidak stabil dan masa depan yang tidak pasti di Semenanjung Korea, serangan siber baru-baru ini di seluruh dunia, kata beberapa analis. Barometer manufaktur wilayah New York juga berkontribusi terhadap kenaikan emas, karena rilis pada Senin (15/5) oleh Federal Reserve Bank of New York. Menurut survei manufaktur Empire State (Negara Bagian New York), indeks kondisi bisnis umum turun enam poin menjadi -1 pada Mei, pertama kali berada di wilayah negatif sejak Presiden Donald Trump menjabat. Namun, kenaikan emas berjangka tertahan, karena Dow Jones Industrial Average AS naik tajam sebesar 90,56 poin atau 0,43 persen pada pukul 18.16 GMT. Analis mencatat bahwa ketika ekuitas mendapat keuntungan, logam mulia biasanya jatuh. Perak untuk pengiriman Juli naik 20,1 sen atau 1,23 persen ditutup pada 16,603 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli naik 11,2 dolar AS atau 1,22 persen menjadi 928,70 dolar AS per ounce.
    • Kurs dolar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada Senin (Selasa pagi WIB), karena data manufaktur dari negara tersebut berada di bawah ekspektasi. Federal Reserve Bank of New York melaporkan pada Senin (15/5) bahwa aktivitas bisnis di Negara Bagian New York datar, menurut perusahaan-perusahaan yang menanggapi Survei Manufaktur Negara Bagian New York (Empire State Manufacturing Survey) pada Mei 2017. Indeks kondisi bisnis umum turun enam poin menjadi -1,0, jauh di bawah konsensus pasar 8,0. Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,30 persen menjadi 98,955 pada akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi 1,0976 dolar AS dari 1,0920 dolar AS, dan poundsterling Inggris naik ke 1,2894 dolar AS dari 1,2879 dolar AS pada sesi sebelumnya. Dolar Australia meningkat menjadi 0,7416 dolar AS dari 0,7391 dolar AS. Dolar AS dibeli 113,70 yen Jepang, lebih tinggi dari 113,43 yen pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9964 franc Swiss dari 1,0021 franc Swiss dan turun tipis menjadi 1,3646 dolar Kanada dari 1,3713 dolar Kanada.
    • Bursa saham Asia berseri mengawali perdagangan Selasa (16/5), mengekor jejak bursa Amerika Serikat (AS). Katalis positif datang dari naiknya harga minyak setelah menteri energi Rusia dan Arab Saudi mengumumkan pemotongan produksi harus diperpanjang sampai Maret 2018 dan mengabaikan berita politik tentang Presiden Donald Trump. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 3 % selama sesi kemarin menyusul berita tersebut. Arab Saudi dan Rusia adalah produsen minyak terbesar di dunia. Minyak WTI menguat 0,37 % diperdagangkan pada US$ 49,02 per barel sementara minyak mentah Brent menambahkan 0,31 % diperdagangkan pada US$ 51,98. Indeks Nikkei 225 naik 0,5 %. Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan CNBC, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengatakan pada hari Senin bahwa negaranya akan terus mendorong kesepakatan perdagangan trans-Pasifik, namun dia berharap AS akan bergabung kembali dalam perjanjian tersebut. Kevi pun melonjak 0,64 % pada awal perdagangan pada hari Selasa. Sementara, S & P / ASX 200 Australia menambahkan 0,31 %, terutama karena kenaikan sub indeks bahan baku, yang naik 0,86 %.
    • Pergerakan bursa saham Eropa berakhir dengan sedikit kenaikan pada perdagangan kemarin, di saat reli pada produsen komoditas dan energi mengimbangi pelemahan pada produsen obat dan perusahaan media. Indeks Stoxx Europe 600 ditutup naik 0,09% ke posisi 395,97 pada perdagangan Senin (15/5), kisaran level tertinggi dalam 21 bulan. Sementara itu kinerja kelompok penambang menanjak 1,7%, mengekor harga logam yang bergerak lebih tinggi. Harga minyak mentah reli setelah Arab Saudi dan Rusia menyatakan sikap atas keinginan memperpanjang upaya pemangkasan produksi minyak mentah. Indeks yang mengukur pergerakan saham energi pun naik 0,9%. Bursa minyak Brent menguat setelah kedua negara tersebut menyatakan kesepakatan bersama untuk memperpanjang pengurangan produksi hingga akhir kuartal pertama 2018 atau Maret 2018. “Perusahaan-perusahaan minyak terintegrasi mewakili satu-satunya perdagangan "nilai absolut" dalam saham Eropa,” papar para ahli strategi Bernstein dalam risetnya (16/5/2017). Dikemukakan, sektor ini diperdagangkan mendekati level terendah 30 tahun terhadap price-to-book basis serta menawarkan tingkat tertinggi imbal hasil dividen relatif yang telah terlihat hampir dalam tiga dekade.
