Bank Indonesia : Suku Bunga Deposit Facility 3,50% dan Lending Facility 5,00%, Berlaku Efektif sejak 19 Februari 2018

EKONOMI DOMESTIK

 

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 14-15 Februari 2018 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate tetap sebesar 4,25%, dengan suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 3,50% dan Lending Facility tetap sebesar 5,00%, berlaku efektif sejak 19 Februari 2018. Kebijakan tersebut konsisten dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta turut mendukung pemulihan ekonomi domestik. Bank Indonesia memandang bahwa pelonggaran kebijakan moneter yang telah ditempuh sebelumnya telah memadai untuk terus mendorong momentum pemulihan ekonomi domestik. Ke depan, Bank Indonesia meyakini bahwa terjaganya stabilitas perekonomian menjadi landasan utama bagi terciptanya pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan. Sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai, baik yang bersumber dari eksternal seperti peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global terkait ekspektasi kenaikan Fed Fund Rate (FFR) yang lebih tinggi dari perkiraan dan peningkatan harga minyak dunia, maupun dari dalam negeri terkait konsolidasi korporasi yang terus berlanjut, intermediasi perbankan yang belum kuat dan risiko inflasi. Untuk itu, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dengan proses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung. Bank Indonesia juga semakin memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta penguatan pelaksanaan reformasi struktural. Pertumbuhan ekonomi global 2018 diperkirakan meningkat dan diikuti dengan kenaikan harga komoditas dunia. Peningkatan pertumbuhan ekonomi global bersumber dari perbaikan ekonomi negara maju dan negara berkembang yang lebih kuat dari perkiraan semula. Di negara maju, pertumbuhan ekonomi AS diprakirakan meningkat ditopang oleh investasi dan konsumsi yang menguat seiring optimisme terhadap reformasi pajak di AS. Sejalan dengan perkembangan tersebut, suku bunga FFR diprakirakan akan kembali meningkat disertai dengan penurunan besaran neraca bank sentral untuk merespons ekspektasi inflasi yang akan meningkat di kisaran targetnya. Ekonomi Eropa juga diprakirakan tumbuh lebih baik, didukung oleh perbaikan ekspor dan konsumsi serta kebijakan moneter yang akomodatif. Pertumbuhan ekonomi Jepang juga direvisi ke atas sejalan dengan perkembangan ekspor yang kuat, implementasi insentif perpajakan untuk perusahaan, dan kebijakan moneter yang masih akomodatif. Sementara itu di negara berkembang, pertumbuhan ekonomi Tiongkok diprakirakan tetap tumbuh tinggi terutama didorong oleh ekspor seiring peningkatan permintaan, khususnya dari negara maju. Ekonomi India diprakirakan mulai pulih seiring dengan hilangnya dampak demonetisasi dan penerapan sistem pajak baru. Prospek pemulihan ekonomi global yang membaik tersebut akan meningkatkan volume perdagangan dunia dan harga komoditas global, termasuk minyak, pada 2018. Perekonomian Indonesia terus menunjukkan kinerja yang membaik dengan struktur yang lebih berimbang. Realisasi pertumbuhan PDB triwulan IV 2017 yang membaik menjadi 5,19% (yoy) dari 5,06% (yoy) pada triwulan sebelumnya menunjukkan terus berlangsungnya proses pemulihan ekonomi domestik. Perbaikan pertumbuhan ekonomi tersebut juga didukung struktur yang lebih kuat dengan investasi dan ekspor sebagai sumber utama pertumbuhan. Investasi tumbuh cukup tinggi 7,27% (yoy) didorong kenaikan investasi bangunan sejalan berlanjutnya pembangunan infrastruktur dan meningkatnya investasi nonbangunan sebagai antisipasi peningkatan permintaan ke depan. Sementara, ekspor tumbuh cukup tinggi 8,5% (yoy) dipengaruhi dampak positif pemulihan ekonomi dunia dan peningkatan harga komoditas. Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga didorong oleh akselerasi belanja pemerintah di tengah cukup stabilnya konsumsi rumah tangga yang didukung inflasi yang terkendali. Di sisi lapangan usaha (LU), berlanjutnya pemulihan ekonomi terutama didorong peningkatan kinerja LU Konstruksi, LU Transportasi dan Pergudangan, serta LU Informasi dan Komunikasi. Sementara itu, kinerja LU Industri Pengolahan secara keseluruhan masih terbatas meski kinerja sejumlah industri telah mulai meningkat seperti industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian jadi, dan industri logam dasar. Di sisi spasial, ekonomi Sulawesi, Maluku, dan Papua tumbuh meningkat di tengah pertumbuhan ekonomi di Jawa, Kalimantan dan Balinusra yang melambat dan pertumbuhan ekonomi Sumatera yang stabil. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan 2017 mencapai 5,07% (yoy), tertinggi dalam empat tahun terakhir. Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi 2018 berada pada kisaran 5,1-5,5%. Pertumbuhan ekonomi tersebut akan didukung oleh investasi seiring dengan berlanjutnya proyek infrastruktur dan terus meningkatnya investasi nonbangunan termasuk investasi swasta, khususnya mesin dan perlengkapan. Selain itu, ekspor diprakirakan tetap tumbuh cukup tinggi seiring dengan berlanjutnya pemulihan ekonomi dunia dan harga komoditas yang tetap tinggi. Neraca Pembayaran Indonesia kembali surplus dengan defisit transaksi berjalan yang tetap terkendali. Surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan IV 2017 didukung oleh surplus Transaksi Modal dan Finansial (TMF) yang cukup besar dan defisit transaksi berjalan (TB) yang terkendali. Kinerja positif TMF terutama bersumber dari surplus investasi langsung dan investasi portofolio. Di sisi lain, defisit TB triwulan IV 2017 didorong oleh surplus neraca perdagangan barang yang menurun dan defisit neraca jasa yang meningkat. Dengan perkembangan tersebut, kinerja NPI untuk keseluruhan 2017 mencatat surplus 11,6 miliar dolar AS didukung oleh surplus TMF yang lebih besar dari tahun sebelumnya dan defisit transaksi berjalan yang menurun menjadi 1,7% dari PDB. Sejalan dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2017 meningkat menjadi 130,2 miliar dolar AS. Pada Januari 2018 neraca perdagangan mencatat defisit sebesar 0,68 miliar dolar AS, namun disertai dengan aliran masuk modal asing yang cukup tinggi. Posisi cadangan devisa kembali meningkat pada Januari 2018 menjadi 132,0 miliar dolar AS, tertinggi yang pernah dicapai Indonesia. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 8,5 bulan impor atau 8,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Ke depan, defisit transaksi berjalan pada 2018 diperkirakan masih tetap terkendali dalam batas yang aman meskipun meningkat menjadi 2,0-2,5% dari PDB, sejalan dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi domestik. Nilai tukar rupiah bergerak menguat pada Januari 2018 setelah sempat mengalami tekanan pada triwulan IV 2017. Pada triwulan IV 2017, secara rata-rata harian rupiah melemah sebesar 1,51% menjadi Rp13.537 per dolar AS. Namun, rupiah kembali menguat sebesar 1,36% menjadi Rp13.378 per dolar AS pada bulan Januari 2018. Penguatan ini didorong oleh aliran modal asing yang kembali masuk sejalan dengan persepsi positif investor terhadap perekonomian domestik dan penguatan mata uang kawasan. Pada awal Februari 2018, meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global khususnya terkait dengan ekspektasi kenaikan FFR yang lebih tinggi dari perkiraan memberikan tekanan pada mata uang global, termasuk rupiah. Bank Indonesia akan terus mewaspadai meningkatnya risiko ketidakpastian pasar keuangan global dan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar agar sesuai dengan nilai fundamentalnya dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar. Inflasi pada Januari 2018 tetap terkendali dalam kisaran sasaran. Inflasi IHK Januari 2018 tercatat 0,62% (mtm), menurun dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,71% (mtm). Secara tahunan, inflasi IHK tercatat 3,25% (yoy) atau berada dalam kisaran sasaran inflasi 2018 sebesar 3,5±1% (yoy). Terkendalinya inflasi dipengaruhi oleh tetap terkelolanya inflasi inti sejalan dengan konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengarahkan ekspektasi inflasi. Di samping itu, terkendalinya inflasi juga bersumber dari administered prices yang deflasi seiring normalisasi tarif angkutan setelah musim liburan. Namun, inflasi volatile food meningkat terutama disebabkan oleh kenaikan harga beras. Ke depan, inflasi diperkirakan tetap berada pada sasaran inflasi 2018, yaitu 3,5±1% (yoy). Koordinasi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi akan terus diperkuat, antara lain sebagai antisipasi risiko meningkatnya tekanan inflasi, khususnya yang bersumber dari volatile food. Kondisi sistem keuangan tetap stabil di tengah intermediasi perbankan yang belum kuat. Terjaganya stabilitas sistem keuangan tercermin pada rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan yang cukup tinggi mencapai 23,0% dan rasio likuiditas (AL/DPK) sebesar 21,5% pada Desember 2017. Sementara itu, sejalan dengan upaya penguatan manajemen risiko kredit perbankan yang baik, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) menurun menjadi 2,6% (gross) atau 1,2% (net) pada akhir 2017. Transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial melalui jalur suku bunga terus berlangsung. Selama periode Januari-Desember 2017, suku bunga deposito dan kredit terus menurun masing-masing sebesar 65 bps dan 74 bps. Meski demikian, transmisi melalui jalur kredit masih belum optimal sejalan dengan permintaan kredit yang belum tinggi dan perilaku bank yang masih selektif dalam memberikan kredit baru. Pertumbuhan kredit 2017 tercatat sebesar 8,2% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 7,9% (yoy). Di tengah pertumbuhan kredit yang masih terbatas, pembiayaan ekonomi melalui pasar modal, seperti penerbitan saham (IPO dan rights issue), obligasi korporasi, dan medium term notes (MTN) terus mengalami peningkatan sebesar 29,8% pada 2017, sejalan dengan program pendalaman pasar keuangan. Sementara itu, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada 2017 tercatat 9,4% (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 9,6% (yoy). Dengan perbaikan ekonomi dan kemajuan program konsolidasi korporasi dan perbankan, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan Kredit dan DPK akan lebih baik pada 2018, masing-masing dalam kisaran 10,0-12,0% (yoy) dan 9,0-11,0% (yoy). Ke depan, dalam rangka mengoptimalkan transmisi kebijakan moneter dan makroprudensial, Bank Indonesia akan terus berkoordinasi dengan otoritas terkait.

