Bank Jateng Goes To Singapore

Singapura sepertinya tidak ada habisnya dalam membangun system, infrastruktur dan layanannya menjadi menarik bagi investor dan wisata. Meski tidak memiliki sumber daya alam yang cukup, Singapura justru jadi magnet perekonomian di kawasan Asia Tenggara.

Keberhasilan pembangunan di Singapura ini, menurut Prof Neo Boon Siong dilatarbelakangi kemampuan memanfaatkan keunggulan kompetitive yang dia sebut sebagai Dynamic Capability Governance. Hal ini dikemukannya saat menjadi narasumber tunggal seminar strategic yang diadakan Bank Jateng di Hotel Hilton Orchard Singapura beberapa waktu lalu.

Dalam seminar yang dihadiri Hanawijaya Direktur Operasional/UUS, Rahadi Widayanto Direktur Kepatuhan dan sejumlah pejabat Bank Jateng itu bertujuan untuk melakukan diskusi dan mendengar penjelasan langsung dari Prof Neo agar Bank Jateng sebagai Bank milik pemerintah daerah Jawa Tengah dapat lebih memberi peran dalam pembangunan di Jawa Tengah. Seminar ini juga sebagai bentuk komitmen dan kontribusi Bank Jateng mendukung pengembangan Kawasan Industri Kendal yang diresmikan oleh Presiden Jokowi dan dihadiri Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong beberapa waktu lalu.

“Bank Jateng ini milik pemerintah Jawa Tengah, jadi sudah menjadi kewajiban kami untuk mendukung pembangunan Jawa Tengah. Terlebih saat ini kinerja Bank Jateng mengalami pertumbuhan yang baik diatas rata-rata perbankan. Bahkan dalam kurun 3 tahun terakhir, asset melesat menjadi 50 triliun, laba tembus lebih dari 1 triliun. Prestasi ini menjadi modal untuk memberi kontribusi pembangunan di Jawa Tengah”, kata Hana. Pada kesempatan yang sama Rahadi menambahkan dari aspek kepatuhan dan risiko, Bank Jateng saat ini dalam kondisi yang baik, kredit bermasalah masih terkendali.

Neo yang juga sebagai Direktur OCBC ini mengungkapkan kemajuan Singapura saat ini dilalui melalui perubahan pola pikir yang disebutnya sebagai konsep Dynamic Capability Governance. Menurutnya kemajuan ini ditentukan oleh pendidikan yang baik untuk masyarakat, patriotisme dan tata kelola pemerintahan yang baik. Lebih jauh dia menyebutkan konsep itu dapat diwujudkan melalui kemampuan menangkap arah perkembangan situasi ke depan, kemauan menata dan mengevaluasi kebijakan, keterbukaan, inovatif dengan produktivitas tinggi untuk menciptakan peningkatan kemakmuran.

“Kemakmuran suatu daerah itu diciptakan, bukan warisan, harus dikelola menjadi keunggulan kompetitive dan berusaha creative menciptkan peluang yang menarik investor. Dan Bank Jateng sebagai entitas di Jawa Tengah punya peran strategis untuk terlibat mewujudkan kemakmuran daerah bersama pemerintah”. Simpulnya.

“Dynamic capability yang menjadi konsep penting bagaimana mewujudkan kemakmuran daerah. Disinilah Bank Jateng merasa benih konsep ini perlu dikembangkan untuk kemakmuran di Jawa Tengah yang lebih baik lagi”, simpul Hanawijaya atas paparan Prof Neo.