    • Memasuki April, otot pertumbuhan ekonomi China mulai kendur. Padahal, sejak awal tahun, China sempat mencatat tren pertumbuhan yang kuat. Kondisi ini tecermin dari hasil produksi (output) industri yang tertekan aturan ketat penyaluran utang shadow banking. Hasil produksi industri China tumbuh 6,5% pada April ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy). Meski tumbuh positif, pencapaian tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi Maret 2017 yang bisa tumbuh 7,6% (yoy). Nasib sama juga dialami investasi aset yang tumbuh 8,9% per April atau melambat dibandingkan periode Maret lalu yang mencapai 9,2%. Investasi aset tetap di sektor manufaktur juga melambat per April atau hanya tumbuh 4,9%. Angka ini lebih rendah dari pencapaian Maret yang tumbuh 5,8%. Namun, kabar baik datangdari pos belanja infrastruktur yang melesat tumbuh lebih dari 23% secara tahunan. Lonjakan tersebut didukung proyek One Belt and One Road (OBOR) yang bertujuan memperluas investasi ke kawasan Asia, Afrika, dan Eropa. Capaian angka-angka tersebut di bawah perkiraan para analis yang disurvei Reuters. Para analis memprediksi produksi manufaktur China akan tumbuh 7,1%, investasi aset bisa tumbuh 9,1% pada April. Dengan kata lain, realisasi pertumbuhan di April meleset dari harapan pasar. Salah satu faktor melambatnya pertumbuhan output manufaktur disebut-sebut karena harga baja dan bijih besi yang jatuh. Ini terjadi di tengah kekhawatiran atas peningkatan stok komoditas itu lantaran telah menyentuh angka produksi tertinggi sejak Desember 2014. Kondisi ini memperkuat bukti melemahnya sektor manufaktur dan perlambatan ekonomi negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia ini. Analis Pritchard Capital Economics Julian Evans menilai, ada perlambatan yang lebih cepat dari perkiraan sejumlah analis. Namun, ia meyakini China masih jauh dari tren ekonomi melemah. "Ini akan menjadi ujian para pembuat kebijakan, sebab urgensinya bukan hanya menangani masalah risiko keuangan. Ada masalah yang lebih besar lagi, yakni pertumbuhan ekonomi," kata Evans, Senin (15/5). Analis mengatakan, China ingin memastikan pertumbuhan ekonomi yang stabil menjelang Kongres Partai Komunis ke-19 yang digelar akhir tahun nanti. Para pemimpin China telah berjanji menangani risiko keuangan dan gelembung aset atau bubble yang dapat menjadi ancaman bagi raksasa ekonomi Asia ini. Sejatinya, Bank Sentral China telah menetapkan lebih tinggi suku bunga jangka pendek. Meskipun dapat melukai pertumbuhan ekonomi, cara ini ampuh meredam bahaya shadow banking. Sejatinya, pertumbuhan ekonomi kuartal pertama China mencetak prestasi lebih dari perkiraan awal, yakni tumbuh 6,9%. Prestasi ini merupakan pertumbuhan tercepat sejak 2015. Penopang pertumbuhan ekonomi di kuartal I adalah pengeluaran infrastruktur pemerintah yang lebih tinggi dan ledakan permintaan properti di sejumlah kota. Tahun ini, China telah memangkas target pertumbuhan ekonominya menjadi sekitar 6,5%. Namun, inisiatif proyek pengembangan Silk Road atau jalan sutera yang ambisius membuat para analis memperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi lagi. Ekonom ANZ Raymond Yeung dan Betty Wang memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi China tetap bisa terjadi dengan strategi ke arah investasi. "Pertumbuhan akan terus didukung oleh infrastruktur yang kuat, ditambah proyek Belt dan Road, serta proyek urbanisasi seperti Xiong'an," ucap mereka. Presiden Xi Jinping bakal mengalokasikan dana senilai US$ 124 miliar untuk menghidupkan Jalur Sutera.

     

    Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

    Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.