Seiring dengan peningkatan aktivitas ekonomi domestik, neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2018 mencatat defisit sebesar 0,68 miliar dolar AS. Defisit tersebut disebabkan oleh penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas yang lebih besar dibandingkan dengan penurunan defisit neraca perdagangan migas. Surplus neraca perdagangan nonmigas pada Januari 2018 tercatat 0,18 miliar dolar AS, lebih rendah dibandingkan dengan surplus bulan sebelumnya yang mencapai 0,83 miliar dolar AS. Lebih rendahnya surplus neraca perdagangan nonmigas tersebut dipengaruhi oleh peningkatan impor nonmigas sebesar 0,46 miliar dolar AS (mtm) yang disertai dengan penurunan ekspor nonmigas sebesar 0,19 miliar dollar AS (mtm). Peningkatan impor nonmigas terutama bersumber dari kenaikan impor mesin dan pesawat listrik, plastik dan barang dari plastik, kendaraan dan bagiannya, bahan kimia organik, serta senjata dan amunisi. Sementara itu, penurunan ekspor nonmigas terutama disebabkan oleh turunnya ekspor lemak dan minyak hewan/nabati, besi dan baja, timah, bijih, kerak, dan abu logam, serta nikel. Di sisi lain, defisit neraca perdagangan migas menurun seiring penurunan impor yang lebih besar dibandingkan dengan penurunan ekspor. Defisit neraca perdagangan migas turun dari 1,05 miliar dolar AS pada Desember 2017 menjadi 0,86 miliar dolar AS pada Januari 2018. Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh turunnya impor migas sebesar 0,42 miliar dolar AS (mtm) yang terjadi baik pada impor minyak mentah, hasil minyak, maupun gas. Sementara itu pada periode yang sama, ekspor migas juga tercatat turun sebesar 0,22 miliar dolar AS (mtm). Bank Indonesia memandang defisit neraca perdagangan tersebut tidak terlepas dari peningkatan kegiatan produksi dan investasi, sejalan dengan membaiknya prospek perekonomian domestik, serta pengaruh kenaikan harga barang impor. Ke depan, kinerja neraca perdagangan diperkirakan membaik seiring berlanjutnya pemulihan ekonomi dunia dan harga komoditas global yang tetap tinggi. Perkembangan tersebut akan mendukung perbaikan prospek pertumbuhan ekonomi dan kinerja transaksi berjalan.

Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada perdagangan Kamis ditutup turun –0,1976poin di level 244,6262. Pelemahan juga terjadi pda kedua indeks return lainnya, yakni INDOBeXG-Total Return (obligasi pemerintah) yang turun –0,2159poin ke level 241,6645, dan INDOBeXC-Total Return (obligasi korporasi) yakni –0,0618poin ke level 255,8731. Kurva IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) bergerak bearish dengan rata-rata yield pada seluruh tenor (1-30tahun) naik +0,97bps. Rata-rata yield kelompok tenor pendek (<5tahun) naik paling tinggi sebesar +2,48bps. Sementara rata-rata yield kelompok tenor panjang (>7tahun) dan menengah (5-7tahun) naik masing-masing sebesar +0,80bps dan +0,22bps. INDOBeXG-Effective Yield pada penutupan Kamis kemarin naik +0,0164poin ke level 6,4356. Koreksi harga berlanjut mewarnai keempat seri SUN benchmark dengan rata-rata turun –18,78bps. Pelemahan harga terbesar dicatatkan seri FR0075 yakni –36,49bps. Sedangkan pelemahan harga terendah terjadi pada seri FR0065 (–10,59bps). Koreksi harga juga tampak mendominasi mayoritas harga SBN tipe FR dan ORI dengan rata-rata turun –11,85bps. INDOBeXG-Clean Price Kamis kemarin ditutup turun ke level 119,1937 (-0,11%). Pasar sekunder obligasi kemarin Kamis lebih meningkat dibanding sesi Rabu dari sisi total volume yakni naik +34,47% menjadi Rp14,22tn dari sebelumnya Rp10,58tn. Ditengah kenaikan total volume, total frekuensi turun tipis sebesar –0,64% menjadi 780 kali dari sebelumnya 785 kali. Pola yang sama juga terjadi pada transaksi SUN benchmark Kamis kemarin dimana total volumenya naik sebesar +65,67% menjadi Rp5,16tn dan total frekuensinya turun –12,81% menjadi 320 transaksi. FR0075 menjadi seri SBN yang paling banyak ditransaksikan Kamis kemarin yakni 183 kali, dan sekaligus mencatatkan total volume terbesar yakni Rp2,86tn. Untuk obligasi korporasi, seri BBTN01CN1 menjadi yang teraktif dengan 11 transaksi (volume Rp35miliar). Menutup perdagangan sesi kedua pada Kamis pekan lalu, pasar obligasi domestik belum sanggup keluar dari tekanan. Ditengah ekspektasi kenaikan FFR yang bisa saja lebih agresif paska rilis inflasi AS yang juga naik melebihi ekspektasi, data dari domestik belum mampu meredakan tekanan di pasar. Pada Kamis kemarin, BPS telah merilis neraca perdagangan Januari yang justru defisit sebesar US$670juta atau merupakan defisit 2 kali beruntun sejak Desember 2017. Kondisi tersebut diperkirakan semakin menambah tekanan dan peningkatan ekspektasi risiko di pasar. Tercermin dari meningkatnya imbal hasil seluruh tenor obligasi negara dan melebarnya nilai Credit Default Swap (CDS) obligasi Indonesia tenor 5-tahun yang naik ke level 88,31bps (+0,64bps). Pada perdagangan sesi Senin pekan ini, pasar obligasi domestik diperkirakan cenderung bergerak sideways seiring hari libur nasional pada negara Tiongkok dan Amerika Serikat, serta belum adanya sentimen dominan lanjutan dari domestik.

