Bank Jateng ditunjuk menjadi bank pelindung BPR

Akhir Februari 2012 Perhimpunan Bank Perkreditan Indonesia (Perbarindo) Jateng akan segera meresmikan bank pelindung atau apex bank. Apex bank berfungsi mendorong kinerja bank perkreditan rakyat (BPR) ditengah persaingan dengan lembaga pembiayaan lain.

Pemimpin bank Indonesia Semarang Joni Swastanto mengatakan, apex bank berfungsi sama dengan Bank Indonesia. Bila perbankan umum bank pelindungnya adalah Bank Indonesia, untuk BPR ada apex bank. Apex Bank sangat diperlukan bagi pengembangan BPR ditengah keterbatasan kemampuan likuiditas dan aset, sehingga pemberian kredit kepada sektor usaha menengah kecil mikro bisa terus dipacu. Bank yang ditunjuk untuk menjadi apex bank adalah Bank Jateng.

Apex bank akan menjadi pengayom bagi BPR agar mereka semakin merasa yakin dan aman dalam beroperasi. Aktivitasnya sangat penting bagi pengembangan UMKM,karena BPR sebagai pendukung pembiayaan juga semakin berkembang. Saat ini apex bank sudah mencapai tahap finalisasi, semua keperlian sudah siap. Rencananya Gubernur Bibit Waluyo dan Deputi Gubernur BI yang akan meresmikan”, katanya pada Rabu (15/2/2012)

Dalam kerjasama ini, BPR akan melakukan penghimpunan dana di Bank Jateng. Simpanan tersebut bisa digunakan sebagai pinjaman oleh anggota apex yang membutuhkan penguatan dana untuk penyaluran kredit. Dengan dana dari para anggota tersebut , diharapkan likuiditas BPR lebih kuat, “Kalau BPR kekurangan dana, bisa minta ke apex bank”,tuturnya.

Selain mendapatkan fasilitas pendanaan jangka pendek, BPR bisa mendapatkan fasilitas anjugan tunai mandiri (ATM) dan transfer dana melalui sistem bank induk atau apex. Bahkan bagi nasabah BPR juga diharapkan bisa melakukan transfer dana antar bank lewat fasilitas kliring yang dilakunan oleh bank induknya.”Dengan menjadi anggota apex, BPR akan mendapatkan fasilitas pendanaan jangka pendek, pinjaman modal kerja dalam program linkage dan tranfer dana antar bank melalui kliring di luar BI”, ujarnya.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia, dana pihak ketiga (DPK) BPR di Jateng selama 2011 tumbuh 18,02 persen. Kredit BPR tumbuh lebih rendah dari perbankan umum yakni hanya 12,75 persen. “Dari hasil survei  Bank Indonesia, pertumbuhan BPR tertekan bukan karena persaingan dengan bank umum, tapi karena lembaga pembiaan lain seperti BMT”, katanya.