Bank Jateng dan Pembangunan Ekonomi Daerah

INFO NASIONAL – Selain fungsinya sebagai intermediasi antara pemilik modal dan penggunanya, perbankan berperan sebagai agen pembangunan. Ini juga yang dilakukan Bank Jateng, selain mencari laba, harus ikut berperan secara nyata dalam pembangunan daerah di wilayah Jawa Tengah.

Dalam hal ini, langkah pertama yang dilakukan Bank Jateng adalah membantu peningkatan pendapatan asli daerah (PAD), yaitu dengan cara memberikan dividen setiap tahun kepada pemilik dan pemegang saham, dalam hal ini gubernur dan kabupaten/kota. “Sebab, dengan mendukung peningkatan PAD, berarti kita ikut membangun daerah. Dividen ini kemudian akan digunakan pemerintah daerah sebagai sumber belanja untuk membangun daerah di Jawa Tengah,” kata Direktur Utama Bank Jateng Supriyatno di Jakarta, 1 Februari 2017.

Kedua, Bank Jateng juga membantu pembangunan daerah melalui produk yang sesuai dengan kepentingan dan karakter daerah. Dari 39 kabupaten dan 6 kota di Jawa Tengah, saat ini 16 kabupaten masih tergolong miskin. “Dalam hal ini kami juga berusaha memikirkan sebuah produk yang bisa membantu mengurangi kesenjangan dan kemiskinan tersebut,” tutur Supriyatno.

Bank Jateng pun menciptakan produk pembiayaan yang disebut kredit tanpa agunan Mitra Jateng25. Alasan pemberian nama Mitra Jateng25, menurut Supriyatno, karena maksimum plafon kreditnya sebesar Rp 25 juta dengan suku bunga 7 persen selama tiga tahun. “Jadi, asal masyarakat punya usaha lebih dari enam bulan, kita akan kasih pinjaman tersebut,” katanya.

Program Mitra Jateng25 ini merupakan hasil dari kerja sama antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Bank Jateng yang bertujuan meningkatkan perekonomian sekaligus menekan angka kemiskinan di Jawa Tengah. Adanya kemudahan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah diharapkan mampu menjadi solusi terbaik bagi masyarakat di wilayah kerja Bank Jateng dalam mengembangkan usaha yang mereka geluti. Bahkan bunganya terendah di Indonesia saat ini. “Kami bahkan tidak membebani pemerintah karena kami melakukannya tanpa subsidi. Ini adalah bentuk keberpihakan kami bahwa ada bagian keuntungan yang kami sisihkan untuk kepentingan masyarakat miskin,” ucap Supriyatno.

Perkembangan Program Mitra Jateng25 ini sangat cepat. Terbukti, dari delapan bulan sejak diluncurkan, sekarang nasabahnya sudah mencapai sembilan ribu lebih. Jumlah kredit yang dikucurkan hingga kini sudah mencapai Rp 170 miliar. Bank Jateng menargetkan sebesar Rp 350 miliar bisa terserap hingga periode semester pertama 2017. “Nah, ini bentuk-bentuk nyata dari apa yang kami lakukan dengan menerapkan penyesuaian terhadap apa yang dikehendaki daerah Jateng. Sensitivitas terhadap apa yang diminati oleh daerah dan apa yang harus dilakukan dalam kaitannya dengan pembangunan daerah, itulah fungsi Bank Jateng dalam bentuk kerja nyatanya di tengah-tengah masyarakat,” tutur Supriyatno. (*)