EKONOMI GLOBAL

 

Di awal pekan ini, dolar berpotensi menguat kembali setelah pada hari Jumat mendapatkan katalis positif dari optimisnya data perumahanan AS yang kembali memperkuat spekulasi untuk adanya kenaikan suku bunga AS di bulan Maret nanti, walapun adanya dugaan bahwa AS sengaja melemahkan mata uangnnya untuk mendapatkan keuntungan dalam perdagangan global di tengah negara-negara maju lainnya sudah mulai memangkas pelonggaran moneter mereka. Dengan minimnya data ekonomi hari ini, untuk fokus investor mungkin akan tertuju pada data neraca perdagangan Jepang dan neraca berjalan zona Euro yang masing-masing dirilis pukul 06:50 WIB dan 16:00 WIB.

Potensi Pergerakan

Emas

Harga emas berpotensi untuk melemah dalam jangka pendek seiring menguatnya dolar karena spekulasi kenaikan suku bunga AS di bulan Maret dan pulihnya minat investor terhadap aset beresiko seperti ekuitas dengan menguji level support di $1341. Untuk target level resisten terdekat di $1355.

Minyak

Adanya pertambahan dalam jumlah pengeboran rig AS dalam laporan Baker Hughes di akhir pekan lalu berpotensi kembali meningkatkan kekhawatiran atas tingginya produksi AS yang dapat mendorong penurunan menguji support di $61.00.

EURUSD

Sentimen penguatan dolar serta adanya pernyataan dovish dari ECB Coeure yang mengatakan bahwa ECB tidak akan naikan suku bunga sebelum berakhirnya pembelian obligasi dapat menjadi katalis negatif pergerakan EURUSD pada hari ini dengan menguji level support terdekat di 1.2380. Fokus data hari ini neraca berjalan dan pertemuan zona Euro serta laporan bulanan Bundesbank.

GBPUSD

Potensi pergerakan GBPUSD dapat melemah pada hari ini dengan investor mengkhawatirkan data ekonomi Inggris yang pesimis akhir-akhir ini serta sentimen menguatnya dolar AS dengan potensi support terlihat di 1.4000.

USDJPY

Data perdagangan Jepang yang dirilis optimis berpotensi menopang penurunan USDJPY seiring meningkatnya permintaan terhadap aset haven yen di tengah belum adanya intervensi dari pemerintah dari penguatan yen akhir -akhir ini dengan menguji level support di 105.50.

AUDUSD

Pernyataan Gubernur RBA Philip Lowe pada akhir pekan lalu yang mengatakan bahwa bank sentral menyukai Aussie yang lemah berpotensi dorong penurunan AUDUSD pada hari ini di tengah sedang solidnya pergerakan greenback karena outlook kenaikan suku bunga AS dengan target support terlihat di 0.7870.

Berikut Indikator Ekonomi Indonesia yang kami update pada Kamis 15/02/2018 pukul 11.21 WIB:

Source: bloomberg/ afp/ xinhua/ bi/ ojk/ kemenkeu/ bps/ reuters/ antara/ ibpa/ kontan/ bisnis/ wartaekonomi/ investordaily/ bbc/ kompas/ liputan6

Divisi Treasury dan International – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah

Perhatian: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, termasuk direksi dan karyawan tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat di dalam dokumen ini oleh penerima informasi dan akan membebaskan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dari tuntutan atau upaya hukum apapun yang diakibatkannya.

Leave a Comment